|
Page 11 of 24
Rang Salo tingga di Salonyo, Rami galanggang Ampek Angkek Nan kayo tingga di kayonyo, Nan bansaik maansua basilambek. Artinya:
Orang Salo tinggal di Salo, Ramai gelanggang Ampat Angkat. Yang kaya tinggal dikayanya, Yang miskin bergerak lambat-lambat. Arti sampiran : Salo adalah nama sebuah desa , demikian juga dengan Ampek Angkek, yang ternal dahulu dengan berasnya yang sangat enak. Jauh lebih enak dari beras Solok yang diabadikan dalam sebuah lagu Minang. Akan tetapi sebagai akibat dari modernisasi pertanian, kedua jenis beras enak itu sudah sulit didapatkan. Sudah berapa ratus jenis padi unggul baru yang disebarkan kepada petani, hasil persilangan buatan, akan tyetapi tidak ada satupun yang rasanya seenak beras Ampek Angkek, setidaknya menurut selera orang Minang. Ampek Angkek / Canduang juga terkenal dari zaman Belanda dulu sebagai pencetak alim ulama terkenal pada sebuah pesantren yang ada disitu. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Bukittinggi, dikaki gunung Singgalang. Dalam sampiran pantun ini dikatakan bahwa orang Salo tetap tinggal di Slo, sementara di Ampek Angkek sedang ada gelanggang yang ramai pengunjungnya.Antara kedua informasi ini tidak ada hubungannya, hanya sekedar untuk mencari kesamaan bunyi dengan isi pantun.
Tafsir isi pantun : Menyatakan perbedaan antara orang yang kaya dengan orang yang miskin. Disini digambarkan bahwa orang kaya itu merupakan kelompok tersendiri, yang tidak ada hubungannya dengan orang miskin. Sementara orang miskin tetap berusaha secara pelan-pelan sesuai dengan kemampuannya untuk juga menjadi orang kaya. Pernyataan ini sepertinya keluar dari orang miskin, yang mengatakan bahwa orang kaya itu biarkan sajalah menikmati kekayaannya, tak usah diganggu atau dimintai pertolongan. Sedangkan orang miskin harus berusaha terus meningkatkan taraf hidupnya sesuai kemampuan, dan satu masa nanti diharapkan jadi orang kaya juga. Fenomena ini sebenarnya adalah merupakan suatu yang tidak diharapkan terjadi dimasyarakat, apalagi masyarakat yang Islami. Orang Islam itu bersaudara hendaklah saling tolong menolong. Orang kaya mestinya akan membantu yang miskin sesuai dengan kemampuannya. Akan tetapi disini terkandung masalah gengsi yang tinggi bagi orang Minang. Walaupun dia miskin, namun dia gengsi untuk minta bantuan kepada orang kaya. Biarkan sajalah orang kaya itu dikayanya, dia juga berusaha untuk menjadi kaya , walaupun itu akan dicapainya dengan pelan-pelan. Malah keberadan orang kaya itu, dijadikan cemeti oleh simiskin, untuk bekerja keras. Kalau orang lain bisa menjadi kaya, mengapa dia tidak bisa. Ini menunjukkan suatu sifat yang dinamis produktif, tidak pessimis dan konsumptif seperti sifat kebanyakan kaum minta-minta.
|