Tafsir Pantun Minang (3) : Pantun Parasaian PDF Print E-mail
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati   
Friday, 06 January 2006
Article Index
Tafsir Pantun Minang (3) : Pantun Parasaian
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16
Page 17
Page 18
Page 19
Page 20
Page 21
Page 22
Page 23
Page 24


Laka jo dulang dalam lubuak,
Pandan baduri malendo jalan.
Aka hilang paham tatumbuak,
Basarah diri pado Tuhan.

Artinya:

Laka dengan dulang didalam lubuk,
Pandan berduri melenda jalan. Akal hilang paham tertumbuk, Berserah diri pada Tuhan.

Tafsir sampiran :
Laka dan dulang dalam lubuk, maksudnya kedua alat yang berkaitan dengan makanan tersebut ada dalam lubuk. Mungkin sedang dicuci atau dibersihkan sesudah dipakai. Dizaman dulu memang ada kebiasaan mencuci alat-alat disungai, kalau rumahnya tidak terlalu jauh dari sungai. Mandi, mencuci pakaian dan kejambanpun dilakukan disungai itu, pada lokasi dimana airnya agak dalam (lubuk). Pada kalimat kedua dikatakan bahwa pandan berduri melenda jalan, mungkin pandan ini tumbuh disaluran air pinggir jalan, tanahnya subur dan basah, sehingga pandan ini tumbuh merayap sampai kejalan, sedangkan daunnya berduri.

Tafsir isi pantun :
Akal hilang paham tertumbuk, yang biasa dialami orang yang ditimpa berbagai persoalan yang berat yang datang bertubi-tubi. Belum selesai satu masalah sudah datang lagi masalah lain, sehingga dia hilang akal bagaimana untuk menyelesaikannya, tak tahu lagi apa yang akan dikerjakan. Maka pantun ini menasehatkan agar berserah diri kepada Tuhan, sebagai jalan keluar yang paling ampuh untuk menyelesaikan masalah. Setidak-tidaknya dengan demikian kita bisa tenang, perasaan tenang, maka kita tidak akan sampai stress, apalagi berputus asa.
Kalau sudah hilang akal, paham tertumbuk, lupakan keadaan itu sejenak, ingat Allah SWT, istigfar, terus lakukan shalat, pusatkan piliran dalam shalat itu kepada Allah SWT dengan mengerti dan memahami apa yang dibaca. Selesai shalat berzikir dan berdo’a, memohon pertolongan kepada Allah SWT untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Ini merupakan satu bukti lagi bahwa adat Minang itu bersendi syarak.



Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
 
< Prev   Next >




Powered By PageCache
Generated in 0.04275 Seconds