Tafsir Pantun Minang (3) : Pantun Parasaian PDF Print E-mail
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati   
Friday, 06 January 2006
Article Index
Tafsir Pantun Minang (3) : Pantun Parasaian
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16
Page 17
Page 18
Page 19
Page 20
Page 21
Page 22
Page 23
Page 24


Kapulau kito kapulau,
Kapulau manjarieng udang.
Samaso iduik dapek bagurau,
Kok alah mati tabarieng surang.

Artinya:

Kepulau kita kepulau,
Kepulau menjaring udang. Semasa hidup dapat bergurau, Kalau sudah mati terbaring surang.

Tafsir sampiran :
Kapulau kito kapulau, kapulau menjaring udang, adalah merupakan suatu ajakan untuk pergi beramai-ramai kepulau, dengan tujuan untuk menangkap udang. Ini adalah satu kebiasaan masyarakat yang berdomisili ditepi pantai, yang gemar menagkap udang dan pergi berlayar kepulau-pulau terdekat. Jadi pantun ini di buat oleh masyarakat pesisir, mungkin oleh orang Tiku, orang Pariaman, Batangkapeh, Surantieh, Painan atau Balai Selasa, yang ransangan seninya terpancing dengan adanya laut dan pulau-pulau kecil ditengah laut itu. Kecil kemungkinan pantun ini dibuat oleh orang Padang, walaupun kota Padang itu terletak ditepi pantai. Sebab Padang itu sudah kota besar, semua orang sibuk, asosiasinya lebih didominasi oleh hal-hal yang terkait dengan materi. Juga sangat kecil kemungkinan pantun ini berasal dari daerah “darek” (Bukittinggi, Payakumbuh, Padangpanjang , Batusangkar dan sekitarnya), karena didaerah ini tidak ada laut dan tidak ada pulau-pulau.

Tafsir isi pantun :
Isi dari pantun ini menerangkan dan membandingkan kehidupan didunia ini dengan apabila kita telah mati kelak. Dikatakan bahwa semasa hidup didunia ini dapat bergurau, sedangkan apabila telah mati kelak, tak ada lagi teman tempat bergurau, hanya terbaring sendirian didalam kubur. Sasaran dari pantun ini lebih terarah kepada ajakan untuk memikirkan bagaimana kita nanti kalau sudah mati. Selama masih hiudup didunia ini ada isteri , ada anak, cucu, teman dan sebagainya. Dengan mereka kita dapat bersendagurau, bertukar pikiran, saling tolong menolong, berdiskusi dan sebagainya. Diantara mereka itu ada yang sangat sayang kepada kita, sangat menghormati kita, akan tetapi tidak seorangpun diantara mereka yang mau ikut dengan kita dikubur bersama apabila kita telah mati.
Memang ada kata-kata mutiara yang suda dijanjikan oleh sepasang kekasih yang sedang bercintaan, yaitu janji untuk sehidup semati. Akan tetapi itu hanya sekedar ucapan dimulut saja, tidak sampai kehati dan tidak akan dilaksanakan oleh siapapun. Paling banter orang akan meratapi kematian seseorang dan mengantarkannya keliang kubur. Setelah selesai segala sesuatunya, maka kubur dan mayat yang terbaring diliang lahat, akan ditimbun dengan tanah, lalu semua orang akan pulang, termasuk isteri/suami tercinta, anak cucu tersayang. Maka tinggallah orang yang mati itu “tabarieng sorang”.
Hal ini adalah suatu kejadian yang biasa terjadi dan pasti terjadi pada semua orang. Firman Allah SWT dalam Kitab Suci Al-Qur’an : “Qullu nafsin zaa ikatul maut.”
Semua yang bernafas akan mati, adalah suatu hal yang muthlak, yang pasti terjadi. Secara tidak langsung pantun diatas, memperingatan bahwa semua yang kita cintai didunia ini akan ditinggalkan semuanya, dan kita akan pergi sendirian kealam barzah dan alam akhirat. Maka dari itu carilah bekal yang akan dapat dibawa keakhirat itu nanti, yang berupa milik sejati, teman sejati yang akan dapat dimanfaatkan dan dapat menemani kita nanti diakhirat. Kalau orang Padang terkenal sebagai perantau, dan dirantau itu dia berusaha sekuat tenaga mengumpulkan harta yang sewaktu-waktu dapat dibawa pulang kampuang, maka kita hidup didunia inipun ibaratnya hidup diperantauan.
Kampung kita yang asli , kekal dan abadi, bukan didunia ini. Carilah, kumpulkanlah bekal sebanyak-banyaknya selagi hidup didunia untuk nanti akan dibawa “pulang kampuang”, bila telah tiba waktunya. Jangan sebaliknya yang dikerjakan, yaitu membuat hutang sebanyak-banyaknya didunia , yang nanti pasti harus dibayar diakhirat.




Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
 
< Prev   Next >




Generated in 9.99807 Seconds