|
Mendalami Peristiwa Situjuh (1) |
|
|
|
|
Written by admin
|
|
Thursday, 19 January 2006 |
|
* Berawal Dari Penyerangan Belanda Untuk mengungkap fakta sejarah, memang membutuhkan penelusuran yang serius. Banyak peristiwa sejarah kita yang seharusnya tercatat dalam lembaran perjuangan bangsa mengendap dalam kenangan pelakunya saja. Padahal, fakta sejarah ini sangat penting artinya, bukan saja untuk kepentingan Sumatera Barat, tapi juga Indonesia Menurut Ketua Jurusan Sosiologi dan Antropologi UNP, Emizal Amri.
Â
Kebenaran sejarah mesti diungkapkan, agar generasi muda memiliki kebanggaan dan dapat mewarisi nilai-nilai heroisme para pahlawannya. Ingat, Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya.
Salah satu peristiwa sejarah Sumatera Barat yang masih terlupakan adalah peristiwa Situjuah. Peristiwa yang terjadi saat agresi Belanda kedua tersebut telah menyebabkan gugurnya pejuang bangsa ini. Peristiwa tersebut di awali dengan penyerangan Belanda ke Koto Tinggi pada tanggal 10 Januari 1949. Setelah penyerangan tersebut para tokoh perjuangan mengadakan rapat untuk mengatur strategi mengusir Belanda. Perjuangan ini adalah untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Rapat tersebut dirancang pada sebuah surau kecil di lurah Kincir, Situjuah Batur, Payakumbuh. Rapat ini dipimpin oleh Ketua Laskar Pertahanan Sumatera Tengah, Khatib Sulaiman pada malam tanggal 14 Januari 1949. Nama Khatib Sulaiman ini akhirnya diabadikan menjadi sebuah jalan di Belanti. Rapat yang berlangsung sampai pagi ini akhirnya menghasilkan keputusan penting dan rahasia. Setelah rapat tersebut para pejuang beristirahat menunggu Shalat Subuh dan sebahagian lagi berencana pulang ke rumahnya. Namun pada pagi harinya sekitar pukul enam, Belanda secara tiba-tiba menggempur dari atas tebing. Sehingga banyak membuat pejuang gugur, diantaranya Arisun St Alamsyah, Zainuddin Tembak, Tantowi, Ahmad dan masih banyak lagi. Termasuk Khatib Sulaiman Sendiri. Penyerangan ini terjadi sangat tiba-tiba dan terlihat tidak wajar, karena penyerangan tersebut setelah beberapa orang peserta rapat pulang menjelang subuh. Sedangkan penyerangannya sendiri terjadi setelah Shalat Subuh. Hal ini membuat beragam opini di masyarakat. Ada yang menyatakan bahwa telah ada pengkhianat diantara mereka yang telah membocorkan hasil rapat tersebut. Dan terjadilah saling tuduh dan saling membela diri. Tuduhan pengkhianatan akhirnya banyak tertuju pada seorang yang bernama Tambiluak. Namun setelah diteliti akhirnya terdapat dua wacana yang berkembang di masyarakat. Versi pertama menyebutkan bahwa Tambiluak benar adanya sebagai pengkhianat bangsa yang telah membocorkan keputusan rapat tersebut kepada Belanda. Sedangkan versi kedua menyebutkan bahwa Tambiluak adalah orang yang dikorbankan.
bersambung Sumber : www.padangekspress.com
Trackback(0)
|
|
Last Updated ( Thursday, 19 January 2006 )
|