|
Pituah |
Bakati samo barek Maukue samo panjang Tibo di mato indak dipiciangkan Tibo di paruik indak dikampihkan Tibo didado indak dibusuangkan |
|
|
Written by Admin
|
|
Saturday, 21 January 2006 |
|
Pelaminan adalah tempat kedudukan orang besar seperti raja-raja dan penghulu. Pada masa dahulu hanya dipakai pada rumah adat namun sekarang juga dipakai pada pesta perkawinan. Hal ini mungkin disebabkan marapulai dan anak dara sebagai raja dan ratu sehari. Perangkatan pelaminan mempunyai kaitan dengan hidup dan kehidupan masyarakat adat Minangkabau. Dahulu memasang pelaminan pada sebuah rumah harus dengan seizin penghulu adat dan harus memenuhi ketentuan-ketentuan adat yang berlaku.
Pelaminan mempunyai bahagian-bahagian dan semuanya saling melengkapi.
1. Layang-layang Layang-layang adalah selembar kain penutup loteng ( pagu). Pada layang-layang ini digantungkan tirai lidah-lidah (tirai pecah).
2. Tirai langik-langik (Tirai langit-langit) Bentuk tirai langit-langit empat persegi seperti kotak tertelungkup. Tirai langit-langit ini mempunyai jurai-jurai pada pinggirnya dan dihiasi dengan berbagai motif sulaman.
3. Tirai Balingka (Tirai berlingkar) Tirai baligka ini bahannya berbagai ragam, ada yang halus dan kasar. Warnanya hitam, kuning merah dan disela oleh warna lainnya. Kecorakragaman warna ini melambangkan kecorak ragaman masyarakat Minangkabau.
4. Lida-lida (Lidah-lidah) Lidah-lidah bentuknya seperti dasi. Bahannya dari kain dan berbagai ragam. Ada yang bersulam benang emas, ada yang bertabur bintang dan ada yang pakai kaca gemerlapan. Kesemuanya mengandung makna mawas diri.
5. Angkin Angkin main-mainan yang menyela lidah-lidah. Angkin bahannya dari beludru atau satin. Angkin berhiaskan manik-manikan api-api yang bermotifkan flora dan fauna. Angkin sebagai lambang kebahagiaan dan kesejahteraan.
6. Tabie (Tabir) Tabir adalah kain dinding dengan berbagai warna. Tabir mempunyai warna dasar hitam, kuning dan merah. Ditengahnya ditata dengan bermacam warna kain yang membujur dan membelintang. Tata warna yang menarik bermakna keragaman dalam alur dan patut.
7. Kalambu (Kelambu) Kelambu terdiri dari dua helai kain yang digandeng dan bersibak di tengah. Dasarnya beledru sutera, satin dll. Motif sulaman kelambu berupa flora dan fauna. Kelambu berfungsi sebagai sebagai layar masuk ke tempat ketiduran dan peristirahatan. Kelambu pelaminan sampai tujuh lapis yang mempunyai makna bahwa untuk menuju dan mendaparkan yang baik melalui berbagai lapis rintangan dan hambatan.
8. Lalansie (Lelansir) Lelansir mempunyai dasar yang sama dengan dasar kelambu. Lelansir lebih kecil dari kelambu. Lelansir mempunyai kepala dan diikat pada pertengahannya dan terletak pada bahagian muka kelambu. Lelansir juga bersulam dan bertabur bintang gemerlapan. Fungsinya disamping hiasan juga bermakna syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk sampai ke dalam bilik.
9. Kain Balapiah (Kain Berjalin) Kain berjalin terbuat dari kain dasar yang berwarna hitam, kuning dan merah. Kain berjalin bermakna "buhua arek ganggamlah tagueh, ikara janji ditapati, tali nan tigo sapilin, tungku nan tigo sajarangan". Makna segala sesuatu yang telah diikrarkan harus dilaksanakan dan dipegang teguh ikrar tersebut, dan apabila berjanji harus ditepati dan jangan diingkari. Berpilin tiga melambangkan kesatuan tiga unsur dalam masyarakat yaitu ninik mamak, alim ulama dan cerdik pandai. Adakalanya kain berpilin ini empat, yang melambangkan orang ampek jinih (empat jenis), yang terdiri dari penghulu, Manti dan Malin, Dubalang.
10. Tonggak Katorok (Tiang katorok) Tongak katorok terbuat dari tiang buluh atau talang dan dibungkus dengan kain. Tonggak katorok ini dibalut secara teratur dengan jarak lebih kurang 12 cm. Akibatnya kain yang tidak terikat akan membentuk labu-labu atau gelombang-gelombang yang teratur pula. Tongkat katorok untuk pengapit kain berjalin, dengan pengertian bahwa untuk mencari kata mufakat tidak cukup satu kali pertemuan saja.
11. Samie (Seprai) Samie adalah semacam seprai yang terletak dibalik kelambu pada bahagian bawah. Samie ini bersulam benang emas dan bertabur bintang serta bermotifkan flora dan fauna. Samie ini sebagai gambaran dari kehidupan kamar yang indah dan selalu di dalam alur dan patut.
12. Garedeng Garedeng adalah sehelai kain yang terdiri dari dua warna yang saling berbeda bahagian atas dan bahagian bawah. Gredeng ini bersulaman indah yang gemerlapan dan bertabur bintang. Fungsi garedeng sama dengan Samie.
13. Pancuang dan Galuang (Pancung dan galung) Pancung dan galung merupakan identitas pelaminan pesisir, karena tidak terdapat di Luhak Nan Tigo. Pancung dan galung membuatnya seperti pembuatan kain berpilin. Pancung dan galung untuk menyatakan martabat dan besarnya upacara.
14. Banta Gadang (Bantal Besar) atau bantal Sarago Bantal besar merupakan segi empat yang berdempet dengan segi tiga diatasnya. Bantal besar ini berbagai pula coraknya, ada yang segi empat dan ada pula yang datar diatasnya. Bantal besar ini tanda kebesaran dan fungsi sipemakainya. Fungsi lain dari bantal besar ini sebagai penyimpan pakaian dan benda perhiasan.
15. Banta Kopek (Bantal kopek) Bantal kopek ialah bantal yang disusun diatas kasur kedudukan yang terletak diantara bantal besar diatas. Jumlah susunan bantal kopek ini menunjukkan tinggi rendahnya martabat yang memakainya. Jumlah susunan bantal kopek yang tinggi 12 buah. Bantal kopek pada kepalanya dibuat ukiran yang disulam benang emas atau loyang berkarang. Sekarang ada yang berukiran emas berlapis.
16. Karamalai Karamalai atau rambai-rambai dibuat dari umbut gabus atau dari hati pelepah rumbia. Hati pelepah rumbia ini dipotong-potong merupakan bola bundar dan kemudian ditusuk menjadi hiasan pelaminan yang merangkaikan lidah-lidah dengan angkin. Karamalai merupakan refleksi dari rasa persatuan dan kaitan kerabat yang tidak putus.
17. Main-main Opok Opok berupa main bundar berjurai dengan sulaman manik atau emas. Opok diapit oleh sabit yang terbuat dari logam yang berlukis ular atau naga. Pengertiannya sebagai peringatan bahwa untuk masuk kedalam anjungan atau tempat terhormat dan agung dijaga oleh serba tajam dan berbisa.
18. Sarang camin (Sarang cermin) Sarang cermin merupakan ciri khas pelaminan Padang dan Pesisir. Sarang camin dipasang pada bagian atas pada bagian ujung pangkal garedeng. Ini sebagian pernyataan bahwa yang punya pelaminan adalah raja-raja dan orang terpandang dalam masyarakat.
Menurut cerita pada masa dahulu pada sarang cermin dipasang gambar Tuanku Yang Dipertuan. Disambah atau Tuan Panglima Regen Padang. Kemudian setelah Regen tidak berkuasa lagi maka gambarnya dihilangkan dan diganti dengan bingkai kaca yang dihias dengan kertas dan dengan kertas dan dengan bermacam-macam variasi sehingga perhiasannya dan keindahannya tetap terpelihara.
(Sumber : Sejarah dan Budaya Adat Minangkabau)
Â
Trackback(0)
|
|
|
Yayasan Palanta Cimbuak |
 Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko |
|
Donasi Terakhir |

| Dari | Jumlah | | Harmailis | Rp. 200.007,-- | | Ajo Duta / Mak Uncu | Rp. 1.000.000,-- | | Inyiak Jangkuang | Rp. 56.789,-- | | Dave, Melbourne | Rp. 300.000,-- | Balance Sementara
| Rp. 1.116.796,-- | |
|
Online Sekarang |
|
We have 15 guests and 13 members online |
|