Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Advertisement
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Malompek samo patah
Manyaruduak samo bungkuak
Tatungkuik samo makan tanah
Tatalantang samo minum aie
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Suratkabar Minang : Konfigurasi pemikiran yang menakjubkan. PDF Print E-mail
Written by KHAIRUL JASMI   
Wednesday, 15 February 2006
PERS Sumatra Barat adalah pers yang relatif tua. Pada 1859, atau 25 tahun seusai Perang Paderi, perang yang melibatkan orang Minang melawan Belanda, terbit suratkabar bernama Sumatera Courant di Padang. Meski suratkabar ini lahir sebelum abad XX, tapi dinamika persuratkabaran di sana baru terasa pada awal abad XX hingga menjelang kemerdekaan Indonesia.

Sejumlah nama penting dalam dunia jurnalisme masa itu antara lain: Mahyuddin Datoek Soetan Maharadja, Rohana Kudus, Sa'adah Alim, Abdullah Achmad, dan Adinegoro serta Hamka pada generasi berikutnya. Tercatat pula nama yang tak kalah pentingnya, Achmad Chatib, pemilik suratkabar Djago Djago dan Pemandangan Islam.

Sejak 1859 sampai kemerdekaan, tercatat 81 penerbitan di Minangkabau. Sejak kemerdekaan hingga kini tercatat 41 suratkabar, termasuk 23 yang terbit setelah jatuhnya presiden Soeharto. Daftar panjang suratkabar ini jadi bukti sejarah bahwa Minangkabau telah lama akrab dengan teks dan kata-kata.

Kepiawaian menulis atau mengeluarkan pendapat berpendaran di halaman-halaman suratkabar. Media massa jadi sarana melancarkan perbincangan dan polemik. Mula-mula tentang kebangkitan Asia, Jepang, lalu format masa depan negara. Tak luput juga tentang bagaimana agama Islam seharusnya dipahami dan dijalankan. Pesertanya kaum tua dan muda. Perdebatan agama inilah yang malah berlangsung tajam.

Di masa Datuk Soetan Maharadja yang lebih dikenal dengan sebutan Datuk Bangkit, Pelita Ketjil mengambil peran yang luas dalam isu tadi. Pelita Ketjil, seperti terbaca dalam buku Propinsi Sumatera Tengah, adalah koran yang terbit pertama kali pada 1882 dan dipimpin H.a. Mess, seorang Belanda Indo, lalu B.A. Dosseau, dan terakhir dipimpin Datuk Soetan Maharadja. Datuk, seperti dicatat B. Schrieke dalam buku Pergolakan Agama di Sumatera Barat, Sebuah Sumbangan Bibliografi (1973), mengarahkan penanya kepada ulama Syekh Achmad Chatib.
"Kita orang Minangkabau harus mengusahakan jangan sampai kita kehilangan kemerdekaan kita dengan menyerahkan diri kepada orang-orang Mekkah. Bukankah negeri Minangkabau yang indah ini dengan wanita-wanitanya yang cantik ini sendiri sudah merupakan taman firdaus dibandingkan dengan Arab yang panas terik, di mana kaum lemah (yang kurang cerdas) secara tepat memakai kudung," tulis Datuk.
Pada saat itu suratkabar Pelita Ketjil memiliki koresponden di Mekkah, yang otomatis mengirimkan berita perkembangan Islam di sana.
Bapak jurnalisme Melayu ini mengkal benar hatinya membaca tulisan Syekh Achmad Chatib, pemimpin redaksi suratkabar Pemandangan Islam dan Djago-Djago, yang menyerang para penganut garis keturunan matriarkat, sesuatu yang lazim di Minangkabau. Syekh Achmad Chatib mengatakan mematuhi hal itu sama halnya dengan mematuhi lembaga-lembaga kafir, yang berasal dari setan, dari Datuk Perpatih nan Sabatang dan Datuk Ketumanggungan (dua tokoh legendaris Minangkabau). Matriarkat tak sesuai dengan ajaran Islam. Karena itu, katanya, seluruh perkawinan yang sudah terjadi di Minangkabau harus diulang. Harta pusaka tinggi, yang tak bisa diperjualbelikan dan diatur menurut garis ibu, yang dikuasai kemenakan harus dikembalikan kepada anak mamaknya. Jika tidak, sama halnya dengan merampas harta anak yatim.
Datuk Soetan Maharadja menulis dan membela kaum adat tak hanya dalam Pelita Ketjil, melainkan kemudian di Warta Berita, suratkabar yang didirikannya pada 1891. Tulisan-tulisannya juga muncul di Oetoesan Melajoe. Itulah contoh perdebatan para pemikir Minangkabau.
Pada 1900, di Padang terbit pula suratkabar Padanger, gabungan Sumatra Courant dan Nieuw Padangsch de Padanger Handelsblad. Setahun sesudahnya, kaum muda, para guru, dan pegawai bumiputra berpendidikan Barat melahirkan sebuah jurnal bernama Insoelinde. Mereka, golongan ini, yakin kemajuan harus dicapai melalui pendidikan modern. Mereka kurang suka pendidikan sekolah agama.
Menurut Taufik Abdullah dalam bukunya, Shcools and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatera (1927-1933), para pengasuh Insoelinde tergila-gila pada prestasi Jepang. Kata kuncinya: kaum muda, sekolah, dan politik. Jurnal ini memiliki koresponden dari seluruh Nusantara. Kebanyakan memuat artikel yang mendesak kemerdekaan Indonesia. Insoelinde juga membedah persoalan harta pusaka tinggi dan harta pusaka rendah, sebuah perdebatan yang hampir satu abad kemudian tetap menarik untuk dilakukan.
Pusaka rendah dalam konsep adat Minangkabau ialah harta pencarian suami-istri yang diwariskan kepada anak-anak mereka. Adapun harta pusaka tinggi berupa harta yang diatur menurut garis keturunan ibu. Harta ini warisan turun-temurun dari nenek moyang sehingga tak boleh diperjualbelikan dan diwariskan kepada kemenakan (keponakan) dari garis ibu.
Berbeda dengan Insoelinde, suratkabar Wasir Hindia serta Bintang Sumatera yang terbit pada 1903 memuat banyak artikel tentang kemajuan Asia terutama Jepang. Pada 1905 terbit pula Sinar Sumatera, disusul Warta Hindia pada 1908.
Oetoesan Melajoe muncul pada 1910, dan pada tahun berikutnya, Soenting Melajoe. Kedua suratkabar ini didirikan Datuk Soetan Maharadja, orang dari Sulit Air itu.
"Chauvinismenya sangat tinggi. Ia selalu membangkitkan semangat keminangkabauan orang Minang. Karena itulah ia digelari Datuk Bangkit," kata Kamardi Rais Datuk P. Simulie dari Persatuan Wartawan Indonesia Sumatra Barat. Datuk Kamardi Rais mengenal Datuk Bangkit lewat tulisan-tulisannya dan "sering bertanya pada yang tua-tua."
Oetoesan Melajoe berusaha membangun rasa bangga masyarakat Minangkabau atas keminangkabauan mereka. Hal ini tercermin dalam moto Oetoesan Melajoe: "Jang Poenja dan Jang Mentjitak Snelpersdrukkerij Orang Alam Minangkabau." Kedekatan hati Datuk Bangkit pada Minangkabau dan Melayu yang terpantul dalam tulisan-tulisannya, mungkin menjadi alasan Ph. S. Van Ronkel –seorang filolog dan pembuat katalog naskah Melayu lama– menggelarinya "Bapak Jurnalis Melayu."
Datuk Bangkit pernah juga terlibat polemik panjang dengan Sa'adah Alim, kelak jadi pemimpin redaksi Suara Perempuan, tentang pergaulan muda-mudi. Sa'adah ingin melihat dunia perempuan sebagai dunia yang tak dikekang terlalu erat. Sa'adah mengeluh betapa sulitnya seorang gadis hendak pacaran di Minangkabau. Datuk berpaham sebaliknya. Alasannya, pacaran itu tak sesuai dengan adat-istiadat. Wanita, apalagi seorang gadis, harus suci sehingga tak boleh bergaul terlalu bebas.
Isi tulisan Datuk Bangkit yang sangat memihak kaum adat membuat Abdullah Achmad, pendiri Yayasan Syarikat Oesaha Adabiah, terilhami menerbitkan suratkabar Al Munir pada 1911. Banyak orang pintar menulis di sana, antara lain Buya Rasul dan Syekh Muhammad Thaib dari Sungayang. Dua ulama ini tak saja menulis bagaimana menjalankan agama secara baik, tapi juga perkembangan pemikiran Islam di dunia.
Pada 1915, Al Munir pindah terbit di Padang Panjang dengan nama baru Al Munirul Mannar. Walau tirasnya kecil, jangkauannya luas sampai ke Malaysia. Ia jadi bacaan wajib kalangan ulama Minangkabau.
Tahun-tahun berikutnya, artikel yang muncul di suratkabar Padang lebih mengarah pada soal politik, khususnya semangat anti-Syarikat Islam. Malahan ada yang sampai pada kesimpulan bahwa Islam tak memerlukan Syarikat Islam lagi, padahal Syarikat Islam partai politik pertama di daerah ini dengan tokoh utamanya Abdul Muis, seorang intelektual muda. Banyak penghulu dan pegawai negeri yang menilai partai politik sebagai perusak otoritas pemerintah dan pendukung adat.
Setelah Padang, Padang Panjang mengambil peranan cukup penting dalam perdebatan agama, komunis, dan pembaharuan Islam. Hal serupa ternyata meluas ke kota-kota lain, seperti Padang Japang, Batusangkar, Sungayang, Maninjau, Parabek, dan Sulit Air.
Perdebatan tersebut melibatkan hampir semua ulama terkenal, sesuatu yang tak pernah lagi terjadi di alam kemerdekaan, berpuluh-puluh tahun kemudian.
Dari sekian banyak media cetak yang terbit pada awal abad ke-20, satu di antaranya media anak-anak Rantai Mas terbitan Indische National School Kayutanam. Empat suratkabar khusus perempuan juga meramaikan dunia persuratkabaran Sumatra ini, masing-masing Soenting Melajoe (1911) di Padang yang dipimpin Ratna Djuita yang akrab disapa Rohana Kudus, Soeara Perempuan (1919) yang dipimpin Sa'adah Alim, Soeara SKIS (Serikat Kaum Ibu Sumatra, 1938) di Padang Panjang yang dipimpin Encik Djusa'ir, serta Soera Poetri di Bukittinggi yang dipimpin Djanewar Djamil dan Sjamsidar Jahja.
Minat baca masyarakat di Sumatra Barat tak hanya tercermin melalui wajah penerbitannya sendiri, tapi juga kiriman buku-buku dari Timur Tengah. Semangat juang yang menggelora pun terlihat dari jumlah pemesan Indonesia Merdeka, suratkabar terbitan Perhimpunan Indonesia di Belanda. Dari 280 pelanggan Indonesia Merdeka di Hindia Belanda pada 1924, pelanggan tertinggi berada di Jawa Tengah sebanyak 68 orang dan Jakarta 45 orang. Sementara Sumatra Barat berada pada urutan ketiga dengan 37 pelanggan, satu-satunya daerah di Indonesia, di luar Jawa, yang mengakrabi media cetak secara menakjubkan.
Sebanyak 10 suratkabar di Padang memakai judul yang memikat dan menggelorakan roh perjuangan, seperti Pelita Ketjil, Djago-Djago, Boeka Mata, Soeloeh Melaju, Bintang Tionghoa, dan Perubahan. Dari 107 suratkabar dan majalah yang diterbitkan kaum terpelajar Indonesia –seperti dicatat B. Schrieke, penasihat pemerintah Belanda urusan bumiputera– suratkabar di Padang dan Semaranglah yang memakai nama-nama bernuansa perjuangan semacam itu.
Sumbangan suratkabar sebelum kemerdekaan terasa bernasnya. Mereka membangun masyarakat yang berpikir, menghargai pendapat, memberi ruang bagi pengembangan ide-ide. Tapi, pada periode berikutnya, mungkin karena medan perjuangan yang juga berbeda, kehadiran suratkabar dan majalah lebih berbicara pada rencana setelah kemerdekaan. Lambat-laun mereka masuk dalam kusut-masainya persoalan bangsa.

Sumber :  Majalah Pantau Tahun II Nomor 022 - Februari 2002 :: halaman 56-59

Trackback(0)
Comments (1)add comment

SjamsirSjarif said:

Sumber yang menarik diterbitkan di Cimbuak. Saya beri tahukan artikel ini di lapau (Rantaunet). Yang agak menarik di sini, paragraf yang meringkaskan pendapat Syekh Achmad Chatib mengenai adat keturunan ibu di Minangkabau.

Mungkinkah karena sikap beliau demikian yang menyebabkan beliau dikenal, dianggap (atau mengaku? sebagai) orang Koto Gadang (karena ayah beliau orang Koto Gadang), pada hal ibu beliau sendiri adalah orang Kototuo Balaigurah, Ampek Angkek?

Banyak sumber-sumber tertulis yang tidak tahu bahwa Ibu beliau dari Kototuo Balaigurah itu. Menurut Adat Minangkabau Kampuang beliau itu sendiri adalah Kototuo Balaigurah, Ampek Angkek, bukan Kotogadang, Ampek Koto (Kampuang Ayah beliau) menurut Adat Arab itu.

Salam,
-- Sjamsir Sjarif
Santa Cruz, California, USA
16 Februari 2006
 
report abuse
vote down
vote up
February 16, 2006
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 6 guests and 14 members online
Generated in 1.82768 Seconds