|
Page 13 of 18
Si-ayuak si-alang tabang, Tarubuak maha balinyo. Tadayuak hati ka nan hilang, Disabuk apo ka gunonyo. Artinya:
Si-ayuk si-alang terbang, Terubuk mahal belinya. Terdayuh hati ke nan hilang. Disebut apalah gunanya. Tafsir sampiran : Siayuak sialang tabang, tarubuak maha balinyo. Ada seekor burung elang yang disebut disini dengan si-ayuak yang sedang terbang. Sedangkan tarubuak adalah sejenis ikan kering yang sangat disukai oleh orang Minang tempo doeloe, atau sekurang-kurangnya oleh orang yang lahir diranah Minang dan sekarang sudah berumur 70-an. Dizaman dulu orang Minang tidak terbiasa dengan terasi, sebagai lauk pelezat makanan.Yang lebih mamasyarakat adalah “maco tarubuak” ( ikan kering dalam bahasa Minang disebut maco). Yang rasanya kira-kira sama dengan terasi. Cuma ikan kering yang bernama tarubuak ini bentuknya masih utuh sebagai ikan, beda dengan terasi yang terdiri dari ikan kering yang sudah dihancurkan dan dibentuk baru. Pemakaian tarubuak yang terkenal adalah untuk campuran sambal lado, samba lado tarubuak adalah teman pemakan nasi yang sangat merangsang selera, bisa banyak menghabiskan nasi dan makannya jadi berkeringat. Selain itu tarubuak juga digunakan untuk campuran gulai berbagai jenis sayuran . Pemakaian ikan tarubuak itu sama dengan terasi, tidak perlu banyak-banyak, sedikit saja sudah terasa.Talam sampiran ini dikatakan bahwa : “tarubuak maha balinyo”, ini merupakan satu petunjuk bagaimana miskinnya masyarakat Minang dizaman dulu.Ikan kering tarubuak saja sudah dianggap mahal untuk dibeli, apalagi kalau mau beli daging, ayam atau ikan segar. Tafsir isi pantun : Tadayuak hati kanan hilang, disabuik apo kagunonyo. Sebuah pantun tentang percintaan yang tidak bahagia. Karena berbagai sebab, seseorang kehilangan kekasihnya, sehingga tinggal seorang diri. Kekasihnya itu mungkin sudah meninggal dunia atau sudah dipersunting oleh orang lain, sehingga tidak mungkin lagi kembali kepadanya. Pada suatu saat dia kembali teringat dengan kekasihnya itu, membayang kembali saat-saat mesra yang pernah mereka alami, dikatakan hatinya “tadayuak” atau terenyuh dan sedih sekali. Namun dia sadar sepenuhnya bahwa yang telah hilang itu tak akan kembali, tak ada kemungkinan akan kembali lagi , lalu apa gunanya diingat , dipikirkan atau disebut-sebut lagi. Pantun ini juga memberikan petunjuk bahwa kalau yang hilang itu sudah tak mungkin kembali lagi, tak ada gunanya dipikirkan lagi. Lebih baik cari saja yang lain untuk penggantinya. Jadi berpikiranlah secara realistis, jangan terlalu dikuasai oleh emosi, belajarlah mengendalikan emosi.
|