|
Page 4 of 18
Rami urang ditangah balai, Rami dek anak urang Tiku. Bia kini kito bacarai, Asalkan nanti kito batamu. Artinya:
Ramai orang ditengah balai (pasar), Ramai oleh anak orang Tiku. Biarlah kini kita bercerai, Asalkan nanti kita bertemu. Tafsir sampiran: Rami urang ditangah balai, rami dek anak urang Tiku: Kata ”balai” dalam bahasa Minang berarti pasar, tempat orang berjual beli. Biasanya ditetapkan hari-hari tertentu satu atau dua kali dalam seminggu sebagai hari balai atau hari pasar. Kalau hari pasar itu hanya satu kali dalam seminggu (sepekan), maka pasar atau balai itu dinamakan “pakan”. Kadang-kadang nama hari yang dijadikan hari pekan itu dijadikan nama kampung dimana pekan itu ada. Misalnya satu desa yang hari pekannya ditetapkan setiap hari Rabu (bahasa Minangnya Raba- a), akan disebut desa “Pakan Raba-a”. Demikian pula dengan desa “Pakan Salasa” adalah desa yang hari pasarnya, atau hari pekannya ditetapkan setiap hari Selasa. Demikian lah ada desa dengan nama Pakan akaik (hari Ahad), Pakan Sinayan (Senin), Pakan Kamih, Pakan Jum’at, dan sebagainya. Dalam sampiran pantun ini dikatakan tentang pasar didesa Tiku, karena pasar itu diramaikan oleh orang Tiku. Disebutkan bahwa orang ramai dipasar itu, Cuma tidak dikatakan pada hari apa pasar tersebut. Tafsir isi pantun : Bia kiniko kito bacarai, asakan nanti kito batamu. Ini juga merupakan kisah dari orang yang sedang berkasih saying yang bercintaan. Ungkapan ini dapat dikatakan oleh sepasang yang masih dalam status berpacaran yang sudah mengikat janji, namun dapat juga diungkapkan oleh pasangan yang sudah berkeluarga. Namun biasanya lebih banyak dikatakan oleh pasangan yang belum mengingat jenjang perkawinan. Dalam sejarahnya ungkapan pantun ini lebih banyak diucapkan di pelabuhan Teluk Bayur. Sebab kota pelabuhan inilah yang menjadi saksi dari pada terjadinya banyak perpisahan, apakah antara suami dengan isteri, anatar dua orang yang sedang berpacaran, antara dua orang sahabat karib, antara adik dan kakak, antara anak dan orang tua dan sebagainya. Karena terjadinya perpisahan terutama disebabkan oleh karena pergi merantau, dan sebagian besar merantau itu dilakukan ke Jawa, dan kendaraan yang digunakan biasanya kapal laut. Dizaman dulu memang belum ada angkutan udara, dan angkutan darat juga jarang karena jalannya sangat buruk. Walaupun sangat sedih, namun perpisahan itu biasanya dihadapi dengan rela hati, sesuai dengan yang dikatakan pantun ini “bia kiniko kito bacarai”, karena biasanya perpisahan itu dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki taraf kehidupan menjadi lebih baik, dan dengan adanya perjanjian atau harapan bahwa mereka akan beryemu kembali seperti disebutkan “asalkan nanti kito batamu”. Kadang-kadang perpisahan itu tidak diakhiri dengan peristiwa gembira, tetapi sedih, karena misalnya tidak berhasil diperantauan, atau kawin lagi dirantau orang, atau malah ada yang meninggal dunia, dan sebagainya. Akan tetapi hal itu jarang terjadi, kebanyakan mereka berhasil, sehingga mereka dapat bertemu kembali dalam keadaan bergembira, bersuka cita, sehinmgga perpisahan yang amat pahit itu diakhiri dengan kebahagiaan. Biasanya pertemuan yang sangat membahagiakan sewaktu orang rantau pulang kampung setelah berhasil dirantau orang, juga terjadi di Teluk Bayur. Akan tetapi peranan Teluk Bayur sebagai tempat pertemuan kebahagiaan, tak pernah ditonjolkan, yang selalu ditonjolkan adalah peranannya sebagai tempat perpisahan. Entah apa sebabnya demikian, saya tidak tahu.
|