Tafsir Pantun Minang (4) : Pantun Cinta PDF Print E-mail
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati   
Saturday, 25 February 2006
Article Index
Tafsir Pantun Minang (4) : Pantun Cinta
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16
Page 17
Page 18


Bia badarai padi sipuluik,
Jiko badarai mangko dikaka.
Bia bacarai kito dimuluik,
Asa dihati indak batuka.

Artinya :

Biar berderai padi sipulut (ketan),
Jika berderai makanya disebar.
Biar bercerai kita dimulut,
Asal dihati, tidak bertukar.

 

Tafsir sampiran :
Biar berderai padi sipulut,jiko badarai mangko dikaka. Padi sipulut adalah padi ketan, yang menghasilkan beras ketan , sejenis beras yang lengket dan aromanya harum bila dimasak. Bagi masyarakat Minangkabau beras ketan ini mempunyai arti yang istimewa, berkaitan dengan adat istiadat. Makanan lemang yang dibuat dari beras ketan selalu ada dalam setiap pesta atau kenduri, termasuk pesta perkawinan, acara selamatan, pesta hari raya, dan sebagainya, apalagi dalam upacara adat. Nasi ketan yang dimasak dengan santan, dinamakan juga “nasi lamak” atau nasi ketan yang dimasak dengan air biasa, tapi dicampur kelapa parut, biasanya menggantikan posisi lemang bila tidak ada.
Sehari-hari terutama sarapan pagi biasanya ketan dimakan dengan goreng pisang dan disertai dengan semangkok kopi. Makanan jenis ini biasa disediakan diwarung-warung kopi. Kalau dimusim durian, maka lemang, atau nasi lemak, atau ketan kelapa parut, itu biasa dimakan dengan durian. Dan makanan ini termasuk yang sangat disukai oleh orang Minang. Makanan ketan / durian ini hanya disukai di Sumatera Barat, Riau, Malaysia, Brunai dan Thailand. Sementara orang Batak, Sunda, Jawa, Bugis dan suku lainnya di Indonesia, tidak menyukai makanan itu.
Dalam sampiran pantun ini dikatakan bahwa padi sipulut yang biasanya lengket itu, tapi nyatanya berderai, dan ini disebabkan oleh karena dijemur dipanas matahari, yang disini dikatakan “dikaka”.

Tafsir isi pantun :
Bia bacarai kita dimuluik, asa dihati indak barubah. Ini menggambarkan satu keteguhan pertalian cinta sejati , atau persahatan yang erat antara dua orang.Antara dua orang yang saling berpacaran atau antara suami isteri atau antara dua orang yang bersahabat kental, sering terjadi pertengkaran, perbedaan pendapat, akan tetapi didalam hati mereka tetap bersatu, ikatan bathin antara mereka tidak akan putus, hanya karena disebabkan oleh perbedaan pendapat. Kadang-kadang perbedaan pendapat itu malah menimbulkan suatu yang lebih produktif untuk bersama.
Disamping itu pantun ini juga merupakan petunjuk bagaimanapun terjadinya perbedaan pendapat, bahkan pertengkaran, namun jangan sampai memutus hubuingan , boleh bercerai dilahir, akan tetapi didalam hati (bathiun) tetap bersatu. Jangan sampai memutus silaturrahim,bahkan sampai berkelahi satu sama lain.
Petun juk dalam pantun ini sangat seirama dengan syari’at agama Islam, dan perlu sekali diindahkan oleh ummat Islam sekarang ini. Tidak saja oleh ummat Islam Minangkabau, tapi juga oleh ummat Islam diseluruh Indonesia, bahkan diseluruh dunia.Perpecahan dikalangan ummat Islam sekarang ini, benar-benar sudah sangat mengkhawatirkan. Bahkan ada golongan tertentu dikalkangan ummat Islam, malah lebih memilih bersahabat dengan ummat dari agama lain, dibanding dengan ummat Islam sendiri. Boleh saja terdapat perbedaan keyakinan yang bersifat perbedaan khilafiyyah, tetapi jangan sampai memutus silaturahmi.



Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
 
< Prev




Generated in 7.86683 Seconds