Tafsir Pantun Minang (4) : Pantun Cinta PDF Print E-mail
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati   
Saturday, 25 February 2006
Article Index
Tafsir Pantun Minang (4) : Pantun Cinta
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16
Page 17
Page 18


Simpang ampek Sukomananti,
Padang Tujuah mangko Pinaga.
Kok dakek namuah den pa-i,
Ba-a pulo hati rang nan tingga.

 

Artinya:

Simpang Empat Sukamenanti,
Padang Tujuh baru Pinaga.
Kalau dekat saya mau pergi (ikut),
Bagaimana pula orang yang tinggal.

Tafsir sampiran :
Simpang Ampek Sukomananti, Padang Tujuah mangko Pinaga. Disini disebutkan nama dari 4 buah desa yang terletak berdekatan di Pasaman Barat. Kalau kita berangkat dari kota Talu, menuju kearah Barat, maka dari yang empat desa itu, yang pertama kali dilalui adalah desa Padang Tujuah, kemudian baru Pinaga. Jika perjalanan diteruskan maka sebelum sampai di Simpang Empat, ada jalan bersimpang kekanan, menuju Sukomananti. Yang terbesar dari desa yang empat ini adal;ah Simpang Ampat, dimana ada pasar, dan ramai penduduknya.
Ada sedikit sejarah tentang Sukamenanti ini. Sekitar tahun 1951 dan 1952, Djawatan Pertanian Rakyat Sumatera Tengah, dibawah pimpinan Bapak Marah Adin Datuk Pangulu Sati, mendirikan S.U.T. (Sekolah Usaha Tani ) di Sukarami dan di Sukamenanti. SUT yang di Sukarami kemudian oleh Bapak Marah Adin diserahkan kepada Djawatan Penyelidikan Tehnik Pertanian Bogor (waktu itu dibawah pimpinan Bapak Nazar Noer, orang asal Pariaman), yang akan mendirikan Kebun Percobaan di Sumatera Tengah. Kebun Percobaan itu pertama kali dinamakan Kebun Percobaan Kayu Aro. Pada waktu diresmikan oleh Bapak Wakil Presiden Muhammad Hatta, pada tahun 1953, Kebun Percobaan itu diberi nama oleh Bapak Hatta dengan nama Sukarami, pada hari yang sama beliau juga memberi nama Sukamulya untuk Kebun Raya Sitinjau Laut.
Dengan pertimbangan ini maka SUT yang didirikan dekat Simpang Empat yang disebut terdahulu dinamakan SUT Sukamenanti. SUT itu tetap dipertahankan sebagai tempat pendidikan dan latihan pertanian, yang awal tahun 1970-an pernah mendapat bantuan dari Jerman Barat, terakhir disitu didirikan SPMA Daerah.

Tafsir isi pantun :
Kok dakek namuah den pa-i , ba-a pulo hati urang nan tingga. Pantun ini juga mengisahkan satu cerita percintaan. Salah seorang akan berangkat mungkin untuk merantau atau pergi ketempat yang jauh dalam waktu yuang tidak terlalu lama. Sang isteri yang akan ditinggal dirumah, tidaklah sendirian, akan tetapi ada anggota keluarga lainnya yang sangat memerlukan kehadirannya disamping mereka. Umapamanya orang tua yangf sudah renta, atau anak-anak yang masih kecil dan bersekolah. Sang isteri ini jadi ragu , apakah akan ikut suaminya pergi merantau atau tetap tinggal dirumah.
Karena suaminya itu akan pergi ketempat yang jauh, maka dia memutusdkan untuk tidak ikut. Dia akan tetap tinggal dirumah , karena dia tidak hanya memeikirkan kebahagiaannya sendiri, tetapi lebih mengutamakan keluarganya. Ini terlihat dari perkataan: Kok dakek namuah den pa-i, ba-a pulo hati rang nan tingga. Artinya kalau tempat yang akan dituju itu dekat, dia mau ikut pergi, akan tetapi karena tempat itu jauh, maka dia lebih baik memilih tinggal dirumah.

 

 



Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
 
< Prev




Generated in 7.87652 Seconds