Tafsir Pantun Minang (4) : Pantun Cinta PDF Print E-mail
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati   
Saturday, 25 February 2006
Article Index
Tafsir Pantun Minang (4) : Pantun Cinta
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16
Page 17
Page 18


Api – api tabang kadusun,
Tibo didusun mamakan palo.
Indak denai mati dek racun,
Mati di goyang dek suduik mato.

 

Artinya:

Api-api terbang kedusun,
Tiba didusun memakan palo.
Tidak saya mati karena racun,
Mati digoyang oleh sudut mata.

Tafsir sampiran :
Api-api tabang kadusun, tiba didusun memakan pala. Api-api adalah sebangsa serangga atau burung kecil, yang bila terbang pada malam hari kelihatan bercahaya, yang memancar dari bagian ekornya. Dari itu maka binatang ini diberi nama api-api. Dalam sampiran ini dikatakan bahwa api-api tersebut terbang ke suatu dusun (desa) dan sesampainya didesa itu dia mencari pohon pala untuk dimakan.

Tafsir isi pantun :
Indak denai mati dek racun, mati digoyang dek suduik mato. Isi pantun ini sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan “mati”. Penggunaan kata =mati= disini hanyalah untuk menegaskan bagaimana tajam dan kejamnya bila menyaksikan sesuatu yang menggiurkan dari wanita cantik Bila seseorang laki-laki sempat melihat sesuatu yang menawan hati =dalam pantun ini disebut kerlingan mata= dari seorang wanita cantik, akan menimbulkan kesan yang mendalam yang menusuk hatinya. Pandangan itu tidak akan mudah dilupakannya, selalu terbayang-bayang, kalau malam jadi mimpi, yang membuatnya tidak tenang, selalu gelisah, bahkan bisa tak mau tidur.
Kerlingan mata memang mempunyai arti yang tersendiri, kalau seorang gadis melihat seorang pemuda dengan sudut matanya sambil mengerling, itu menandakan satu pernyataan kesediaan atau ketertarikannya kepada pemuda itu. Memang dizaman dahulu, bahagian tubuh dari wanita yang dapat dipergunakan untuk menarik perhatian laki-laki hanyalah yang ada pada wajahnya. Dia bisa mengejapkan matanya atau bisa juga melalui senyuman yang manis. Sebab sebagai ummat Islam seorang wanita harus menutup auratnya, apalagi wanita yang cantik dan masih muda. Kalau gadis Minang biasa memakai kain (kodek), baju kurung atau kebaya panjang dan kerudung (dalam bahasa Minang disebut tikuluak) untuk penutup kepala.
Kalau dizaman sekarang sudah banyak wanita Minang, yang katanya mengikuti kemajuan zaman, bersama dengan wanita lain pada umumnya, sudah tidak terlalu memperhatikan lagi masalah aurat ini. Malah bagian-bagian yang paling sensitifpun dari tubuhnya dipamerkan pada orang lain. Zaman memang berobah , itu harus diakui, dizaman sekarang mungkin saja orang tidak akan tergiur lagi misalnya apabila melihat rambut wanita, atau melihat betis wanita atau melihat lengan wanita. Sehingga kalau bagian itu yang dibuka didepan umum, mungkin tidak akan menimbulkan kegelisahan social. Akan tetapi kalau sudah lebih dari itu, apalagi diiringi dengan gerakan-gerakan yang merangsang, pasti akan menimbulkan birahi laki-laki yang melihatnya. Kita saksikan bersama bahwa hal itu telah menyebabkan terjadinya bermacam kejadian yang memalukan dan menjijikkan orang yang normal.
Pantun ini menjelaskan bahwa seseorang yang sudah kena racun asmara, maka akibat yang dirasakannya identik dengan =mati=, bila dia tidak dapat “menyalurkannya”.Atau dia bersedia mati untuk mendapatkan keinginan yang sudah merasuk hatinya itu. Maka tidaklah mengherankan kalau hal ini telah menimbulkan bermacam tindak kekerasan, pemerkosaan, pembunuhan dan sebagainya. Itulah sebabnya mengapa agama Islam sangat concern dengan masalah aurat pada wanita ini. Karena bagaimanapun yang namanya manusia itu mempunyai nafsu, termasuk nafsu berahi. Jadi jauhilah hal-hal yang dapat menimbulkan nafsu berahi orang laki-laki.
Aturan dalam agama Islam sungguh hebat sekali , segala sesuatu diatur dengan terperinci, demi kebaikan, untuk mencegah kemungkaran. Sebagai contoh misalnya dalam jamaah sebuah mesjid yang terdiri dari kaum pria dan kum wanita. Tempatnya dipisah dan kaum wanita dilarang bersuara keras waktu shalat, berzikir, dan berdo’a. Sebab apa bila umpamanya setelah imam membaca surat Alfatihah dalam shalat, kaum wanita juga menjawabnya dengan kata “Aaamiiiin” dengan suara keras dan lantang. Maka mendengar suara itu mungkin saja ada lelaki yang terganggu konsentrasinya. Yang terbayang oleh laki-laki itu adalah: Suaranya saja sudah demikian merdu, apalagi bentuk orangnya, tentu akan cantik sekali, jadi shalat laki-laki itu akan cacat.

Jam Gadang di Bukik Tinggi,
Sampai bunyinyo ka Birugo.
Kasieh sayang jan dihabisi,
Sagadang rambuik tinggakan juo.

Artinya :

Jam Gedang di Bukit Tinggi
Sampai bunyinya ke Birugo.
Kasih sayang jangan dihabisi,
Sebesar rambut tinggalkan juga.

Tafsir sampiran :
Jam Gadang di Bukiktinggi, sampai bunyinyo ka Birugo. Kota Bukittinggi memang terkenal dengan Jam Gadang. Kota Bukittinggi berbukit dan berlembah, pada bagian yang tertinggi dipusat kota dibangun sebuah jam besar dan tinggi oleh pemerentah Belanda dizaman penjajahan dulu dengan arsitektur gaya Barat. Pada zaman Jepang, atap dari Jam Gadang ini dirobah, ditukar dengan gaya Jepang. Kemudian setelah merdeka, atap Jepang itu dibongkar, ditukar dengan atap gaya Minang (bagonjong).
Birugo adalah nama sebuah desa yang masih terletak dalam kota Bukittinggi, namun agak jauh dari lokasi Jam Gadang, yaitu dipinggiran kota arah ke Padang. Pantun ini mengatakan bahwa bunyi dari Jam Gadang tersebut kedengaran sampai ke Birugo.

Tafsir isi pantun :
Kasieh sayang jan dihabisi, sagadang rambuik tinggakan juo. Pantun ini biasanya menceritan kisah percintaan antara sepasang manusia, yang mungkin sudah lama terjalin, akan tetapi karena sesuatu hal terganggu, yang menyebabkan terjadinya perpisahan. Mungkin perpisahan itu tak bisa dipertemukan lagi, masing-masing sudah berumah tangga dengan pilihannya sesuai dengan ketentuan Illahi. Namun kisah-kisah manis yang pernah terjadi diantara mereka ada diantaranya yang tak akan terlupakan, yang sewaktu-waktu memori yang telah terekam dihatinya itu muncul kembali dipermukaan. Jadi tali kasih sayang pernah ada itu, menurut pantun ini, janganlah sampai diputuskan sama sekali, namun agak sedikit (sebesar rambut) ditinggalkan juga.
Namun secara umum pantun ini mempunyai arti yang sangat luas, pantun ini memberi petunjuk, agar jangan sampai memutus silaturrahim antara manusia. Istilah “bakarek rotan” (putus sama sekali) yang juga sering digunakan oleh masyarakat Minang, adalah sesuatu yang harus dihindari. Lagi-lagi “petuah” yang terkandung didalam pantun ini sangat sejalan dengan kaidah agama Islam, jangan sampai memutus silaturrahim. Agama mengharuskan kita mempererat silaturrahim, bukan merenggangkan, apalagi memutuskannya.



Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
 
< Prev




Generated in 11.29369 Seconds