|
Page 14 of 18
Pancuang talang anak rang Lubuak. Kini taantak-antak juo. Kasieh sayang nan taisuak, Kini taragak-ragak juo. Artinya:
Pancung talang anak orang Lubuk, Kini ter-antak-antak jua. Kasih sayang yang dahulu, Kini ter-ingat ingat juga. Tafsir sampiran : Talang adalah sejenis bambu yang besarnya sama dengan bambu biasa, namun dinding batangnya lebih tipis dan lebih ringan. Talang biasa digunakan untuk pembuat lemang, karena tipisnya itu. Beras ketan dan santan, ditambah garam seperlunya dimasukkan kedalam talang yang sudah dipotong masing-masing satu ruas. Sebelumnya didalam talang itu telah dilapisi dengan daun pisang yang masih muda. Beberapa buah ruas talang yang sudah diisi ini sekali gus dipanaskan dengan menggunakan kayu bakar sampai lemangnya masak. Pada sampiran pantun ini dikatakan anak orang desa Lubuk pergi mengambil talang, biasanya dipinggir hutan. Setelah mengumpulkan yang akan dipakai, maka pancungan talang yang tidak terpakai, dilemparkan dan tertancap didaerah rawa sekitarnya. Hal itu terjadi sudah sejak beberapa lama, tapi sampai sekarang masih tertancap juga disitu. Tafsir isi pantun : Kasieh sayang nan taisuak, kini taragak ragak juo. Artinya kekasihnya yang dulu, sampai sekarang masih teringat-ingat juga. Taisuak dalam bahasa Minang artinya suatu masa zaman dulu yang sudah lama sekali, bukan masa yang baru saja lewat atau hanya beberapa tahun terdahulu. Kalau belum begitu lama terjadinya maka biasanya dikatakan dengan “yang dahulu” atau “yang lewat” , bukan yang taisuak. Jadi ungkapan pantun ini tidak mungkin keluar dari mulut orang yang masih muda, karena pada zaman “taisuak” itu dia belum lahir, mana mungkin sudah punya kekasih. Jadi ungkapan pantun ini adalah merupakan “ratapan” atau kenangan masa dari orang tua atau kakek nenek. Jadi seorang kakek atau nenek, sambil menikmati hari tuanya suatu waktu dia termenung, ngelamun , mengenangkan masa lampau atau masa saisuak selagi dia msih muda. Pada masa mudanya itu, dia mungkin pernah jatuh cinta pada seorang gadis, dan mereka pernah merasakan masa-masa bahagia, yang tidak mudah dilupakan. Sekarang memori rekaman itu kembali muncul kepermukaan, dan dia akan mendendangkan pantun tersebut menurut irama kesukaannya. Kalau isteri sang kakek yang menyanyikan pantun itu masih hidup dan mendengarkan nyanyian tersebut, maka sang kakek pasti akan kena marah dari isterinya itu.
|