Tafsir Pantun Minang (4) : Pantun Cinta PDF Print E-mail
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati   
Saturday, 25 February 2006
Article Index
Tafsir Pantun Minang (4) : Pantun Cinta
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16
Page 17
Page 18


Anak urang Tanjuang Andaleh,
pai kabalai hari sanjo.
Bia habih bialah tandeh,
Hati den kanai kaba-a juo.

Artinya:

Anak orang Tanjung Andalas
Pergi ke pasar pada hari senja.
Biar habis, biarlah ludas,
Hati saya kena, bagaimana lagi.

Tafsir sampiran :
Anak urang Tanjung Andaleh, pai kabalai hari sanjo. Andalas adalah nama suatu desa di Kabupaten Limapuluh Kota. Disini dikatakan bahwa anak desa Andalas tersebut pergi kepasar pada hari senja. Ini menandakan bahwa yang dimaksud disini adalah seoranganak muda, sebab kalau orang tua jarang yang pergi kepasar dihari senja. Pada waktu senja orang tua kebanyakan akan pergi ke surau untuk shalat Magrib. Tapi kalau orang muda, tujuan utamanya pergi kepasar yang ramai itu, adalah untuk jalan-jalan, rekreasi, sambil mempamerkan kesuatu, atau melihat-lihat gadis cantik, atau sekedar berkumpul dengan teman-temannya.

Tafsir isi pantun :
Bia habih bialah tandeh, hati den kanai kaba-a juo. Satu pernyataan dari orang yang mabuk cinta, yang menyatakan biarlah semuanya harta habis, atau apapun akan dia lakukan demi cintanya. Hati den kanai, artinya hatinya sudah terpikat oleh idamannya itu.
Ini kalau dizaman dulu biasanya satu pernyataan dari pihak pria, karena prialah yang mau habis-habisan untuk mendapatkan cintanya. Dan dalam soal bercintaan itu pihak prialah yang biasanya aktif dalam posisi menyerang, sementara pihak wanita biasanya pasif menanti. Dan lagi dizaman dulu jarang sekali terjadi beberapa wanita memperebutkan seorang pria dengan persaingan sengit mati-matian. Yang biasa terjadi adalah beberapa orang pria memperebutkan hati dari seorang wanita cantik.
Dalam memenangkan persaingan tersebut, seorang pria bisa melakukan apa saja, walaupun semua hartanya akan habis. Dalam cerita-cerita atau kisah zaman dulu, sering dikhabarkan bagaimana seorang raja membuka gelanggang ramai dalam rangka untuk mendapatkan jodoh bagi anak perempuannya. Untuk itu biasanya akan datang banyak pangeran yang gagah perkasa yang datang mengunjungi gelanggang itu dengan harapan akan dipilih oleh sang putrid untuk pasangannya. Tidak pernah ada cerita yang mengatakan bahwa seorang raja telah membuka gelanggang untuk mencari menantu perempuan bagi putra mahkota.
Disamping itu pantun ini juga memberi petunjuk, bagaimana besarnya resiko yang akan dialami bila jatuh cinta, dari itu harus sangat berhati-hati sebelum jatuh cinta pada seorang gadis. Kalau cinta tidak berbalas , atau kalau banyak saingan maka akn timbul banyak masalah. Apa lagi dizaman sekarang ini , dimana dunia sudah terbalik, ada sementara wanita yang senang mempermainkan laki-laki. Dia pura-pura saja seperti membalas cinta seorang laki-laki, pada hal dia hanya tertarik pada kekayaan laki-laki itu, sementara cinta sejatinya ada pada orang lain. Kalau dalam hal ini yang pria berpendirian seperti pada pantun ini, “bia habih bialah tandeh”, maka sesudah tandeh (ludes) semua hartanya, perempuan idolanya itu akan meninggalkannya.

 



Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
 
< Prev




Generated in 11.10979 Seconds