|
Page 17 of 18
Kok tak dapek musim manyiang, Musim manuai den nanti juo. Kok tak dapek samaso bujang, Baranak ampek den nanti juo. Artinya :
Kalau tidak dapat dimusim menyiang, Pada musim menuai saya nanti juga. Kalau tidak dapat semasa bujang, Beranak empat saya nanti juga. Tafsir sampiran : Kok tak dapek musim manyiang, mausim manuai den nanti juo. Kejadian alam yang diambil untuk sampiran pantun ini adalah stadia pengerjaan padi sawah. Selama pertumbuhan padi sawah, ada beberapa tingkatan pekerjaan yang harus dikerjakan. Kira-kira satu bulan setelah tanam biasanya padi itu disiang, yang fungsinya tidak hanya untuk membersihkan rumput, tetapi juga untuk menggemburkan tanah. Terakhir setelah masak (umur 110 – 120 hari), padi itu dipanen. Jadi cukup lama waktunya antara siangan pertama dengan panen. Dalam sampiran ini dikatakan bahwa kalau maksudnya tidak tercapai pada waktu menyiang, dia akan bersedia menantinya sampai waktu panen. Tafsir isi pantun : Indak dapek samaso bujang, baranak ampek den nanti juo. Ini adalah sebuah ratapan dari seorang gadis yang sangat mencintai seorang pemuda. Demikian cintanya kepada pemuda itu, sehingga kalau umpamanya dia tidak bisa mendapatkannya selagi masih bujang, dia bersedia menunggu dengan setia walaupun pemuda itu sudah mempunyai empat orang anak. Kalau di Minangkabau kejadian ini biasanya dialami oleh sepasang anak muda yang telah menjalin percintaan, sudah mengikat janji akan meneruskan percintaan mereka kejenjang perkawinan. Akan tetapi kalau dizaman dulu pengaruh keluarga lebih dominan, dalam menentukan satu perkawinan. Dalam hal ini mungkin pihak keluarga laki-laki tidak menyetujui hubungan mereka, terutama orang tuanya. Mereka sudah mempunyai calon yang akan dijodohkan dengan anak mudanya. Dan anak muda ini pun tidak tega menentang kemauan orang tuanya. Kenyataan hidup ini disadari dan diterima dengan pasrah oleh kedua orang yang telah saling jatuh cinta tersebut. Sang pria kawin dengan gadis pilihannya, sementara sang wanita, tetap memelihara cintanya, sambil berharap satu waktu nanti akan ada perobahan, dan dia sabar menunggu walaupun pria idolanya itu telah beranak empat. Selain dari itu, secara tidak langsung dalam pantun ini juga ada petunjuk bagaimana keteguhan hati orang perempuan dalam bercinta, dibandingkan dengan orang laki-laki . Kalau umpamanya cerita tersebut diatas, terjadi sebaliknya, dimana yang tidak menyukai hubungan mereka adalah pihak keluarga perempuan, karena orang tua sudah mempunyai calon lain untuk anak gadis mereka, maka sang pemuda akan mudah melupakannya dan mencari gadis yang lain. Kalaupun ada pemuda yang sangat mendalam dan setia cintanya, paling banter dia hanya bias menunggu sampai wanita beranak satu, tidak akan setia menunggu sampai beranak empat. Jadi kalau untuk pemuda, maka kata-kata “baranak ampek” dalam pantun diatas diganti dengan “baranak ciek” (satu) dan kata bujang diganti dengan gadih. Sementara dalam sampiran “musim manyiang” diganti dengan “dimusim manggih” dan “musim manuai” diganti dengan “dimusim lansek” (langsat).
|