|
Page 18 of 18
Duduak bajuntai ateh balai. Mamandang katangah labuah. Isuak kasamo kito rasai, Didalam aie badan bapaluah. Artinya :
Duduk berjuntai diatas balai, Memandang ketengan labuh (jalan). Nanti akan sama kita rasakan, Didalam air badan berpeluh.
Tafsir sampiran : Duduak bajuntai ateh balai, mamandang katangah labuah. Balai yang dimaksud dalam pantun ini, adalah semacam tempat santai yang biasa dibuat dipekarangan depan rumah, atau diberanda pondok diladang , untuk tempat duduk-duduk atau berbaring pelepas lelah. Biasanya berupa hamparan yang ditinggikan dari pemukaan tanah dan dilantai dengan palupuh ( bambu yang dicincang dan didatarkan. Waktu istirahat dari pekerjaan, atau waktu santai sore hari, biasa orang akan duduk-duduk dibalai—balai, ada yang menyanyi, basaluang, ngobrol, main gaplek dan sebagainya. Dalam bahasa Minang balai juga dapat berarti pasar atau pekan. Hari balai, sama dengan hari pekan atau hari pasar, yaitu satu hari dalam seminggu yang diramaikan dengan jual beli barang dan keperluan sehari-hari. Tapi dalam pantun ini lain artinya. Pada lampiran ini dikatakan , ada seorang yang duduk berjuntai diatas balai, sambil melihat kejalan raya. Tafsir arti pantun : Isuak kasamo kito rasai , didalam aie badan bapaluah. Sebenarnya kata- “isuak” dalam bahasa Minang, tidak ada terjemahannya yang tepat dalam bahasa Indonesia. Belum tepat kalau dikatakan bahwa “suak” itu sama dengan “nanti” atau “kemudian”, karena yang dimaksud dengan isuak adalah bertahun-tahun kemudian, waktunya lama. Pantun ini menyatakan tentang satu riwayuat percintaan yang terputus, tidak dapat diteruskan, karfena sesuatu sebab yang tidak dapat dihindarkan. Yang menjadikan penyebab putusnya percintaan itu bukanlah datangnya dari luar atau dari pihak ketiga. Penyebab itu datang dari mereka sendiri, mungkin karena adanya perselisihan, pertengkaran, kesalah pahaman, yang diselesaikan dengan emosi yang tak terkendali. Padahal sebenarnya antara keduanya sudah terjalin cinta sejati, yang tidak mungkin dilupakan dan satu waktu pasti akan muncul kembali. Akan tetapi salah seorang diantara mereka dengan emosiyang tinggi, nampaknya sudah mau berkerat rotan, tak mau berbaikan lagi. Demikian seriusnya dia dan untuk memperlihatkan harga dirinya yang tinggi, dia segera mencari gantinya dan menikah dengan orang lain. Lalu dari pihak satunya, yang masih bisa mengendalikan diri, mengatakan seperti pada pantun ini: Nanti akan sama kita rasakan, didalam air badan berpeluh”. Kalau suatu waktu nanti kita telah menyadari kekliruan yang diambil saat itu, maka akibatnya sangat berat, seperti berpeluh didalam air. Kesadaran itu baru dating setelah masing-masingnya, atau salah satu diantaranya ternyata telah memilih jalan yang salah, yang berakibat fatal terhadap kehidupan mereka, akan tetapi untuk kembali kemasa dulu dan untuk memupuk kembali cinta antara mereka sudah tak mungkin lagi.
Kok nak tahu diladang padi, Di Panti jalan ka cubadak. Kok nak tahu dihati kami, Lieklah api makan dadak. Artinya :
Kalau ingin tahu diladang padi. Di Panti jalan ke Cubadak. Kalau ingin tahu dihati kami, Lihatlah api dalam dedak. Tafsir sampiran : Kok nak tahu diladang padi, di Panti jalan ka Cubadak. Ada dua pengertian tentang ladang padi. Pertama desa yang bernama Ladang Padi, kedua setumpak lahan tempat orang berladang padi. Disini kita ambil pengertian yang disebut terakhir. Pada zaman dulu orang menanam padi dihutan dalam bentuk ladang berpindah (shifting cultivation), selain dari sawah. Panti adalah sebuah kota kecil terletak dipinggir jalan ke Medan kira-kira 100 km dari Bukittinggi. Disini ada simpangan jalan menuju Talu dan Cubadak di Pasaman Barat. Pada kikri kanan jalan dari Panti ke Cubadak itu memang banyak terdapat hutan un tuk tempat orang berladang. Tafsir isi pantun : Kok nak tahu dihati kami, lieklah api makan dadak. Ini adalah salah satu cara untuk menyatakan cinta seseorang, bahwa cintanya itu bersungguh-sungguh, cinta sejadi dan tahan uji. Ada juga dikatakan dengan ungkapan lain: “Ambil pisau belahlah dada:. Dedak adalah sekam padi yang banyak terdapat pada tempat penggilingan padi. Apabila onggokan sekam itu, sempat terbakar, walaupun hanya dengan api yang kecil saja, secara bertahap dan pasti api itu akan membakar sekam itu semuanya. Maksudnya api itu akan tetap menyala, sulit dipadamkan, walaupun dating hujan misalnya, api itu akan masuk kedalam mencari dedak yang mesih kering, sulit dipadamka. Cinta yang diibaratkan dengan api makan sekam itu adalah cinta sejati yang tidak mudah padam, tidak akan hilang, sebab sekam itu biasanya banyak sekali seperti gunung pada sebuah rice milling, tak akan pernah habis, setiap aktu datang lagi sekam yang baru. Tulisan terkait : 1. Tafsir Pantun Minang (1) 2. Tafsir Pantun Minang (2) 3. Tafsir Pantun Minang (3) 4. Tafsir Pantun Minang (5)
Trackback(0)

|