|
Page 7 of 18
Anak urang Koto nan Ampek Cabiek – cabiek tapi kainnyo. Nan hilang indak kadapek, Cari nan lain kagantinyo. Artinya:
Anak orang Kota nan Empat, Koyak- koyak tepi kainnya. Yang hilang tidak akan dapat, Cari yang lain untuk penggantinya. Tafsir sampiran : Anak urang Koto nan Ampek, cabiek-cabiek tapi kainnyo. Kota nan Empat adalah salah satu sudut dari kota Payakumbuh. Memang aslinya kota Payakumbuh itu terdiri dari dua buah kota yaitu Kota nan Empat dan Kota nan Gadang. Orang Kota nan Empat yang dimaksud dalam pantun ini adalah orang perempuan, sebab dia pakai kain yang artinya kain kodek. Biasanya kain kodek itu terbuat dari bahan batik. Dan kain kodek orang ini sudah koyak-koyak pinggirnya. Jadi wanita ini termasuk pada orang yang miskin, kainnbya sudah koyak-koyak tapi masih dipakai juga. Tafsir isi pantun : Nan hilang indak kadapek, cari nan lain kagantinyo. Ini adalah satu pentunjuk yang mengisyaratkan agar menerima satu realita kehidupan. Kita boleh mengharapkan sesuatu, kita boleh menghindar atau tak menyukai sesuatu terjadi, kita boleh mati-matian mengusahakan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, akan tetapi tetap saja yang menentukan adalah Allah SWT. Pantun ini biasanya mengisahkan seseorang yang berkasih sayang dengan kekasihnya, atau sepasang suami isteri yang hidup bahagia membina rumah tangga. Akan tetapi Tuhan menentukan lain, pada suatu waktu misalnya yang wanita jatuh sakit dan meninggal dinia. Hilang atau pergi karena meninggal dunia, adalah pergi untuk selamanya, tak akan mungkin kembali lagi. Sedangkan umpamanya sang kekasih pria yang ditinggalkan, masih muda, masih ada masa depan, belum pernah kawin. Dia boleh sedih, sebagai manusia biasa, akan tetapi tidak boleh berputus asa, tidak boleh menganiaya hidupnya sendiri. Dari itu dia harus belajar melupakan kekasihnya yang telah meninggal dunia itu, walaupun pahit dan butuh waktu yang lama. Kemudian dia harus berusaha mencari yang lain, seperti dikatakan dalam pantun ini :”cari nan lain kagantinyo”. Demikian pual dengan seorang yang telah berkeluarga, dan telah mempunyai anak-anak, tiba-tiba isterinya sakit dan meninggal dunia. Kalau selagi dia masih muda, yang memerlukan pendamping hidup, anak-anaknya pun memerlukan pengasuh, satu waktu dia harus sadar, menerima kenyataan hidup. Proses kehidupannya selanjutnya mengharuskan dia “mancari yang lain”. Tapi kalau orang yang bersangkutan, sudah berumur, apalagi sudah lanjut usia, maka sebaiknya janganlah mengikuti petuah yang terkandung dalam pantun ini. Sebab masalah yang akan ditimbulkannya akan lebih rumit disbanding dengan masalah yang akan diselesaikannya. Hidup didunia ini tidak akan lama, semua orang pasti mati. Kalau teworitis umur tak akan lama lagi, untuk apa membuat-buat masalah, pasrah sajalah.
|