Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
Advertisement
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Tungku nan tigo sajarangan
Patamo banamo alua patuik
Kaduo banamo anggo tanggo
Katigo banamo raso pareso
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Padang Panjang dalam Sastra PDF Print E-mail
Written by Adek Alwi   
Tuesday, 28 February 2006
Banyak kota menjadi lokasi-cerita sastra Indonesia. Satu di antaranya Padang Panjang, kota kecil di Sumatera Barat. Novel Hamka khususnya Tenggelamnya Kapal van der Wijck (TKvdW), cerpen AA Navis dalam kumpulan Hujan Panas dan Kabut Musim (HPdKM), dan Robohnya Surau Kami, karya-karya yang berlokasi di kota itu. Juga novel Warisan Chairul Harun, pada bagian tertentu.
Setidaknya, ada dua sebab kenapa Padang Panjang mereka pilih untuk lokasi-cerita. Pertama, kenal, dan secara emosi dekat dengan kota itu. Ini keniscayaan bagi pengarang. Budi Darma lama di Bloomington, Indiana, Amerika Serikat, lalu menulis Orang-orang Bloomington serta Olenka. Umar Kayam dengan kumpulan Seribu Kunang-kunang di Manhattan; John Steinbeck dengan Dataran Tortila, Cannery Row dan lain-lain yang berlokasi di Salinas, California, tempat lahir dia. Dan, Hamka belajar agama di Padang Panjang. Navis lahir di sana. Chairul Harun mengajar di ASKI kota itu.
Kedua, karena peran kota itu, terutama masa pergerakan dan dalam pembaruan keagamaan. Awal 1900-an Padang Panjang menjadi pusat aktivitas kaum modernis Islam, dimotori ulama Kaum Muda, yang juga mendirikan sekolah agama bercorak modern. Di kota itu kemudian lahir partai islamis-nasionalis Permi, dibidani eksponen Sekolah Sumatera Thawalib. Cabang PNI Baru-nya terkuat di luar Jawa.

Sebelumnya, 1835, satu batalion infanteri ditempatkan Belanda di sana guna menusuk benteng Padri. Ia dipilih karena terletak di lintasan pertahanan itu: Bukittinggi, Kamang, Bonjol, Batusangkar.
Letaknya, membuat kota itu kian penting saat kereta api beroperasi akhir abad ke-19 di Sumbar. Penduduknya beragam, China, Nias, Jawa, Batak, Bengkulu, Belanda, meski orang Minang tetap terbanyak. Heterogenitas dan dinamika sejarah ini menjadikan Padang Panjang tumbuh dinamis, agamis, rasional, toleran.

Hamka, Navis, Chairul Harun, ahli menyajikan kota itu saat memilihnya untuk lokasi cerita. Ada lanskap kota, tradisi pacuan kuda serta pasar malam, manusianya, modernisasi keagamaan, budaya jajanan berupa satenya yang sedap, juga lepau kopi.
Semangat pembaruan keagamaan tampil dalam Robohnya Surau Kami, lewat Ajo Sidi. Sidi mengusik cara beragama Kakek yang tradisional, mengabaikan masalah muamalat. Dalam cerpen Orang dari Luar Negeri (HPdKM) dilukiskan Navis warga yang malas, tak kreatif. Sebab, meski studi di luar negeri tetapi tak bisa hidup. Padahal, ”Padang Panjang adalah kota yang berbahagia. Aku di situ lahir. Hampir seperlima abad aku dihidupinya. Kota itu memang banyak memberi hidup. Di situ ada batukapur yang memberi hidup. Ada sungai yang memberi hidup. Ada pasar yang memberi hidup. Ada oto, ada kereta api yang memberi hidup….” Dan, tradisi maota (ngobrol) di lepau kopi hadir dalam Politik Warung Kopi (HPdKM) di kedai kopi Mak Lisut ”di simpang tiga dekat rumahku di kampung”.

Bagi Hamka, Padang Panjang ”kota kemajuan” karena sekolah-sekolah agama modern itu, dan keramaiannya. Maka, ketika Zainuddin (TKvdW) terusir dari Batipuh yang kuat adatnya, Hamka tidak jauh memindahkan dia, misalnya ke Padang. Cukup ke Padang Panjang. Di situ Zainuddin bebas. Dan belajar agama, seperti Hamid dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah.

Akan tetapi, Hamka tak menggambarkan Padang Panjang melulu kota agama. Dalam TKvdW dia tampilkan pesta rakyat kota itu: pasar malam dan pacu kuda. Dan adegan di gelanggang pacu kuda ini justru penting pada novel tersebut.

Selain itu, Hamka menghadirkan tokoh yang unik, aneh, atau ganjil untuk kota agama. Tetapi tidak bagi Padang Panjang, yang kehidupan beragamanya rasional serta toleran. Yaitu Muluk, si parewa yang tidak menjalankan syariat agama, justru penjudi, pesilat, penyabung ayam. Namun berbeda dengan preman masa kini, parewa berwatak satria, setia, dan menjaga nama kampung. Karena itu, Muluk beroperasi di tempat lain, jarang pulang ke rumah ibunya, tempat Zainuddin tinggal. Dengan Muluk Zainuddin dipersuakan Hamka, bersahabat sampai ujung hayat—sebagai perlambang manifestasi keagamaan yang rasional dan toleran itu.

Tentu saja toleransi itu punya batas. Dan itu digambarkan Navis dengan kocak dalam Kisah Seorang Amir (HPdKM). Amir, si pendatang, diterima baik warga kota sehingga perutnya yang selalu keroncongan terisi. Tetapi, Amir sebagai imam shalat tarawih ditinggalkan jemaah satu-satu, sebab cara shalatnya kacau dan hanya bernafsu memperbanyak rakaat. Alasan jemaah, tak perlu mengikuti pemimpin sesat. ”Apalagi setelah diperbaiki, masih juga sesat.” Maka, seusai shalat, terperangahlah sang tokoh.
Pada novel Warisan Chairul Harun, peraih hadiah Yayasan Buku Utama 1979, lanskap Padang Panjang sebagai kota hujan tergambar rancak. Hujan turun mendadak, sebagaimana watak cuaca kota itu. Orang-orang bergegas. Juga Rafilus, sang tokoh, serta kekasihnya, Maimunah. Begitu pula lukisan lepau sate yang padat-sesak (karena sate kota itu sohor di seantero Sumbar), amat terasa hidup.

Chairul pun melukiskan suasana Padang Panjang saat pacu kuda berlangsung. Orang yang berjubel, libur sekolah tak resmi, gelanggang pacu kuda Bancah Laweh, bendera kota-kota peserta, nama-nama kuda. Dan seekor bernama Cameo, dijagokan Maimunah, juga disukai Rafilus, justru karena terbayang libido janda jelita itu.

Begitulah, Padang Panjang—kota kecil kelahiran Sjahrir, Abu Hanifah, Rivai Apin, Huriah Adam—hadir menawan lewat cerpen dan novel tiga sastrawan Indonesia yang kini sudah tiada. Tetapi kota itu masih di sana, di lereng Singgalang, meski tidak lagi dengan gaung lamanya yang terdengar lantang. ADEK ALWI, pengarang

Sumber : http://www.kompas.com/kompas-cetak/0602/26/seni/2467960.htm
Trackback(0)
Comments (1)add comment

fahrizal said:

ALHAMDULILLAH, SAMPAI-SAMPAI AMBO TARAGAK BALIAK KA PADANG PANJANG TAMPEK KAMPUANG AMBO SILAIANG ATEH DAKEK JO ASRAMA MOBRIG ALIAS BRIMOB, CUMA SAYANG DI CIMBUAK KO INDAK ADO BUKU2 ATAU CERPEN2 URANG AWAK KO
KALAU BISA USUL TOLONG DIADOKAN CERPEN2 DARI URANG AWAK KO.
TARIMO KASIH PERHATIANNYO
 
report abuse
vote down
vote up
March 03, 2006
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 9 guests and 9 members online
Generated in 1.91899 Seconds