|
nan lereng tanami padi (yang lereng tanami padi). Nan kuek ka tonggak tuo (yang kuat untuk tiang utama). Nan ketek ka tangkai sapu (yang kecil untuk tangkai sapu). Begitulah petuah nenek moyang orang Minang yang mengingatkan masyarakatnya agar efisien dan efektif dalam mengolah sumber daya yang ada di alam. Secara geografis, Kota Padang terletak di pinggir pantai barat Sumatera dan di lembah perbukitan Bukit Barisan. "Garis nasib"-nya seolah dimulai dari alam pesisir.
Sekitar abad ke-14, daerah ini cuma kampung nelayan yang tak terkenal, dan baru di akhir 1790-an menjadi pelabuhan yang banyak dikunjungi kapal pedagang dari Inggris, Perancis, Portugis, dan Cina. Pada tahun 1906, Padang resmi ditetapkan sebagai pemerintahan (gemeente) yang diketuai Residen. Setelah Proklamasi 1945, daerah ini sah berstatus kotapraja, kemudian meningkat menjadi Daerah Tingkat II (1965), lalu ibu kota Provinsi Sumatera Barat (1979). Pelabuhan Teluk Bayur, yang baru bergabung dalam wilayah Kota Padang di zaman pendudukan Jepang, boleh dibilang menjadi salah satu lambang sekaligus saksi sejarah perkembangan kota.
Kehadiran pelabuhan laut ini begitu kental dalam kegiatan ekonomi kota. Itu sebabnya, angkutan laut memegang peran yang lebih besar dibanding angkutan darat. Selama tiga tahun terakhir, (1998-2000), sumbangan angkutan laut ini rata-rata 12 persen. Tahun 2000 kontribusinya Rp 723,3 milyar. Kegiatan angkutan laut Pelabuhan Teluk Bayur yang dikelola PT Pelindo II ini cukup padat. Selama empat tahun terakhir kunjungan kapal terus meningkat, tahun 1999 tercatat 2.622 dan tahun 2001 bertambah menjadi 2.822.
Pelabuhan Teluk Bayur lokasinya memang di Kota Padang. Namun, kegiatan bongkar-muat sehari-harinya belum tentu mewakili sibuknya bisnis kota ini. Lebih banyak kegiatan bisnis daerah sekitarnya, atau Sumatera Barat pada umumnya. Nilai yang dicatat Teluk Bayur juga cukup besar. Sampai tahun 2001, komoditas utama ekspor di pelabuhan tersebut antara lain batu bara dengan nilai 5,6 juta dollar AS, semen (29,8 juta dollar AS), karet (82,0 juta dollar AS), dan kelapa sawit (30,0 juta dollar AS). Produk lain yang juga dikapalkan melalui pelabuhan yang dibangun akhir abad ke-19 di zaman Belanda ini adalah produk hutan (kayu lapis dan olahan, karet dan rotan), perkebunan (kopra, kulit manis, minyak pala, gambir, teh, kopi), alat-alat berat, baja dan besi beton. Kecuali semen, semua komoditas tersebut dikapalkan dari luar kota. Batu bara dari Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung, karet dan kelapa sawit dari Kabupaten Pasaman, Sawahlunto, dan Agam, serta kayu dari Kabupaten Kepulauan Mentawai. Semen termasuk andalan Kota Padang. Hampir 63 persen semen didistribusikan melalui laut dalam kemasan zak dan curah. Selain distribusi, fasilitas pengantungan (packing plant) semen juga dibangun di pelabuhan ini. Hiruk-pikuknya Teluk Bayur tidak berarti positif bagi pemasukan kas Pemerintah Daerah (Pemda) Kota Padang. Karena pelabuhan laut ini dikelola PT Pelindo II, berbagai keuntungan finansial tidak jatuh ke tangan pemda. Kalaupun ada pungutan oleh pemda, itu hanya berhubungan dengan retribusi berupa tarif labuh, tambat, pandu, dan tunda kapal laut. Bukan komoditasnya. Ini satu dilema sendiri bagi pemda kota. Begitu pula terhadap kegiatan perdagangan. Di satu pihak sumbangan perdagangan terhadap total kegiatan ekonomi sampai Rp 1,6 trilyun tahun 2000. Di lain pihak, dampak langsung transaksi perdagangan tersebut perlu dioptimalkan bagi kepentingan Kota Padang.
Setidaknya, kehadiran Pelabuhan Teluk Bayur bisa menjadi magnet bagi pengembangan industri pengolahan, yang saat ini masih berada di posisi kedua setelah subsektor angkutan. Sampai tahun lalu, tercatat 11.979 perusahaan kecil yang menggerakkan denyut ekonomi kota. Industri pengolahan unggulan skala menengah di antaranya pengolahan kayu, air mineral, rotan, dan crumb rubber. Pengolahan kayu, misalnya, banyak terdapat di Kecamatan Lubuk Begalung dan Nanggalo. Lubuk Begalung juga menjadi salah satu lokasi pengolahan crumb rubber, sedangkan industri kecil, bordir dan sulaman, rotan, dan tenun antik (seperti kain songket) merupakan hasil andalan. Industri bordir dan sulaman hampir terdapat di semua kecamatan. Hingga tahun lalu terdapat 87 perusahaan dengan 1.088 tenaga kerja yang aktif.
Masih dalam konteks industri pengolahan, komoditas lain yang tak bisa dipungkiri merupakan kebanggaan Kota Padang adalah semen. Sebagai pabrik semen tertua di Indonesia, kapasitas produksi PT Semen Padang sekarang 5.240.000 ton per tahun. Nilai penjualan bersih perusahaan yang berdiri tahun 1910 ini Rp 1,35 trilyun (2001). Dalam Pos Pajak Daerah, kontribusi pajak bahan galian golongan C tertinggi bagi Pendapatan Asli Daerah, yaitu Rp 8,2 milyar (2001).
Sebagian bahan mentah yang digunakan Semen Padang berasal dari sekitar pabrik (sekitar 15 kilometer dari Kota Padang), yaitu batu kapur di Bukit Karang Putih, batu silika di Bukit Ngalau, dan tanah liat. Bahan lain yang didatangkan dari luar Padang adalah pasir besi dari Cilacap, Jawa Tengah, dan gypsum dari Thailand.
Kota yang semula luasnya 33 kilometer persegi ini berkembang pesat. Berbagai pembangunan fasilitas untuk menunjang kegiatan pemerintahan dan ekonomi terus bertambah. Satu di antaranya adalah Pasar Raya Padang yang setiap hari diramaikan ribuan pedagang tradisional maupun pengusaha pertokoan dan supermarket. Pada awalnya, pusat perdagangan terpusat di kawasan pantai dan Pasa Gadang yang lebih dikenal sebagai kawasan Kota Lama Padang di kecamatan Padang Selatan. Dengan berkembangnya kota perdagangan tergeser ke arah utara, yaitu di Kecamatan Padang Barat. Dalam Pos Retribusi Daerah, retribusi pasar paling tinggi sumbangannya bagi PAD, antara lain Rp 1,8 milyar (2000), Rp 3,4 milyar (2001), dan tahun ini ditargetkan Rp 5 milyar.
Sumber : http://pilkada.partai-golkar.or.id/index.php?action=view&pid=kota&idk=339
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |