Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Bursa Jual Beli
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Makmur Hendrik
Episode Terbaru :
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Pituah

Pisau gadang pisau tambatu
Dibaok urang ka taluak bayua
Di makan anak dari salido
Rumah gadang basandi batu
Adat basandi alua
Alua nan kaganti rajo
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Palanta
This is not a Login form

Name:

Message:

Advertisement
Pariwisata dan Adat Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh Admin   
Senin, 13 Maret 2006
Daerah Minangkabau memiliki pesona alam yang sangat indah. Semua orang, khususnya yang pernah melihat baik langsung maupun tak langsung pasti setuju hal itu. Dan kalau dikembangkan pesona alam tersebut akan dapat menjadi industri pariwisata yang bisa diandalkan baik oleh daerah Minangkabau sendiri maupun Indonesia, hal ini pun akan banyak juga yang akan setuju. 

  

  
 
 
Sejak lama kita telah menyadari bahwa Adat dan Alam Minangkabau sangat potensial menjadi daya tarik pariwisata dunia. Lalu kenapa Pariwisata Sumbar hingga saat ini masih tetap tertidur? Ada kesan, masyarakat Minangkabau hanya merasa bangga dengan pujian tersebut, namun dilanda keragu-raguan untuk mengembangkannya menjadi komoditi yang benar-benar bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat itu sendiri. 
 
Banyak momen penting yang seharusnya bisa membantu perkembangan pariwisata Sumbar dilewatkan begitu saja. Berbagai program yang diluncurkan pemerintah setempat pun seolah tak banyak berarti mendongkrak kunjungan wisatawan. 
 
Keragu-raguan itu bisa jadi muncul akibat persepsi miring yang berkembang di masyarakat, bahwa pariwisata itu akan menghancurkan nilai-nilai adat, etika, dan norma agama masyarakat setempat. Jujur saja, tidak ada yang ingin hal itu terjadi, walaupun sebenarnya adat itu juga dinamis sifatnya. Karena beberapa faktor, lambat laun adat itu juga bisa berubah diikuti dengan penyesuaian etikanya. Yang tidak pernah dan tidak boleh berubah adalah norma Agama (dengan atau tanpa pariwisata, ini tergantung individu). 
 
Meski demikian, sebenarnya ketakutan itu tidaklah beralasan. Dengan berkembangnya pariwisata, semangat untuk mempertahankan adat dan agama itu justru akan lebih tinggi. Semangat itu akan dipicu oleh faktor pembanding (dari pendatang) dalam skala besar. Dampaknya, pertama, masyarakat secara langsung akan disadarkan dan “dipaksa” untuk mengetahui dan melaksanakan seluk beluk adat dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, kekuatan adat itu sendiri nantinya akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Ini artinya, jangankan masyarakat setempat, wisatawan pun tak ingin jika daerah yang dikunjunginya berubah (secara adat). Sebab, wisatawan mengunjungi suatu daerah tentunya dengan alasan khusus, salah satunya adalah kekhasan yang dimiliki daerah itu. 
 
Jika paradigma tersebut telah kita ubah, maka tinggal ada dua pintu lagi yang harus kita buka. Pintu pertama adalah pintu hati. Masyarakat harus membiasakan diri terbuka menerima sesuatu yang asing. Terbuka disini artinya kita harus memaklumi bahwa kelompok-kelompok masyarakat yang ada di setiap belahan dunia ini memiliki adat yang berbeda-beda. Kita tidak mungkin memaksakan agar mereka mengikuti adat kita. Sebab mereka datang untuk berwisata, yang secara ekonomi menguntungkan kita. 
 
Dan kita tidak perlu cemas jika kita membiarkan mereka (wisatawan-red) berbuat sesuai adat mereka, kita akan ikut seperti itu. Masyarakat Minangkabau terkenal dengan pelaksanaan adat dan agamanya yang kuat. Itu sudah cukup membentengi masyarakat. Budaya-budaya asing yang bertentangan dengan nilai-nilai adat dan agama itu tidak akan terserap begitu saja, meski hal itu terpampang jelas di depan mata. Inilah yang kita sebut faktor pembanding. Jika kita tidak mencoba menghadapinya, ini sama artinya dengan “menyerah sebelum bertanding”. 
 
Pintu kedua adalah, berhenti mengartikan pariwisata sebagai keuntungan sesaat. Terkait hal ini juga ada kesan bahwa masyarakat sangat tidak sabar untuk menghadapi kemajuan. Seperti Pantai Padang misalnya, baru saja ditata ulang oleh Pemko, masyarakat sudah tidak sabar untuk meneguk keuntungan dengan membuka warung disepanjang jalur pantai, mengamen, menjadi tukang parkir, dan sebagainya. Kasus pemalakkan dan pungli terhadap wisatawan juga termasuk dalam hal ini. Itu jelas akan menghambat atau bahkan mementahkan keinginan untuk membangun aset wisata. 
 
Tanpa membuka kedua pintu itu, Program Visit Minangkabau Year 2006 tak akan berarti apa-apa, kecuali hanya slogan-slogan harapan tanpa kenyataan. 
 
Pariwisata Sumbar memang sangat potensial untuk maju. Sinyalemen itu erat kaitannya dengan keunggulan suku Minang dalam hal perdagangan. Sebab, esensi Pariwisata sebenarnya adalah Perdagangan. Kita “menjual” pemandangan yang indah, ciri khas daerah, keramahan, dan jasa lainnya. Apalagi urang awak tersebar hampir disetiap belahan bumi ini, yang bisa dimanfaatkan sebagai channel-channel promosi pariwisata. Ditambah lagi dengan telah adanya Bandara Internasional Minangkabau. Kita sebenarnya hanya tinggal memencet satu tombol untuk menggalakkan pariwisata. Dari situ, roda perekonomian pasti akan berputar cepat, menyentuh berbagai elemen masyarakat. Dari pengusaha pariwisata, ekspor-impor, hingga pedagang kaki lima, bahkan pedagang acung pun akan kecipratan. (***)

Sumber www.padangekspres.com 

 

Komentar

Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
Silahkan login atau daftar.

Powered by AkoComment 2.0!

Terakhir kali diperbaharui ( Senin, 13 Maret 2006 )
 
< Sebelumnya
Member Area
Radio Online Minang Pendengar: 8 dari 50 (8 Unik)
Peak: 25
Server Status: Online
Bitrate: 24 Kbps
Sedang Di putar: UKM - Randai-4

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Situs Terbaik
Member
 Cimbuak.net | Minangkabau Community Portal Groups Online
 Anggota ( 32 ) Anggota 32
 Tamu ( 8 ) Tamu 8
  Total  40
 Angoota ( 7,180 ) Angoota  7,180


Statistik
Agg Baru  Dolly etno
Hari Ini 13
Minggu Ini 102
Bulan Ini 413
Tahun ini 3,051
Online Sekarang
Online Sekarang
Saat ini ada 8 pengunjung dan 32 anggota yang online
User Terbaru

a_tu4k

Terdaftar pada
2008-07-06 03:25:19

Pengunjung: 3482039