|
Pituah |
Bundo kanduang Limpapeh rumah nan gadang Amban puruak pegangan kunci Amban puruak aluang bunian Pusek Jalo kumpulan tali Hiasan dalam nagari |
|
|
Arsitektur Tradisional Minangkabau |
|
|
|
|
Written by admin
|
|
Saturday, 01 April 2006 |
Rumah tradisional Minangkabau yang lazimnya disebut dengan Rumah Gadang, merupakan suatu bangunan rumah adat yang bagian luar dan dalamnya mengandung arti dan makna tersendiri, serta secara keseluruhan merupakan cermin dari sistem kekerabatan matrilineal.
   Bentuk Rumah Gadang yang dikenal di Minangkabau dibagi menjadi tiga jenis, yaitu: pertama, Rumah Gadang Gajah Maharam, Disebut gajah maharam karena keseluruhan bangunan ini menyerupai bentuk gajah yang sedang mendekam (maharam berarti mendekam). Dimana perbandingan panjang, lebar dan tingginya menimbulkan kesan gemuk. Rumah Gadang Gajah Maharam ini beranjung kanan dan kiri. Anjungannya mempunyai arti simbolis dari sistem pemerintahan adat Koto Piliang. Kedua, Rumah Gadang Rajo Babandiang. Arsitekturnya tidak mempunyai banyak perbedaan dengan Rumah Gadang Gajah Maharam. Hanya saja atapnya sedikit lebih tinggi. Bagian dalamnya tidak mempunyai lantai kira-kira 20 sampai 30 cm (disebut tingkah). Bagian belakang belakang rumah sepertiganya ada yang ditinggikan dsebut bandua Ketiga, Rumah Gadang Bapaserek. Bapaserek adalah berpereset, maksudnya adalah mempunyai bagian yang diseret. Bagian yang diseret adalah bagian belakang rumah, yaitu beberapa kamar. Jadi kalau diperhatikan dari belakang nampak lebih keluar dari bagian dinding luar anjungnya. Anjung Rumah Gadang ini hanya ada pada sebelah kirinya dan bila anjung ditinggikan, akan sama keadaannya dengan anjung Rumah Gadang Rajo Babandiang. Keistimewaannya ialah bagian yang ditinggikan merupakan tingkat ketiga, yaitu bagian tengah dari bangunan menurut panjangnya. Proses pembuatan bangunan bermula dari proses pemufakatan terlebih dahulu, yang disebut dengan adok-adok, yang dilakukan antara sesama saudara pada suatu kaum yang kemudian dilanjutkan seluruh kaum dalam pesukuan itu. Tingkat selanjutnya pemufakatan dilangsungkan antara ninik-mamak dalam nagari sampai terdapat kata mufakat bahwa niat mendirikan Rumah Gadang dapat diterima, karena telah sesuai dengan adat istiadat batuanglah tumbuh dimato yang artinya: apa yang telah diputuskan itu pada tempatnya. Ada tiga tahapan dalam mendirikan Rumah Gadang, yaitu pertama, mencari tonggak tuo (tiang tua) yaitu mencari kayu ke hutan yang dilepas dengan jamuan makan dan do’ a semoga apa yang dimaksud tercapai. Bila kayu sudah didapat diberi tanda (dikatuah) bahwa kayu sudah ada yang mempunyai. Tahapan kedua adalah menegakkan tonggak tuo. Suatu pengetahuan yang menjadi kebiasaan bagi orang Minang ialah apabila hendak menebang kayu, dipilih yang tidak berbunga (jangan pada waktu berbunga). Karena bagaimanapun tuanya kayu nanti bila dipilih pada waktu berbunga pasti akan dimakan rayap. Tahapan ketiga dan terakhir adalah upacara menaikkannya. Kayu yang sudah ditebang, ditarah dan kemudian dilakukan upacara gotong-royong. Yang laki-laki menarik bersama-sama, yang wanita menyongsong rombongan dengan makanan. Pada hari pertama tonggak tuo ditarik dari hutan sampai ke kampung. Setelah di kampung, direndam dalam air beberapa, kemudian diadakan upacara syukuran. Untuk langkah selanjutnya mencari tiang-tiang yang tidak lagi disertai oleh upacara-upacara. Untukmulai mendirikan bangunan, dicari penetapan baik-buruknya hari (manakok hari), disertai upacara makan bersama. Proses pembuatan bangunan tradisional Rumah Gadang Minangkabau berjalan dalam waktu yang cukup panjang, bertahun-tahun bahkan kadang-kadang sampai belasan tahun. Proses yang panjang ini disebabkan oleh faktor pengadaan bahan bangunan, dan teknis pengerjaannya. Dalam proses tersebut yang dianggap paling penting adalah mencari tonggak tuo yang dilakukan oleh serombongan laki-laki yang dihormati dan beberapa orang ahli tentang jenis-jenis kayu.
Sumber www.properti.net
Gambar koleksi cimbuak
Trackback(0)
|
|
Last Updated ( Saturday, 01 April 2006 )
|
|
|
Yayasan Palanta Cimbuak |
 Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko |
|
Donasi Terakhir |

| Dari | Jumlah | | Harmailis | Rp. 200.007,-- | | Ajo Duta / Mak Uncu | Rp. 1.000.000,-- | | Inyiak Jangkuang | Rp. 56.789,-- | | Dave, Melbourne | Rp. 300.000,-- | Balance Sementara
| Rp. 1.116.796,-- | |
|
Online Sekarang |
|
We have 11 guests and 13 members online |
|