Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
Advertisement
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Nan ado samo dimakan
Nan indak samo dicari
Kok Jauah kana mangana
Kok dakek jalang manjalang
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Manisnya Gula Puncak Lawang PDF Print E-mail
Written by admin   
Monday, 10 April 2006
Di sela-sela rimbunan kebun tebu Puncak Lawang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, berdiri gubuk bertiang kayu, beratap ilalang yang berlubang di puncaknya, dan berlantai tanah. Tanpa dinding, hitam jelaga melabur semua bagian gubuk.


Meski amat sederhana, ratusan gubuk seperti itulah yang telah menebarkan manisnya gula dari dusun yang terletak tak jauh dari Danau Maninjau ke seantero ranah Minang. Orang-orang Puncak Lawang menyebut ratusan gubuk seperti itu kilang gula merah.
Setiap pagi, kilang-kilang Puncak Lawang menggeliat dengan kerja para lelaki, perempuan, dan kerbau peliharaan mereka. Tebu-tebu ditebas, dibersihkan daunnya. Air sari tebu yang manis diperas lewat gerinda kayu ataupun besi yang diputar kerbau, yang ditutup matanya dengan tempurung kelapa. Kacamata tempurung kelapa itulah yang menjamin kepatuhan sang kerbau untuk terus berjalan berputar.
Kerbau sudah menjadi rekan setia para perajin gula merah Puncak Lawang selama dua generasi. Menurut Marjudin Sutan Asli, pembuat gula merah, dulu roda penggiling diputar oleh lima-enam orang.
Air sari perahan yang manis pun dituang dalam kuali besar untuk kemudian dipanaskan dalam tungku batu berbahan bakar kayu dan ampas tebu.
Dan bila air tebu telah mengental coklat kemerahan, itulah saatnya menyiapkan cetakan-cetakan kayu. Pasta coklat dituangkan, tak sampai dua menit kepingan-kepingan gula merah mengeras nan manis, siap dipasarkan.
Para pembuat gula merah seperti Marjudin bekerja mulai sekitar pukul 08.00 hingga senja, sekitar pukul 17.00. Sehari, dia dengan dibantu istri dan terkadang dengan tiga anaknya, bisa mencetak 40 kilogram keping gula merah dari 300 hingga 400 batang tebu.
Dari gula tebu itulah putri sulungnya kini dapat kuliah ilmu komputer di sebuah perguruan tinggi di ibu kota propinsi, Padang, dan dua anaknya yang lain menuntut ilmu di sekolah menengah umum di Bukit Tinggi. Semua dari gula merah yang dijual Rp 2.500 per kilogram. (YNS/NAL/AIK)
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0601/11/Bingkai/2355095.htm

 

Trackback(0)
Comments (1)add comment

Lumoet said:

Berita diatas benar sekali, dan harga gula dengan energi yang dikeluarkan untuk memproduksi gula manis belum seimbang, karena murahnya harga gula manis.
 
report abuse
vote down
vote up
September 24, 2007
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 12 guests and 12 members online
Generated in 0.62369 Seconds