Dibawa pikat dibawa lalat.
Dibao ribuik dibao angin, dibao pikek dibao langau. Ribut adalah angin yang agak kencang, langau sama dengan lalat dan pikek adalah sebangsa lalat yang agak lebih besar.
Biasanya yang terjadi dialam, yang suka dibawa lalat serfta angin itu adalah bibit penyakit, apakah penyakit tanaman atau penyakit manusia.
Tafsir isi pantun :Muluik jo hati kok balain, pantangan adaik Minagkabau. Satu pernyataan bahwa adat Minangkabau itu memberi petunjuk perlunya keterbukaan, berterus terang, jangan sampai lain dimulut lain dihati, jadi berkatalah dengan jujur. Akan tetapi nasehat dalam pantun ini kadang-kadang
bertentangan dengan sifat orang Minang yang ahli berpolitik, seperti yang telah kita bahas pada pantun sebelum ini:
=Dalam lahie
ado babathin,dalam bathin bakalipik pulo=
Jadi ada hal-hal tertentu yang perlu disembunyikan , yang menjadi rahasia pribadi atau hanya dapat dibicarakan dengan orang dekat saja. Demikian pula sebagai pengusaha, orang Minang memang suka menerapkan open management, akan tetapi tidak open seluruhnya dalam arti telanjang bulat, tetap saja ada hal-hal tertentu yang harus disembunyikan. Untuk mencapai sesuatu maksud tertentu dalam hatinya, kadang-kadang perlu berkata lain. Malah kalau yang dikatakan sama dengan yang dihati, bisa saja maksud hati itu tidak akan tercapai. Pada intinya nasehat yang ada pada pantun ini adalah jangan sampai berkata bohong, kalau akan menimbulkan kerugian pada orang lain, atau kalau akan menimbulkan keadaan yang tidak baik.