Ka Koto mambao suluah,
Dari munggu tampak barasok.
Ibo di badan ka takicuah,
Ilimu ijan dibao
lalok.
Artinya :
Ke Kota membawa suluh,
Dari munggu tampak berasap.
Kalau tak ingin badan terkecoh,
Ilmu jangan dibawa tidur.
Tafsir sampiran : Ka Koto mambao suluah,dari munggu tampak barasok. Suluah adalah alat penerangan kalau berjalan diwaktu malam hari. Ada yang dibuat dari daun kelapa kering yang disusun rapat, dipegang pangkalnya lalu ujungnya dibakar. Api yang menyala akan menerangi jalan yang akan ditempuh.
Suluh yang lebih moderen dari itu, terbuat dari terbuat dari bambu kecil, yang diisi minyak tanah, dan diberi sumbu dengan sabut kelapa atau dengan kain bekas. Kedua jenis suluh tersebut akan mengeluarkan asap pada waktu digunakan. Dalam sampiran pantun ini dikatakan bahwa asap
itu kelihatan dari “munggu”, yaitu suatu tempat yang agak ketinggian.
Tafsir isi pantun :Ibo dibadan ka takicuah, ilimu ijan dibao lalok. Maksudnya kalau sayang dengan diri sendiri, jangan sampai ditipu oleh orang lain, maka ilmu itu dipergunakan, jangan dibawa tidur. Orang yang biasa kena tipu adalah orang yang ilmunya agak kurang, atau orang yang kurang berhati-hati. Atau ada pula orang yan g mempunyai ilmu, akan tetapi jarang dia menggunakan ilmunya itu. Sebenarnya yang dimaksud dengan “menggunakan ilmu” disini adalah satu nasehat agar selalu berhati-hati, pikirkan dulu dari segala segi, baik buruknya sebelum mengambil satu
keputusan.
Kalau ada seseorang menawarkan sesuatu, mengajak mengerjakan sesuatu, meminta sesuatu atau mengajak bekerja sama dan sebagainya, jangan terlalu mudah memutuskan untuk menerima atau menolaknya. Pikirkan dulu masak-masak sebelum memutuskan, sehingga kita tidak sampai tertipu.
Yang dimaksud dengan ilmu dalam pantun ini sebenarnya adalah otak, akal atau pikiran. Otak itu harus dipakai, jangan dibawa tidur.