|
Page 7 of 15 Baburu ka Padang data, Dapeklah ruso balang kaki. Baguru kapalang aja, Ibaraik bungo kambang tak jadi. Artinya : Berburu ke Padang Datar Dapatlah rusa belang kaki. Berguru kepalang ajar, Ibarat bunga kemang tak jadi. Tafsir sampiran :Baburu ka Padang Data, dapeklah ruso balang kaki. Sebagai daerah pegunungan maka sulit menemukan lokasi yang datar di Minangkabau. Kalau ada tempat datar yang agak luas terdapat dihutan, atau dimana saja biasa dinamakan Padang Datar. Dalam sampiran pantun ini Padang Datar itu terletak dihutan, dimana banyak terdapat binatang liar, sehingga cocok untuk tempat berburu. Dalam perburuan itu dikatakan mendapat rusa yang kakinya belang. Tafsir isi pantun : Berguru kepalang ajar, ibarat bungo kambang tak jadi. Kepalang ajar artinya tidak sampai selesai, tak sampai tamat. Ibaratnya bersekolah tidak sampai dapat ijazah. Bunga kembang tak jadi, berarti gugur sebelum berkembang, jadi bunga itu tidak sampai kembang, tak sampai membentuk buah, tak sampai menghasilkan biji untuk melanjutkan turunannya. Jadi bunga itu tak ada gunanya, tak ada manfaatnya, menghias tidak sampai, melanjutkan generasi juga tak mungkin. Maka pantun ini menasehatkan kalau sekolah tidak sampai tamat, atau berguru tidak sampai mengerti, maka tidak ada gunanya, dari itu lebih baik tidak , karena akan membuang energi saja. Sebaliknya kalau mau berguru, belajar menuntut satu kepandaian tertentu, hendaklah sampai mengerti benar-benar, sehingga pengetahuan itu dapat dipergunakan. Demikian pula kalau sekolah, hendaklah sampai tamat, sampai mendapat ijazah, jangan sampai terputus ditengah jalan. Lebih jauh secara umum pantun ini memberi petunjuk bahwa apapun yang dikerjakan, yang direncanakan, hendaklah dilakukan sampai tuntas, jangan kepalang tanggung, dan mengerjakannya pun hendaklah serius, tekun , jangan hanya separoh hati, atau asal-asalan saja.
Untuk itu apapun yang akan dikerjakan harus didasari perhitungan yang matang lebih dulu, seberapa besar peluangnya akan berhasil. Jangan mengerjakan sesuatu yang tidak mungkin. Kok bakato elok marandah, Lamak dilua kuaik didalam. Muluik manih kucindan murah, Muko janiah indak pandandam. Artinya: Kalau berkata lebih baik merendah, Enak diluar kuat didalam. Mulut manis senyuman murah, Muka jernih tidak pendendam. Tafsir sampiran : Kok bakato elok marandah, lamak dilua kuaik didalam. Berbeda dengan pantun lainnya, pantun ini telah mengandung nasehat mulai dari sampirannya. Nasehat dari sampiran ini adalah agar jangan berkata sombong, kalau berkata itu lebih baik merendah saja. Enak kedengarannya, lemah lembut, akan tetapi apa yang dikatakan itu bukanlah omong kosong, mempunyai dasar yang kuat didalam. Maksudnya apa yang dikatakan itu adalah bersungguh-sungguh, tak bias ditawar-tawar, tegas. Tafsir isi pantun : Muluik manih kucindan murah, muko janiah indak pandandam. Ini juga suatu nasehat kepada seorang yang sedang berbincang dengan orang lain atau bertemu muka dengan orang lain. Berkatalah dengan mulut yang manis, artinya kata-kata yang enak didengar, tidak kata-kata kasar. Suaranya pun sedang-sedang saja, tidak terlalu keras dan tidak pula kurang kedengaran. Kucindan murah, maksudnya murah tersenyum yang diikuti dengan mimik muka yang menarik (kucindan). Sama sekali jangan memperlihatkan raut muka yang cemberut, seperti pendendam.
|