|
Berada di Kota Padang, Sumatera Barat, jangan bingung soal makanan. Banyak pilihan dan tersebar di banyak tempat, dari pagi hari hingga larut malam. Yang selalu jadi pertanyaan tetamu, "Kok rumah makan padang tak ada ya? Padahal, ada ratusan rumah makan yang hidangannya mengundang dan menggoda selera semua." Walaupun ada banyak pilihan, tetapkan dulu apa keinginan Anda. Untuk sarapan pagi, misalnya, ingin yang umum atau yang spesifik? Kalau yang spesifik, khasnya makanan tradisional Minang adalah bubua (bubur) kampiun. Jika bertanya di mana ada sarapan pagi bubua kampiun, jawabannya, "Bubua kampiun Blok a (Pasar Raya Padang)."
Disebut Blok A, sudah terbayang lokasinya. Blok A adalah salah satu kawasan tempat ratusan pedagang grosir berjualan. Khusus tempat bubua kampiun ini menempati satu petak berukuran 3 x 6 meter di lantai dasar pusat perdagangan barang elektronik. Walaupun orang menyebut dan mengenalnya sebagai bubua kampiun Blok A, tetapi sebenarnya yang dimaksud adalah Bofet Baru Sianok yang kini dikelola Nirman (58) dengan delapan pekerja memakai sistem bagi hasil. Bofet Baru Sianok yang mulai buka pukul 07.00 ini tak mewah betul. Di ruang yang terbatas itu hanya ada tujuh meja berukuran 75 x 75 sentimeter dengan kapasitas tempat duduk sekitar 30 orang. Pada pagi hari, tempat ini agak sepi. "Kalau agak pagi-pagi, kami banyak melayani pedagang yang sedang membuka tokonya, dan pesanan bubua kampiun atau lontong gulai toco, dan atau gulai cubadak dengan minuman teh talua, kami antarkan ke tempat mereka," kata Nirman. Benar juga, ketika Kompas datang, baru sebagian kursi terisi. Tak lama kemudian, semua tempat duduk penuh. Bahkan, ada yang antre beberapa menit, menunggu kursi yang kosong. "Bubua kampiun ciek, Pak," ujar seseorang setelah mendapatkan tempat duduk. Pelayan mengantar segelas air putih sembari menanyakan, "Minumnya apa?" Maksudnya, apakah selain air putih ingin minum teh manih (panas) atau teh talua. Kalau ingin minum yang spesifik, ya, teh talua (teh telur). Tak lama pesanan bubua kampiun datang. Benar-benar kampiun. Cukup lengkap, ada delapan ragam isinya. Ada bubur putih, ada bubur kacang padi (kacang hijau), ada bubur hitam, ada bubur cande, ada kolak labu, ada kolak ubi jala (ketela rambat), ada ketan putih, dan ada bubur delima. Bayangkan, dalam satu porsi pesanan ada delapan ragam makanan tradisional berbaur, yang menurut Nirman, simbol pluralisme yang cukup mengental dan mengakar di Ranah Minangkabau. "Di samping simbol pluralisme, juga simbol kebinekaan tunggal ika, berbeda-beda tetapi tetap satu padu, hidup rukun dan damai. Bersatu dalam satu rasa, manis. Tidak ada rasa yang saling mengalahkan," ungkap Nirman. Satu-satunya Bubua kampiun Bofet Baru Sianok atau bubua kampiun Blok A tak semata-mata menjual bubua kampiun. Ada pilihan sarapan pagi lainnya, seperti lontong gulai toco (buncis) dan lontong gulai cubadak. Untuk lontong ini yang membedakannya dengan lontong-lontong yang dijual di tempat lain adalah di atasnya ditaburi kacang. "Walau begitu, sejak berjualan tahun 1974 sampai sekarang, yang spesifik dan dicari orang tetap saja bubua kampiun," jelas Nirman, yang merupakan generasi kedua memimpin usaha bofet ini setelah perintis dan pemiliknya, M Noer Datuk Rajo Endah, meninggal beberapa tahun lalu. "Saya bukan pemilik, tetapi telah bekerja sejak tahun 1974 dan kini dipercaya meneruskan usaha ini," tambahnya. Nirman menjelaskan, dulu yang berjualan bubua kampiun di Kota Padang ini cukup banyak. Karena sudah suratan nasib, barangkali, yang lain tidak bertahan lama. Satu per satu tutup. Bahkan, di Restoran Simpang Raya dulunya juga ada, tetapi akhirnya tak lagi jualan bubua kampiun. "Alhamdulillah, kami masih tetap bertahan. Untuk bubua kampiun yang tempatnya di toko, ya, di Blok A ini satu- satunya. Ada juga yang dijual di pinggir jalan dengan gerobak dorong, tetapi itu tak banyak dan tidak selengkap bubua kampiun Blok A," jelas Nirman. Yang datang sarapan pagi bubua kampiun dari berbagai kalangan. Dulu mungkin seseorang belum menjadi pejabat, atau tokoh politik, atau manajer suatu BUMN. Akan tetapi, setelah "menjadi orang", mereka masih tetap sarapan bubua kampiun dan menjadi pelanggan setia. Bagi yang bertugas di luar Kota Padang, kalau sempat ke Padang tetap melepaskan taragak (kangen) makan bubua kampiun. Nilai lebih Sejumlah pelanggan mengakui, ada nilai lebih sarapan dengan bubua kampiun dibanding sarapan dengan yang lain. "Karena bubua kampiun manis, kalori yang dihasilkannya tentu lebih tinggi. Artinya, kalau kita terlambat makan siang karena kesibukan, maka daya tahan tubuh tetap tinggi. Jauh dari gejala mag," kata Armadison, pedagang grosir di kawasan Blok A. Hal senada dikemukakan Rozalina. "Tidak hanya yang dewasa suka bubua kampiun, anak-anak juga. Makanya, untuk sarapan pagi sering pilihannya bubua kampiun," katanya. Begitu juga untuk pilihan minum pagi, cenderung memilih teh manis dan atau teh talua yang rasanya sama-sama manis. Dari dua pilihan minum pagi itu kebanyakan pelanggan pilih teh talua karena proteinnya tinggi dan juga membuat daya tahan tubuh lebih baik. Soal rasa, enaknya teh talua bukan main. Ondeh mande, sero rasonyo (enak sekali). Teh talua yang merupakan minuman khas Ranah Minang ini sering diibaratkan orang sebagai "dopping" atau obat kuat, minuman suplemen yang bergizi dan berenergi tinggi. "Untuk minuman, teh talua di Bofet Baru Sianok, Blok A, juga khas. Padiah (bukan main enak rasanya)," kata budayawan Sumbar yang kini Sekretaris Dewan Kesenian Sumatera Barat, Nasrul Azwar. Ia juga salah seorang pelanggan bubua kampiun dan teh talua. "Yang khas dari bubua kampiun di Blok A itu adalah kolak maik. Maksudnya, kolak ubi jalar (ketela rambat warna kuning), lalu disiram gula saka enau. Onde mande, sero rasonyo," tuturnya. Tidak Seramai Dulu Walau masih tetap dicari orang, omzet penjualan bubua kampiun tidak sebesar sebelum krisis ekonomi melanda bangsa ini. Situasi ini ditambah lagi dengan pindahnya terminal bus Lintas Andalas ke kawasan Aiapacah, sekitar 20 kilometer dari pusat kota sejak tiga tahun lalu, menyebabkan pelanggan berkurang. "Dulu karena terminal bus di Lintas Andalas, setiap orang yang ke Pasar Raya Padang melewati kawasan Blok A. Biasanya, mereka sarapan pagi dengan bubua kampiun atau lainnya, sampai-sampai banyak pelanggan antre. Dibanding dulu dengan tujuh tahun terakhir, pelanggan tetap ada, tetapi tak sebanyak dulu," kata Nirman, tanpa mau menyebut besar omzet penjualan setiap hari, meski mengakui ada penurunan omzet hingga sepertiga. Dulu khusus bubua kampiun, biasanya sejam-dua jam setelah dibuka pukul 07.00, sudah habis. Sekarang, tak menentu, kadang pukul 10.00 habis, namun adakalanya hingga siang belum habis. Sebelum terminal bus pindah, di sana juga ada ampiang dadiah (emping dadih), yakni susu kerbau yang difermentasi dicampur dengan emping dari beras pulut (ketan), lalu diberi cairan gula saka enau atau saka tebu. Tambah enak lagi kalau ditambah telur separuh matang. "Dulu bisa habis 30 tabung (bambu berukuran besar) dadiah setiap hari. Tetapi, sejak terminal bus pindah tiga tahun lalu, kami tak lagi jualan ampiang dadiah. Ini salah satu makanan spesifik di bofet kami selain bubua kampiun," papar Nirwan. Selain itu, mulai pukul 09.00 setiap hari juga ada nasi sup sapi. Karena itu, setiap hari bofet ditutup pukul 17.30.
Trackback(0)
|