|
Dibangun Dengan Dana Rp 100 milyar Lebih Padangpanjang, Kompas - Pembangunan terminal bus di sejumlah kota/kabupaten di Sumatera Barat belum diikuti dengan perencanaan dan strategi yang matang. Akibatnya, hampir 10 tahun terminal yang sedikitnya menghabiskan dana Rp 100 miliar itu jadi telantar.
Bahkan, sebagian fasilitas yang ada sudah rusak dan hancur, dan yang nyaris jadi rumah hantu. "Pembangunan terminal bisa memicu perkembangan dan perluasan kota, termasuk kemajuan kota/kabupaten, asal direncanakan secara matang. Selama ini hanya baru sekadar berorientasi proyek, dan membangunnya jauh dari pusat kota. Padahal, kunci keberhasilan suatu terminal, di dekatnya harus ada pasar," kata Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia, Haji Basril Djabar, rabu (19/7), ketika meninjau Pasar Sayur dan Hasil Bumi di kawasan Terminal Bukit Surungan, Kota Padangpanjang, Sumatera Barat. Empat terminal yang telantar tersebut adalah Terminal Jati Pariaman, Terminal Regional Bingkuang di Kota Padang, Terminal Bareh Solok di Kota Solok, dan Terminal Bukit Surungan di Kota Padangpanjang. Basril menjelaskan, terminal yang telantar bisa dihidupkan kembali dengan bekerjasama dengan investor, membangun fasilitas lain terutama pasar. "Investor yang berminat pasti ada. Tinggal Pemerintah Kabupaten/Kota menyiapkan lahan yang memadai di samping terminal untuk membangun kawasan pasar. Kemudian memberikan pelayanan yang baik dan kemudahan kepada investor. Ke depan Pemerintah Kota/Kabupaten akan menikmati hasilnya karena itu akan cepat berkembang," ungkapnya. Ia melihat ada dua kawasan pasar di Sumatera Barat yang cukup luas, tetapi karena tidak ada terminal juga telantar, seperti Pasar Amur di Kabupaten Agam dan Pasar Kasang di Kabupaten Padang Pariaman. Kedua pasar grosir itu mesti segera dibangunkan terminal, baik terminal truk maupun terminal angkutan kota dan angkutan antarprovinsi agar investasinya tidak sia-sia. Pasar Sayur Untuk memanfaatkan Terminal Bukit Surungan yang selesai dibangun tahun 1990-an, Wali Kota Padangpanjang, Suir Syam mengajak PT Alam Sejahtera Sejati membangun Pasar Sayur dan Hasil Bumi terbesar untuk Sumatera bagian tengah. "Terminal Bukit Surungan nyaris jadi rumah hantu, telantar dan tak mendatangkan pemasukan bagi Pemerintah Kota Padangpanjang. Jadi, kehadirannya sia-sia," ujarnya. Pembangunan Pasar Sayur dan Hasil Bumi itu, kata Suir Syam, sudah hampir rampung tahap pertama dan tanggal 10 Agustus 2006 mendatang akan dioperasionalkan. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu yang akan meresmikan. "Jika selama ini Kota Padangpanjang hanya jadi kota perlintasan saja, maka kini dan ke depan diupayakan bagaimana menjadi kota tujuan pariwisata, pendidikan, dan pusat pasar grosir sayur-mayur," ungkap Suir Syam. Investor PT Alam Sejahtera Sejati, Elvian Noveri SE berani membangun pasar sayur itu karena lokasinya sangat strategis. Di samping berdampingan dengan terminal, juga berada di simpang tiga jalan menuju Kota Bukittinggi, Padang, atau arah menuju Kabupaten Tanahdatar dan Kota Solok. "Praktis semua bus antarkota maupun truk dipastikan mampir dan melewati Pasar Sayur dan Hasil Bumi, yang akan menjadi pasar grosir sayur-mayur atau pasar induk terbesar di Sumatera bagian tengah," katanya. (NAL) Nafas Para Pedagang akan Menghidupkan Terminal
Kota Padangpanjang, Sumatera Barat, selama ini boleh jadi identik dengan sate atau emping dadih. Atau juga identik dengan Pusat Dokumentasi dan Informasi Minangkabau (PDIKM) dan Perkampungan Minangkabau. Sebagian orang sudah lupa, bahwa Padangpanjang adalah pusat pendidikan Islam terkemuka di Tanah Air. Ada Diniyah Puteri, Kauman Muhammadiyah, Sumatera Thawalib, dan banyak tokoh besar yang sekolah di sana, seperti Buya Hamka. Kurang dikenal, karena kota seluas sekitar 23 km persegi, hanya menjadi tempat perlintasan antara Kota Bukittinggi atau Batusangkar dari Padang. Kota sejuk dan dikenal sebagai kota hujan ini, topografinya berbukit-bukit dan beralam sangat indah memesona. "Padangpanjang sejak tahun 1960-an sudah dikenal sebagai pusat perdagangan hasil pertanian dan hortikultura, ikan kering, dan pedagangan emas dan lain-lain di wilayah Sumatera tengah," kata Wali Kota Padangpanjang, Suir Syam, Rabu (19/7). Karena perkembangan kota, kawasan pasar menjadi padat dan semrawut. Pedagang dari berbagai daerah sekitar yang berdagang ke Padangpanjang akhirnya pindah. Untuk menghindari kesemrawutan, dibangunlah terminal megah, lokasinya agak ke pinggiran kota. Karena tidak diikuti berbagai kebijakan, keberadaan terminal malah menjadi beban bagi pedagang. "Adanya terminal baru di pinggiran kota, membuat mereka harus naik angkutan kota ke pasar dan upah bongkar muat. Ini jelas tidak efisien, dan akhirnya pedagang antardaerah dan pedagang grosir pindah ke Padang, ke Bukittinggi, Solok dan daerah lainnya," jelas Suir Syam. Akhirnya terminal itu pun ditinggalkan pedagang, apalagi angkot dan bus enggan masuk terminal. "Tokoh-tokoh masyarakat, para pedagang, DPRD, dan Pemerintah Kota Padangpanjang sepakat mengembangkan pasar dengan memindahkan pedagang sayur dan hortikultura, mengoptimalkan Terminal Bukit Surungan, memindahkan pangkalan truk. Ini sekaligus menyelamatkan Bukit Surungan yang telah dibangun sejak tahun 1990-an dapat difungsikan dengan optimal," jelasnya. Pasar yang total luasnya 2,5 hektar tersebut tahap pertamannya sudah hampir rampung dan dicanangkan menjadi pasar (induk) sayur-mayur dan hasil bumi. Berbagai sarana dan parasarana penunjang lainnya akan diarahkan pembangunannya ke kawasan pasar ini. Kehadiran sejumlah pedagang akan memberikan nafas bagi pasar dan terminal bila aktivitas bongkar muat dekat dengan aktivitas perdagangan. Keamanan barang dan kendaraan terjamin. Upah bongkar muat, buruh angkat, dan bisnis tempat parkir akan marak. Parkir khusus truk untuk bongkar muat harus diatur agar tidak memberatkan petani,dan pedagang. "Praktik percaloan juga harus dihilangkan, lalu semua angkutan kota dan bus, harus masuk terminal, maka semua akan berjalan lancar," kata pedagang. Menurut Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia, Haji Basril Djabar, kebijakan Pemerintah Kota Padangpanjang ini bisa memberi inspirasi bagi daerah lain yang terminalnya telantar. "Terobosan yang dilakukan Wali Kota akan untuk menghidupkan dan mengoptimalkan fungsi terminal. Terminal hidup, pedagang hidup, ekonomi warga maju, dan kota akan berkembang," ujarnya. (YURNALDI) http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0607/20/sumbagut/2822718.htm
Trackback(0)
|