Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
Advertisement
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Jikok kato bamulo dari hati
Yo ka hati juo ka masuaknyo
Jikok kato bamulo dari lidah
Talingo sajo parantiannyo
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Merantau:Tradisi ‘Mambangkik Batang Tarandam’ PDF Print E-mail
Written by Nofrianti   
Saturday, 05 August 2006
Orang-orang Sumatera Barat, yang dahulu kala bernama ‘Minangkabau’, tak disangkal lagi terkenal karena dua hal yakni tradisi manggaleh (berdagang) dan tradisi merantau. Di Indonesia, siapa yang tak kenal Rumah Makan masakan Padang? Hidup tak lengkap kalau belum ke sana. Bayangkan, racikan bumbu masak bernuansa pedas ditambah lagi adonan kuah pekat, pasti mengundang selera siapa pun yang lewat. Aromanya menebar dimana-mana.

Berikutnya tradisi merantau. Kecenderungan tradisi ini dilatarbelakangi karena keinginan kehidupan yang layak di negeri orang, tanpa mempedulikan lagi kehidupan di kampung halaman. Apakah ia orang berada (ber-uang) atau orang bangsai’ (melarat), semuanya pergi meninggalkan kampung halaman menuju ke berbagai penjuru dunia. Juga, mereka tak peduli dengan kehidupan yang dialami di perantauan, apakah senang? bahagia? atau malah sengsara?
Ini diabadikan dalam sebuah pepatah-petitih lama berbunyi, “Marantau bujang dahulu di kampuang banguno balun”. Artinya, seorang pemuda apalagi telah menamatkan pendidikan diwajibkan meninggalkan kampung halaman, sementara di kampung halaman sang pemuda belum dapat berfungsi secara penuh.
Mereka berkeyakinan, perubahan pasti terjadi bila meninggalkan kampung halaman. Harapan ini biasanya dihubungkan dengan pepatah lain, yakni ‘mambangkik batang tarandam’. Maksudnya yaitu mengembalikan kejayaan yang pernah dimiliki atau terkubur. Karena ‘batang tarandam’ secara harfiah menurut adat Minangkabau adalah proses perendaman pohon kayu yang akan digunakan untuk konstruksi rumah Gadang, rumah adat Minangkabau. Sebab, bahan dasar pembuatan rumah Gadang adalah kayu yang telah direndam di lumpur selama berbulan-bulan agar tetap kokoh dan tidak dimakan rayap. Dengan adanya kegiatan membangkit batang terendam berarti mempersiapkan sebuah bangunan. Bangunan ini adalah lambang kelahiran sebuah peradaban.
Kebanyakan mereka yang berani mengarungi dunia perantauan terkadang sukses, tapi tak menutup kemungkinan ada yang gagal. Lazimnya, kesuksesan dan kegagalan mereka tak lepas dari sumbangsih para dunsanak dan famili yang telah dahulu pergi ke tanah seberang (merantau). Apalagi bila ada persiapan sebelum merantau alias ‘dekingan’ (induk semang) atau keluarga yang telah sukses.
Sisi lain, ‘mambangkik batang tarandam’ juga berarti usaha mengembalikan kejayaan masa lalu. Memugar kembali sesuatu yang pernah dibanggakan. Mereka, orang-orang perantau, harapan untuk ‘mambangkik batang tarandam’ bermakna tekad kuat guna mengembalikan citra Minangkabau yang pernah jaya di pentas nasional maupun internasional.
Makna ini sering digunakan oleh para perantau yang akan meninggalkan kampung demi melanjutkan pendidikan. Tapi, ada juga yang beranggapan,  ‘mambangkik batang tarandam’ bermakna usaha mengumpulkan kekayaan sebanyak mungkin, sebab ketenaran itu akan datang dengan sendirinya seiring dengan kekayaan yang diperoleh.
Seorang Mamak malu bila anak kemenakannya yang sudah menamatkan  pendidikan tapi masih menganggur di kampung halaman. Percuma, memiliki anak  tamatan perguruan tinggi sekalipun kalau pekerjaannya masih seperti orang tuanya, mengolah tanah di kampung halaman. Anggapan ini melihat seolah-olah kehidupan di rantau itu begitu menjanjikan dan pasti akan jaya.
Tak peduli, apapun pekerjaan yang dilakukan di perantauan. Sebab, masyarakat memiliki sebuah sudut pandang berbeda, antara yang merantau dengan yang tidak. Sebuah keyakinan baru akan muncul, bila sang pemuda meninggalkan kampung tempat kelahirannya.
Tak jarang banyak pemuda atau perantau gagal di perantauan, baik itu karena nasib jelek, kekurangan modal, maupun tak cocok dengan bidang yang digelutinya. Bahkan, kadang kala perantau lebih sengsara tinggal di rantau dari pada di kampung. Tapi masyarakat tetap melihat mereka lebih bergengsi bila sengsara di rantau dari pada ‘manaruko’ di kampung. 
Laksana sebuah pepatah, usaha keras membuahkan kesuksesan. Maka kebanyakan mereka yang ulet di rantau akan menuai sukses di kemudian hari. Kesuksesan menjadi tolak ukur cara pandang masyarakat di kampung. Apabila telah sukses, otomatis nilai dan kedudukannya naik di mata masyarakat. Seolah yang mereka tahu hanya sukses, sukses dan sukses. Sedangkan saat mereka hidup sengsara tidak ada yang tahu, karena seorang perantau tidak akan pulang ke kampung halamannya sebelum mereka mempersiapkan segala sesuatu, hingga tak ada kesan kalau mereka hidup bangsai’(miskin) di rantau.
Apakah ini sebuah upaya mempertahankan kebiasaan? Masyarakat Minangkabau, sampai saat ini, masih menjadikan tradisi merantau sebagai manifestasi budaya. Indak lekang dek paneh tak lapuak dek hujan. Sistem budaya yang tak pernah terpisahkan dari cita-cita dan tujuan hidup.
Alangkah lebih baik, bila tekad yang tinggi seperti ini dilaksanakan di kampung halaman. Mau bekerja apa saja, dan tidak mempedulikan orang lain. Tentu harapan akan pembangunan yang lebih maju dapat tercipta di ranah minang ini. Sebagaimana yang menjadi program pemerintah saat ini, menjadikan desa dan daerah sebagai pusat pertumbuhan perekonomian. Jadi, ‘mambangkik batang tarandam’ tidak selamanya harus merantau, bisa saja tetap hidup di kampung, tapi berjiwalah laksana orang merantau. Kembangkan potensi yang dimiliki, maka keinginan untuk maju pasti akan terwujud.

Penulis adalah Alumni UNP
www.ganto-online.com

Trackback(0)
Comments (0)add comment

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 18 guests and 19 members online
Generated in 0.78585 Seconds