1. P E R S O N a L D E V E L O P M E N T T I P S IS IT STILL POSSIBLE TO CREATE DREAMS ?
Ada satu pepatah klasik yang sering diajarkan pada kita sewaktu kecil yang mengatakan “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”. Dalam perkembangannya, berapa banyak dari kita yang merasa dirinya sebagai orang dewasa yang masih ‘mempercayai’ pepatah klasik tersebut ? Atau lebih dalam lagi, berapakah di antara kita yang mau ‘mempercayai’nya, melakukannya dan berhasil mencapainya ? Ataukah kita hanya menganggapnya sebagai hiburan bagi anak kecil belaka ? Jika sebagian dari anda mungkin menganggap mempunyai cita-cita atau impian hanya sebagai suatu khayalan belaka, mengapa hampir semua buku motivasi dan buku-2 pengembangan diri justru terus menerus mengingatkan kita akan pentingnya mempunyai impian yang harus dicapai di dalam hidup ?
Faktanya, hampir sebagian besar orang saat ini mendasarkan hidupnya pada realitas yang ada, dan hanya sebagian kecil yang masih mempunyai impian dan menganggap impian itu bisa diwujudkan dalam hidupnya. Banyak hal yang membuat hal tersebut terjadi. Yang pertama, karena dalam masa pertumbuhan kita, terutama saat kita berada dalam usia pertumbuhan mental hingga 7 tahun, kita banyak menerima hal-hal yang berupa ‘doktrin’ yang dimasukkan oleh orang tua, guru, serta lingkungan. Ada hal-hal yang positif yang dimasukkan, seperti budi pekerti, tata krama, dan sopan santun. Namun seringkali masuk juga doktrin yang ‘negatif’ yang bisa menghambat pertumbuhan mental kita, seperti “Kamu kan dilahirkan sebagai anak orang miskin, jadi jangan berharap jadi orang kaya”, “Kamu kan wanita, jadi enggak usah sekolah tinggi-tinggi nantinya, toh bakalan jadi ibu rumah tangga juga”, “Jangan jadi orang kaya, orang kaya itu jahat”, dan sebagainya. Doktrin semacam itu apabila diterima oleh pikiran kita berulang kali, akan dianggap sebagai suatu kebenaran. Dan akibatnya, dapat menurunkan tingkat kreativitas kita dalam menginginkan sesuatu. Dalam satu survey yang pernah diadakan di USA, ada sekelompok anak kecil yang berusia 0 hingga 5 tahun yang disurvey, dimana tingkat kreativitas mereka bisa mencapai hingga 95 %. Pada saat mereka berusia 5 hingga 7 tahun, anak-2 yang sama tersebut disurvey kembali, dan tingkat kreativitas mereka menurun hingga sekitar 15 %. Yang kedua, system pendidikan kita lebih mengutamakan cara berpikir yang mengandalkan logika daripada kreativitas. Seorang anak yang pandai matematika dicap sebagai anak pandai, sedang anak yang lebih suka menggambar tapi kurang suka matematika dicap anak bodoh. Cara berpikir logika ini akhirnya terus terbawa hingga kita dewasa, sehingga saat kita menciptakan impian, tanpa sadar kita akan bertanya dalam hati “Logis nggak kalo saya pengen jadi orang kaya, dengan kondisi saya yang biasa-2 saja sekarang ini” misalnya. So, dengan keadaan pikiran kita yang banyak dipengaruhi oleh doktrin-2 dari lingkungan tersebut, masihkah kita bisa menciptakan impian yang membuat hidup kita menjadi lebih baik ? BISA, dengan menciptakan kondisi-2 tertentu sebagai berikut.
- Apabila anda berpikir selalu berdasarkan logika, buat suatu impian yang
‘masuk akal’ menurut logika anda. Menurut suatu penelitian, suatu impian akan dianggap masuk akal oleh orang-orang yang selalu berpikiran logis, apabila hanya meningkat sekitar 20% hingga 30 %, atau maksimal meningkat ‘satu level’ dari kondisi anda saat ini. Misal, gaji anda saat ini adalah satu juta rupiah. Punya impian untuk meningkatkan pendapatan menjadi 1,2 juta hingga 1,3 juta tahun depan masih masuk akal. Anda saat ini naik sepeda, ingin mempunyai sepeda motor dua tahun lagi masih masuk akal. Anda naik motor saat ini, punya impian membeli mobil bekas tiga tahun mendatang masih masuk akal. - Bagi anda yang cara berpikirnya tidak terbatasi oleh logika, dan lebih
mengandalkan kreativitas (otak kanan), boleh saja membuat impian yang setinggi mungkin. Misal anda saat ini hanya mempunyai sepeda, dan ingin memiliki mobil BMW, itu impian yang normal-normal saja. Kadang-2 dalam seminar saya, ada orang yang bertanya, “Kalau begitu, orang yang berpikiran dengan logika impiannya dibatasi dan ‘kalah level’ donk dengan impian orang yang berpikiran menggunakan kreativitas ? Sama-sama asalnya punya sepeda, yang berpikir logika anda sarankan punya motor dulu, yang berpikiran dengan kreativitas anda sarankan boleh mempunyai BMW”. Saya selalu bertanya balik ,”Kalau begitu, apakah menurut anda langsung mempunyai impian punya BMW ‘masuk akal” dan logis ?” Tentu tidak, menurut orang yang berpikiran logis. Karena itu, lebih baik orang yang berpikiran logis dalam membuat impian dibuat bertahap daripada langsung besar. Misal, dari sepeda – motor – mobil bekas – mobil kijang – mobil BMW. Urutan seperti itu akan lebih masuk akal dibanding anda langsung ingin mobil BMW. - Ciptakan kondisi yang menyentuh emosi anda, sehubungan dengan
impian tersebut. Semakin dalam emosi yang terkait dengan impian tersebut, semakin kuat motivasi anda untuk mencapainya. Misal anda ingin mempunyai motor baru, apa manfaatnya bagi anda secara emosi ? Apakah hanya sekedar untuk meningkatkan gengsi anda ? Jika hanya ini alasan anda, bisa jadi impian ini bisa tidak tercapai, karena alasan emosionalnya kurang kuat. Mungkin bila alasannya ingin membuat istri anda bangga karena anda telah bekerja keras mencapainya, akan lebih memotivasi anda untuk bekerja keras mencapainya. - Buat impian anda secara spesifik dan tertulis. Semakin spesifik, akan
semakin mudah mencapainya. Jadi, daripada anda mengatakan ingin computer saja, akan lebih baik jika anda mengatakan ingin computer Pentium IV, memory 512 MB, layar VGA 128 MB, harddisk 60 MB dan sound card. - Ciptakan batas waktu, kapan impian tersebut harus dicapai. Buat batas
waktu yang menurut anda logis dan bisa dicapai. Misal anda ingin mempunyai tabungan 100 juta rupiah. Dengan penghasilan anda perbulan saat ini yang sekitar 2 juta rupiah misalnya, mungkinkah impian tersebut bisa dicapai dalam 1 tahun ? Jika tidak mungkin, panjangkan waktunya menjadi 7 atau 8 tahun misalnya, tentu lebih masuk akal. - Buat ‘pengumuman’ kepada orang-2 di sekitar anda (bisa rekan kerja,
istri, suami, atau orang tua), bahwa anda akan mencapai suatu tujuan tertentu. Mereka bisa menjadi semacam ‘pendorong’ tidak langsung, karena anda akan dihadapkan pada kondisi malu bila ternyata tidak berhasil mencapai apa yang telah anda ‘umumkan’. - Buat kondisi seolah-olah anda sudah memiliki apa yang anda inginkan.
Misalnya anda ingin motor baru. Sering-2lah pergi ke showroom motor, cobalah rasakan duduk di salah satu motor baru disana, rasakan emosi apa yang anda rasakan ketika mencoba duduk disana. Contoh kedua : Apabila anda ingin menjadi seorang manager di perusahaan anda, misalnya. Cobalah untuk berpakaian sebagaimana layaknya seorang manager. Pelajari dengan baik bagaimana seorang manager berbicara kepada anak buahnya. Jika memungkinkan, cobalah sekali-kali mencoba duduk di kursi manager. Rasakan apa emosi yang anda rasakan ketika anda duduk disana. Ingat, otak bawah sadar kita tidak bisa membedakan mana yang impian dan mana yang realitas. Semakin sering kita menciptakan kondisi seolah-olah impian kita sudah tercapai, akan semakin mendekatkan cara pikir dan tindakan kita menuju impian tersebut. - Cari seorang mentor atau tokoh panutan yang bisa anda tiru. Dengan
belajar dari seorang mentor, anda akan lebih cepat mencapai impian anda, karena anda belajar dari kesuksesan dan kesalahan orang tersebut, sehingga anda tidak perlu melakukan ‘trial & error” dalam mencapai impian tersebut. Seorang mentor bisa berarti orang yang anda kenal, yang mau membimbing anda mencapai seperti apa yang dia telah capai, ataupun anda bisa belajar dari cara kerja orang sukses yang bisa anda baca di buku-buku. - Masuk ke dalam ‘dunia’ impian anda. Misal, apabila anda menginginkan
menjadi seorang pembicara, cobalah bergaul dengan orang-2 yang sudah berprofesi tersebut, dan cobalah menjadi seorang ahli di sana. Anda harus tahu bagaimana bersikap saat diatas panggung, anda harus tahu bagaimana menciptakan suasana yang mengesankan bagi para penonton, anda harus tahu siapa-2 saja event organizer yang biasa menyelenggarakan seminar, anda harus tahu lokasi-2 mana saja yang bagus untuk dijadikan tempat seminar, anda harus tahu buku-2 apa saja yang dibaca oleh para pembicara, anda harus tahu musik apa yang harus digunakan saat pembukaan acara, dll. Intinya, jadilah seorang expert di bidang yang anda suka. - Take Action ! Mulailah melangkah, detik ini juga setelah anda membaca
artikel ini. Sebagus apapun impian anda tentu tidak akan terwujud tanpa tindakan nyata dari anda.
Satu hal yang pasti, anda pasti akan menemui hambatan dalam mencapai impian anda tersebut. Tidak ada kegagalan di dalam mencapai suatu impian, yang ada hanyalah orang yang berhenti melakukannya. Karena itulah maka dia disebut gagal. Jadi, janganlah berhenti sebelum impian anda tercapai. Sukses untuk anda ! _______ _ _ Moderator milis The Acesia, Motivator, Public Speaker Pengarang buku motivasi best seller “SLAM DUNK For SUCCESS” 2. M O T I V A T I O N A L Q U O T E S Between stimulus and response, one has the freedom to choose - Stephen Covey - Start living now. Stop saving the good china for that special occasion. Stop withholding your love until that special p person erson materializes. Every day you are alive is a special occasion. Every minute, every breath, is a gift from God - Marry Manin -
Set your goals high, and don't stop till you get there - Bo Jackson -
If you're going to be thinking, you may as well think big - Donald Trump -
An error doesn't become a mistake until you refuse to correct it - OA Batista -
It's faith in something and enthusiasm for something that makes life worth living - Oliver Wendell -
Enthusiasm - the sustaining power of all great action - Samuel Smiles -
Failure is the condiment that gives success its flavor - Truman Capote -
Throw your heart over the fence and the rest will follow - Norman Vincent Peale -
3. F R O M M E M B E R S T O M E M B E R S BUDAYA ATAU KEPRIBADIAN ? Saya mendapat inspirasi untuk menulis artikel ini ketika berbincangbincang dengan seorang teman lama dan seorang teman baru, keduanya adalah imigran dari Indonesia. Yang satu pria berusia sekitar 40-an dan yang satu lagi perempuan muda di usia akhir 20-an. Keduanya berpendidikan barat sampai tingkat Master's degree. Keduanya sama cerdas dan pandai membawa diri. Yang mengherankan adalah kedua-duanya merasa "terbatasi" oleh keberadaannya di negeri orang (Amerika Serikat), tidak jelas mau ke mana masa depannya dan merasa sangat tidak bebas bergerak. Mendengar "keluh kesah" mereka, saya sangat heran. Apa yang membuat mereka sangat terkekang ? Yang jelas, di mata saya, lokasi geografis bukanlah halangan sama sekali. Bahkan, jika kita lihat dengan kacamata obyektif, banyak hal yang bisa dilakukan dengan perangkat hukum dan perangkat bisnis yang lebih sophisticated. Dengan rasa heran ini, saya cari tahu dengan membuka mata hati. Sebenarnya masalahnya ada di mana ? Dengan mengatasnamakan "perbedaan budaya," bisakah seseorang menjustifikasikan "keresahan hatinya" yang ujung-ujungnya menjustifikasikan kegagalan-kegagalan di dalam hidupnya ? Kesimpulan saya, faktor-faktor luar seperti perbedaan kultur, bimbingan orang tua dari kecil yang "mengecilkan hati" alias kurang mendukung aktifitasaktifitas progresif, pendidikan yang bukanlah berlatar belakang bisnis (I'm not an MBA excuse), dan keterbatasan modal bekerja, BUKANLAH alasan yang valid untuk "tidak bisa bergerak" dan "tidak berani memulai bisnis." Apa alasan saya ? Pertama, dengan semakin tidak punya uang, semakin besar survival will muncul secara alami dan merupakan naluri survival instinct yang paling primitif. Segala jenis makhluk hidup baik manusia, binatang maupun tumbuhan pasti mempunyai cara untuk mempertahankan hidupnya. Bagi manusia modern yang sudah mengenal uang, justru semakin tidak punya uang, semakin tinggi naluri ini bekerja. Sebagai contoh nyata, ketika baru menginjakkan kaki di tanah rantau, sebagai penulis saya perlu meng-update diri. Caranya ya jelas dengan membaca buku sebanyak-banyaknya. Namun, saya tidak punya uang dan buku-buku di perpustakaan kebanyakan sudah kadaluwarsa. Apalagi ketika itu masih belum mengendarai mobil sendiri (belum punya uang untuk beli mobil). Mengendarai kendaraan umum bagi saya hanya buang-buang waktu saja saat itu. Bayangkan di suburb kebanyakan bis hanya datang setengah jam sekali dan jalan kaki ke stasiun kereta api juga perlu setengah jam. Di musim dingin, ini bukanlah cara transportasi yang efisien. Voila, mengapa saya pusing cari akal ke perpustakaan dengan mengendarai kendaraan umum ? Bukankah sebaiknya saya di rumah saja (atau di mana saja bekerja dengan laptop) daripada buang-buang waktu di jalan kedinginan ? Dari situlah muncul ide untuk mendirikan BookReviewClub.com (sekarang sedang masa hiatus), yang merupakan Web site volunteer (alias gratis) bagi para penerbit dan penulis yang mengharapkan supaya bukubukunya saya review (bedah buku) secara gratis. Lantas, saya kirim ratusan e- mail ke penerbit dan penulis. Hasilnya ? Saya sudah membedah 1.200 buku dan masih terus dikirimkan buku-buku terbaru secara tanpa perlu membayar uang sepeserpun dari berbagai penerbit dan penulis. Tentu saja semua buku tersebut saya "bayar" dengan menuliskan review yang obyektif. Intinya, tanpa uangpun, kita bisa "membeli" relationship dengan "memberikan" jasa kita kepada orang lain tanpa pamrih. Sekarang, rata-rata penerbit di Amerika Serikat sudah mengenal saya, atau paling tidak pernah mendengar nama saya sebagai pembedah buku yang cukup diperhitungkan Konsep "memberikan jasa kepada orang lain tanpa pamrih" ini sudah sering kali saya lakukan. Sayangnya, tidak semua orang menanggapinya dengan positif. Bagi saya, semakin banyak orang yang mendengar nama saya, semakin baik kesempatan saya di masa depan. Siapapun bisa berbalik dari "sebal" menjadi "sayang" bukan ? Kedua, masa lalu dan faktor-faktor eksternal, seperti belum diberkati oleh Tuhan, didikan orang tua yang "salah," berasal dari kultur yang mentabukan sukses dengan cara smart (lebih menghargai hardwork yang sebenarnya adalah "dumb work"), tidak berlokasi di "tempat basah" dan tidak berpendidikan bisnis, bukanlah "kambing hitam" kegagalan Anda. Semuanya bermuara dari diri sendiri. Tuhan selalu memberkati kita semua, jadi jangan pula sekali-kali Anda menyalahkanNya. Walaupun mungkin kedengarannya keras, namun bayangkanlah bagaimana jadinya Indonesia kalau saja tidak ada orang sirik. Seperti di Cina, sekarang setiap orang dimotivasi untuk menjadi orang sukses. Bukan "meredam" letupan-letupan kelebihan orang lain. Intinya adalah faktor eksternal sebaiknya dijadikan dalih untuk sukses, bukan sebaliknya. Sekarang, di seluruh pelosok Negeri Cina, termasuk di desa-desa, pembangunan berjalan merata dan kemakmuran sudah menjadi barang biasa. Bukan berarti tidak ada "sirik" di sana, namun, seluruh masyarakat bahu-membahu untuk saling memotivasi satu sama lain untuk maju. Jalan yang paling konkrit yah secara ekonomi. Ini bisa kita pelajari dari mereka. Kalau mereka bisa, Indonesia jelas juga bisa, bukan ? Jangan kita berkutet di isyu-isyu yang menenggelamkan semangat dan motivasi kita. Tanyalah secara jujur kepada diri sendiri: Saya mau jadi orang sukses atau orang gagal ? Kalau jawaban Anda adalah yang pertama, tinggikan survival skills dan ketuklah pintu sebanyak-banyaknya. Jangan sungkan dan malu. Sungguh konyol rasanya kalau hanya karena malu dan sungkan saja, maka Anda terpuruk di kegagalan seumur hidup. Keluarlah dari kultur konformitas. Jadikan kesuksesan orang lain sebagai motivasi bagi kita untuk maju, bukan membuat kita jadi sirik dan mengharapkan kegagalan mereka. Tutup telinga dari segala omongan negatif orang lain yang mengkerdilkan usaha kita dalam meraih masa depan yang lebih baik. Jalan terus, jangan ragu, sungkan atau malu. Sampai jumpa di puncak gunung kesuksesan. Sumber: Budaya atau Kepribadian - oleh Jennie S. Bev, penulis, entrepreneur, konsultan dan edukator berbasis di Northern California. The Acesia Enlightening People for Better Life www.the-acesia.tk
Alamat e-mail ini telah diblok oleh spam bots, Anda membutuhkan Javascript untuk melihatnya
Kiriman dari member Romy Riyanto Universitas Brawijaya Malang |
1. Minda Celik Kerana Dirobek Ditulis oleh teja pada Selasa, 08 Agustus 2006 Mahu bertanya agar tidak sesat jalan. Kebanyakan bicara moivator di sini amat menarik dan rumusan yang agak mudah untuk diikuti. Mahunya saya bertanya apakah tidak dikira kita miliki daya saing yang sihat jika tergolong di dalam kebiasaan menelaah secara sendirian dalam diam dan kemudian mewujudkan persekitaran yang meransang terbinanya kekreatifan interaksi secara penulisan. Tidak semua insan serupa dan sama keterampilannya. Makna kata yang berlainan dari memfokus keunggulan yang menyerlah diri, menjuarai sesuatu hasrat dengan mampu dihitung sebagai individu bertrampil, makna kata yang lain berada di balik tabir pantas juga di anggap sebahagian dari pekerja yang berhasil biar tidak mendapat liputan. Bisa terjadi tidak semua bercita-cita besar selain keinginan mahu membesarkan Pencipta dan menarik seramai mungkin juara-juara pembicara yang lebih berpotensi untuk mengenengahkan sesuatu isu agar llebih berkesan dan mampu dikongsi bersama lebih ramai audion. Penguasaan seseorang insan terhadap apa yang ingin di capai tidak semua perlu berfokus kepada keuntungan semata-mata biarpun wang keutamaan untuk beramal. Muslm yang kuat lebih baik dari yang lemah yang kaya lebih baik dari yang miskin. tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Sebenarnya fenomena ini pada anggapan saya satu bentuk perkongsian yang menghidupkan roh insan agar tidak mengutamakan diri. Sudah tentu yang di bawah tidak sampai tidak makan minum tetapi berpada kerana merasa cukup. Usaha yang baik adalaj apabila ia dapat di kongsikan dengan ramai insan yang llebih memerlukan. Allah itu menjadikan kepelbagaian dengan adil kerana dia Maha Mengetahui siapa memrlukan yang lebih dan siapa yang memerlukan yang sedikit. Kemanusiaan era globlasasi perlu di usahakan agar aktif positif tidak agresif mengutamakan diri sendiri. Akuillah hakikat bahawa satu sumber rezeki barakahnya berlipat ganda. Bukan semua individu akan mati jika terus di tindas terus di pencilkan atau di zalimi .... Kekuatan sebegini sebenar merupakan motivasi yang terbesar buat insan kerana dia tidak mengharap tetapi lebih memberi harapan dan mahukan kehebatan menjadi hak milik insan yang lebih berjasa. Ini tanggungjawab era abad 21 menghidupkan kemanusiaan denganmenjulang kasih sayang. Islam adallah jawapannya.
| 2. Pribadi Muslim Ditulis oleh zorion pada Rabu, 09 Agustus 2006 Banyak orang mengatakan kenapa di negara maju yang jelas tidak berdasarkan negara agama, prilaku orang-orangnya (yang baik) lebih mencerminkan sikap islami daripada di negara yang jelas-jelas masyarakatnya mayoritas muslim? Ini karena cara berpikir mereka yang sudah maju. Sedangkan di negara berkembang, cara berpikirnya juga masih mencari-cari bentuk. Namanya maju jelas sikap hidup masyarakatnya pun maju. Kalau begitu, tidak ada korelasi yang tepat antara ajaran agama dengan cara hidup masyarakat???. Kita lihat negara-negara di Asia tenggara, timur tengah, asia tengah, amerika latin dsb. Negara-negara berkembang dengan pola pikir kepeimpinan khas masyarakat berkembang. Kalau begitu kapan cara berpikir masyarakat negara berkembang akan maju seperti di negara maju? Sikap hidup sangat mempengaruhi. Perubahan cara memimpin masyarakat sangat berpengaruh terhadap kemajuan masyarakat itu sendiri. Singapura, Malaysia, Korea jauh lebih maju daripada negara di sekeliling mereka dalam soal berpikir. Dan itu tidak ada hubungan dengan prilaku beragama. Jadi saya hanya ingin menggugah bahwa sikap hidup yang memiliki tatanan yang baik adalah kunci kemajuan masyarakat. Bila hidup centang parenang tanpa diatur oleh tatanan dan nilai-nilai yang baik akan membusukkan prilaku-prilaku individu dalam masyarakat. Peran contoh dari pemimpin itulah yang perlu diberikan. Ninik mamak, pimpinan daerah, pimpinan rumahtangga, pimpinan sosial akan berperan penting dalam mengajarkan tatanan nilai-nilai kehidupan yang baik. Namun terlalu panjang waktu yang kita perlukan. Kalau Malaysia bisa bangkit dalam jangka waktu 20 tahun, kita malah terperosok ke dalam jurang ketidakpastian yang dalam untuk kembali bangkit dari kealpaan nilai-nilai yang santun dan indah dalam hidup. Kalau kita katakan inilah keadilan Tuhan dan takdir Illahi, maka kita sebenarnya sudah tidak berlaku adil terhadap diri kita sendiri. Kita kehilangan orientasi yang jelas kemana dan kenapa kita hidup. Padahal Al-Qur'an yang kita pegang sebagai pedoman dan arah menuju hidup yang mawadhah wa rahmah tidak kita aplikasikan. Marilah kita becermin kembali, karena yang gagal lebih mayoritas daripada yang berhasil di negara ini. |
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |