Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Bursa Jual Beli
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Makmur Hendrik
Episode Terbaru :
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Pituah

Pisau gadang pisau tambatu
Dibaok urang ka taluak bayua
Di makan anak dari salido
Rumah gadang basandi batu
Adat basandi alua
Alua nan kaganti rajo
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Palanta
This is not a Login form

Name:

Message:

Advertisement
Motivasi : Newsletter 11 Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh the Acesia   
Sabtu, 05 Agustus 2006
1. P E R S O N a L D E V E L O P M E N T T I P S
IS IT STILL POSSIBLE TO CREATE DREAMS ?
Image Ada satu pepatah klasik yang sering diajarkan pada kita sewaktu
kecil yang mengatakan “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”.
Dalam perkembangannya, berapa banyak dari kita yang merasa
dirinya sebagai orang dewasa yang masih ‘mempercayai’ pepatah klasik
tersebut ? Atau lebih dalam lagi, berapakah di antara kita yang mau
‘mempercayai’nya, melakukannya dan berhasil mencapainya ? Ataukah kita
hanya menganggapnya sebagai hiburan bagi anak kecil belaka ? Jika sebagian
dari anda mungkin menganggap mempunyai cita-cita atau impian hanya
sebagai suatu khayalan belaka, mengapa hampir semua buku motivasi dan
buku-2 pengembangan diri justru terus menerus mengingatkan kita akan
pentingnya mempunyai impian yang harus dicapai di dalam hidup ?

Faktanya, hampir sebagian besar orang saat ini mendasarkan hidupnya
pada realitas yang ada, dan hanya sebagian kecil yang masih mempunyai
impian dan menganggap impian itu bisa diwujudkan dalam hidupnya. Banyak
hal yang membuat hal tersebut terjadi. Yang pertama, karena dalam masa
pertumbuhan kita, terutama saat kita berada dalam usia pertumbuhan mental
hingga 7 tahun, kita banyak menerima hal-hal yang berupa ‘doktrin’ yang
dimasukkan oleh orang tua, guru, serta lingkungan. Ada hal-hal yang positif
yang dimasukkan, seperti budi pekerti, tata krama, dan sopan santun. Namun
seringkali masuk juga doktrin yang ‘negatif’ yang bisa menghambat
pertumbuhan mental kita, seperti “Kamu kan dilahirkan sebagai anak orang
miskin, jadi jangan berharap jadi orang kaya”, “Kamu kan wanita, jadi enggak
usah sekolah tinggi-tinggi nantinya, toh bakalan jadi ibu rumah tangga juga”,
“Jangan jadi orang kaya, orang kaya itu jahat”, dan sebagainya. Doktrin
semacam itu apabila diterima oleh pikiran kita berulang kali, akan dianggap
sebagai suatu kebenaran. Dan akibatnya, dapat menurunkan tingkat kreativitas
kita dalam menginginkan sesuatu. Dalam satu survey yang pernah diadakan di
USA, ada sekelompok anak kecil yang berusia 0 hingga 5 tahun yang disurvey,
dimana tingkat kreativitas mereka bisa mencapai hingga 95 %. Pada saat
mereka berusia 5 hingga 7 tahun, anak-2 yang sama tersebut disurvey
kembali, dan tingkat kreativitas mereka menurun hingga sekitar 15 %.
Yang kedua, system pendidikan kita lebih mengutamakan cara berpikir
yang mengandalkan logika daripada kreativitas. Seorang anak yang pandai
matematika dicap sebagai anak pandai, sedang anak yang lebih suka
menggambar tapi kurang suka matematika dicap anak bodoh. Cara berpikir
logika ini akhirnya terus terbawa hingga kita dewasa, sehingga saat kita
menciptakan impian, tanpa sadar kita akan bertanya dalam hati “Logis nggak
kalo saya pengen jadi orang kaya, dengan kondisi saya yang biasa-2 saja
sekarang ini” misalnya.
So, dengan keadaan pikiran kita yang banyak dipengaruhi oleh doktrin-2
dari lingkungan tersebut, masihkah kita bisa menciptakan impian yang
membuat hidup kita menjadi lebih baik ? BISA, dengan menciptakan kondisi-2
tertentu sebagai berikut.

  1. Apabila anda berpikir selalu berdasarkan logika, buat suatu impian yang
    ‘masuk akal’ menurut logika anda. Menurut suatu penelitian, suatu
    impian akan dianggap masuk akal oleh orang-orang yang selalu
    berpikiran logis, apabila hanya meningkat sekitar 20% hingga 30 %, atau
    maksimal meningkat ‘satu level’ dari kondisi anda saat ini. Misal, gaji
    anda saat ini adalah satu juta rupiah. Punya impian untuk meningkatkan
    pendapatan menjadi 1,2 juta hingga 1,3 juta tahun depan masih masuk
    akal. Anda saat ini naik sepeda, ingin mempunyai sepeda motor dua
    tahun lagi masih masuk akal. Anda naik motor saat ini, punya impian
    membeli mobil bekas tiga tahun mendatang masih masuk akal.
  2. Bagi anda yang cara berpikirnya tidak terbatasi oleh logika, dan lebih
    mengandalkan kreativitas (otak kanan), boleh saja membuat impian
    yang setinggi mungkin. Misal anda saat ini hanya mempunyai sepeda,
    dan ingin memiliki mobil BMW, itu impian yang normal-normal saja.
    Kadang-2 dalam seminar saya, ada orang yang bertanya, “Kalau begitu,
    orang yang berpikiran dengan logika impiannya dibatasi dan ‘kalah level’
    donk dengan impian orang yang berpikiran menggunakan kreativitas ?
    Sama-sama asalnya punya sepeda, yang berpikir logika anda sarankan
    punya motor dulu, yang berpikiran dengan kreativitas anda sarankan
    boleh mempunyai BMW”. Saya selalu bertanya balik ,”Kalau begitu,
    apakah menurut anda langsung mempunyai impian punya BMW ‘masuk
    akal” dan logis ?” Tentu tidak, menurut orang yang berpikiran logis.
    Karena itu, lebih baik orang yang berpikiran logis dalam membuat
    impian dibuat bertahap daripada langsung besar. Misal, dari sepeda –
    motor – mobil bekas – mobil kijang – mobil BMW. Urutan seperti itu akan
    lebih masuk akal dibanding anda langsung ingin mobil BMW.
  3. Ciptakan kondisi yang menyentuh emosi anda, sehubungan dengan
    impian tersebut. Semakin dalam emosi yang terkait dengan impian
    tersebut, semakin kuat motivasi anda untuk mencapainya. Misal anda
    ingin mempunyai motor baru, apa manfaatnya bagi anda secara emosi ?
    Apakah hanya sekedar untuk meningkatkan gengsi anda ? Jika hanya
    ini alasan anda, bisa jadi impian ini bisa tidak tercapai, karena alasan
    emosionalnya kurang kuat. Mungkin bila alasannya ingin membuat istri
    anda bangga karena anda telah bekerja keras mencapainya, akan lebih
    memotivasi anda untuk bekerja keras mencapainya.
  4. Buat impian anda secara spesifik dan tertulis. Semakin spesifik, akan
    semakin mudah mencapainya. Jadi, daripada anda mengatakan ingin
    computer saja, akan lebih baik jika anda mengatakan ingin computer
    Pentium IV, memory 512 MB, layar VGA 128 MB, harddisk 60 MB dan
    sound card.
  5. Ciptakan batas waktu, kapan impian tersebut harus dicapai. Buat batas
    waktu yang menurut anda logis dan bisa dicapai. Misal anda ingin
    mempunyai tabungan 100 juta rupiah. Dengan penghasilan anda
    perbulan saat ini yang sekitar 2 juta rupiah misalnya, mungkinkah impian
    tersebut bisa dicapai dalam 1 tahun ? Jika tidak mungkin, panjangkan
    waktunya menjadi 7 atau 8 tahun misalnya, tentu lebih masuk akal.
  6. Buat ‘pengumuman’ kepada orang-2 di sekitar anda (bisa rekan kerja,
    istri, suami, atau orang tua), bahwa anda akan mencapai suatu tujuan
    tertentu. Mereka bisa menjadi semacam ‘pendorong’ tidak langsung,
    karena anda akan dihadapkan pada kondisi malu bila ternyata tidak
    berhasil mencapai apa yang telah anda ‘umumkan’.
  7. Buat kondisi seolah-olah anda sudah memiliki apa yang anda inginkan.
    Misalnya anda ingin motor baru. Sering-2lah pergi ke showroom motor,
    cobalah rasakan duduk di salah satu motor baru disana, rasakan emosi
    apa yang anda rasakan ketika mencoba duduk disana. Contoh kedua :
    Apabila anda ingin menjadi seorang manager di perusahaan anda,
    misalnya. Cobalah untuk berpakaian sebagaimana layaknya seorang
    manager. Pelajari dengan baik bagaimana seorang manager berbicara
    kepada anak buahnya. Jika memungkinkan, cobalah sekali-kali
    mencoba duduk di kursi manager. Rasakan apa emosi yang anda
    rasakan ketika anda duduk disana. Ingat, otak bawah sadar kita tidak
    bisa membedakan mana yang impian dan mana yang realitas. Semakin
    sering kita menciptakan kondisi seolah-olah impian kita sudah tercapai,
    akan semakin mendekatkan cara pikir dan tindakan kita menuju impian
    tersebut.
  8. Cari seorang mentor atau tokoh panutan yang bisa anda tiru. Dengan
    belajar dari seorang mentor, anda akan lebih cepat mencapai impian
    anda, karena anda belajar dari kesuksesan dan kesalahan orang
    tersebut, sehingga anda tidak perlu melakukan ‘trial & error” dalam
    mencapai impian tersebut. Seorang mentor bisa berarti orang yang anda
    kenal, yang mau membimbing anda mencapai seperti apa yang dia telah
    capai, ataupun anda bisa belajar dari cara kerja orang sukses yang bisa
    anda baca di buku-buku.
  9. Masuk ke dalam ‘dunia’ impian anda. Misal, apabila anda menginginkan
    menjadi seorang pembicara, cobalah bergaul dengan orang-2 yang
    sudah berprofesi tersebut, dan cobalah menjadi seorang ahli di sana.
    Anda harus tahu bagaimana bersikap saat diatas panggung, anda harus
    tahu bagaimana menciptakan suasana yang mengesankan bagi para
    penonton, anda harus tahu siapa-2 saja event organizer yang biasa
    menyelenggarakan seminar, anda harus tahu lokasi-2 mana saja yang
    bagus untuk dijadikan tempat seminar, anda harus tahu buku-2 apa saja
    yang dibaca oleh para pembicara, anda harus tahu musik apa yang
    harus digunakan saat pembukaan acara, dll. Intinya, jadilah seorang
    expert di bidang yang anda suka.
  10. Take Action ! Mulailah melangkah, detik ini juga setelah anda membaca
    artikel ini. Sebagus apapun impian anda tentu tidak akan terwujud tanpa
    tindakan nyata dari anda.

Satu hal yang pasti, anda pasti akan menemui hambatan dalam
mencapai impian anda tersebut. Tidak ada kegagalan di dalam mencapai suatu
impian, yang ada hanyalah orang yang berhenti melakukannya. Karena itulah
maka dia disebut gagal. Jadi, janganlah berhenti sebelum impian anda
tercapai. Sukses untuk anda !
 _______ _ _
Moderator milis The Acesia, Motivator, Public Speaker
Pengarang buku motivasi best seller “SLAM DUNK For SUCCESS”

2. M O T I V A T I O N A L Q U O T E S
Between stimulus and response, one has the freedom to choose
- Stephen Covey -
 

Start living now. Stop saving the good china for that special
occasion. Stop withholding your love until that special p person erson
materializes. Every day you are alive is a special occasion.
Every minute, every breath, is a gift from God
- Marry Manin -

Set your goals high, and don't stop till you get there
- Bo Jackson -

If you're going to be thinking, you may as well think big
- Donald Trump -

An error doesn't become a mistake until you refuse to correct it
- OA Batista -

It's faith in something and enthusiasm for something that
makes life worth living
- Oliver Wendell -

Enthusiasm - the sustaining power of all great action
- Samuel Smiles -

Failure is the condiment that gives success its flavor
- Truman Capote -

Throw your heart over the fence and the rest will follow
- Norman Vincent Peale -

3. F R O M M E M B E R S T O M E M B E R S
BUDAYA ATAU KEPRIBADIAN ?
Saya mendapat inspirasi untuk menulis artikel ini ketika berbincangbincang
dengan seorang teman lama dan seorang teman baru,
keduanya adalah imigran dari Indonesia. Yang satu pria berusia
sekitar 40-an dan yang satu lagi perempuan muda di usia akhir 20-an.
Keduanya berpendidikan barat sampai tingkat Master's degree. Keduanya
sama cerdas dan pandai membawa diri.
Yang mengherankan adalah kedua-duanya merasa "terbatasi" oleh
keberadaannya di negeri orang (Amerika Serikat), tidak jelas mau ke mana
masa depannya dan merasa sangat tidak bebas bergerak. Mendengar "keluh
kesah" mereka, saya sangat heran. Apa yang membuat mereka sangat
terkekang ? Yang jelas, di mata saya, lokasi geografis bukanlah halangan
sama sekali. Bahkan, jika kita lihat dengan kacamata obyektif, banyak hal yang
bisa dilakukan dengan perangkat hukum dan perangkat bisnis yang lebih
sophisticated.
Dengan rasa heran ini, saya cari tahu dengan membuka mata hati.
Sebenarnya masalahnya ada di mana ? Dengan mengatasnamakan
"perbedaan budaya," bisakah seseorang menjustifikasikan "keresahan hatinya"
yang ujung-ujungnya menjustifikasikan kegagalan-kegagalan di dalam
hidupnya ?
Kesimpulan saya, faktor-faktor luar seperti perbedaan kultur, bimbingan
orang tua dari kecil yang "mengecilkan hati" alias kurang mendukung aktifitasaktifitas
progresif, pendidikan yang bukanlah berlatar belakang bisnis (I'm not
an MBA excuse), dan keterbatasan modal bekerja, BUKANLAH alasan yang
valid untuk "tidak bisa bergerak" dan "tidak berani memulai bisnis."
Apa alasan saya ? Pertama, dengan semakin tidak punya uang,
semakin besar survival will muncul secara alami dan merupakan naluri survival
instinct yang paling primitif. Segala jenis makhluk hidup baik manusia, binatang
maupun tumbuhan pasti mempunyai cara untuk mempertahankan hidupnya.
Bagi manusia modern yang sudah mengenal uang, justru semakin tidak punya
uang, semakin tinggi naluri ini bekerja. Sebagai contoh nyata, ketika baru
menginjakkan kaki di tanah rantau, sebagai penulis saya perlu meng-update
diri. Caranya ya jelas dengan membaca buku sebanyak-banyaknya. Namun,
saya tidak punya uang dan buku-buku di perpustakaan kebanyakan sudah
kadaluwarsa. Apalagi ketika itu masih belum mengendarai mobil sendiri (belum
punya uang untuk beli mobil).
Mengendarai kendaraan umum bagi saya hanya buang-buang waktu
saja saat itu. Bayangkan di suburb kebanyakan bis hanya datang setengah jam
sekali dan jalan kaki ke stasiun kereta api juga perlu setengah jam. Di musim
dingin, ini bukanlah cara transportasi yang efisien. Voila, mengapa saya pusing
cari akal ke perpustakaan dengan mengendarai kendaraan umum ? Bukankah
sebaiknya saya di rumah saja (atau di mana saja bekerja dengan laptop)
daripada buang-buang waktu di jalan kedinginan ?
Dari situlah muncul ide untuk mendirikan BookReviewClub.com
(sekarang sedang masa hiatus), yang merupakan Web site volunteer (alias
gratis) bagi para penerbit dan penulis yang mengharapkan supaya bukubukunya
saya review (bedah buku) secara gratis. Lantas, saya kirim ratusan e-
mail ke penerbit dan penulis. Hasilnya ? Saya sudah membedah 1.200 buku
dan masih terus dikirimkan buku-buku terbaru secara tanpa perlu membayar
uang sepeserpun dari berbagai penerbit dan penulis.
Tentu saja semua buku tersebut saya "bayar" dengan menuliskan
review yang obyektif. Intinya, tanpa uangpun, kita bisa "membeli" relationship
dengan "memberikan" jasa kita kepada orang lain tanpa pamrih. Sekarang,
rata-rata penerbit di Amerika Serikat sudah mengenal saya, atau paling tidak
pernah mendengar nama saya sebagai pembedah buku yang cukup
diperhitungkan
Konsep "memberikan jasa kepada orang lain tanpa pamrih" ini sudah
sering kali saya lakukan. Sayangnya, tidak semua orang menanggapinya
dengan positif. Bagi saya, semakin banyak orang yang mendengar nama saya,
semakin baik kesempatan saya di masa depan. Siapapun bisa berbalik dari
"sebal" menjadi "sayang" bukan ?
Kedua, masa lalu dan faktor-faktor eksternal, seperti belum diberkati
oleh Tuhan, didikan orang tua yang "salah," berasal dari kultur yang
mentabukan sukses dengan cara smart (lebih menghargai hardwork yang
sebenarnya adalah "dumb work"), tidak berlokasi di "tempat basah" dan tidak
berpendidikan bisnis, bukanlah "kambing hitam" kegagalan Anda. Semuanya
bermuara dari diri sendiri. Tuhan selalu memberkati kita semua, jadi jangan
pula sekali-kali Anda menyalahkanNya.
Walaupun mungkin kedengarannya keras, namun bayangkanlah
bagaimana jadinya Indonesia kalau saja tidak ada orang sirik. Seperti di Cina,
sekarang setiap orang dimotivasi untuk menjadi orang sukses. Bukan
"meredam" letupan-letupan kelebihan orang lain. Intinya adalah faktor eksternal
sebaiknya dijadikan dalih untuk sukses, bukan sebaliknya. Sekarang, di seluruh
pelosok Negeri Cina, termasuk di desa-desa, pembangunan berjalan merata
dan kemakmuran sudah menjadi barang biasa. Bukan berarti tidak ada "sirik" di
sana, namun, seluruh masyarakat bahu-membahu untuk saling memotivasi
satu sama lain untuk maju. Jalan yang paling konkrit yah secara ekonomi. Ini
bisa kita pelajari dari mereka. Kalau mereka bisa, Indonesia jelas juga bisa,
bukan ?
Jangan kita berkutet di isyu-isyu yang menenggelamkan semangat dan
motivasi kita. Tanyalah secara jujur kepada diri sendiri: Saya mau jadi orang
sukses atau orang gagal ? Kalau jawaban Anda adalah yang pertama,
tinggikan survival skills dan ketuklah pintu sebanyak-banyaknya. Jangan
sungkan dan malu. Sungguh konyol rasanya kalau hanya karena malu dan
sungkan saja, maka Anda terpuruk di kegagalan seumur hidup.
Keluarlah dari kultur konformitas. Jadikan kesuksesan orang lain
sebagai motivasi bagi kita untuk maju, bukan membuat kita jadi sirik dan
mengharapkan kegagalan mereka. Tutup telinga dari segala omongan negatif
orang lain yang mengkerdilkan usaha kita dalam meraih masa depan yang
lebih baik. Jalan terus, jangan ragu, sungkan atau malu. Sampai jumpa di
puncak gunung kesuksesan.
Sumber: Budaya atau Kepribadian - oleh Jennie S. Bev, penulis,
entrepreneur, konsultan dan edukator berbasis di Northern California.
The Acesia
Enlightening People for Better Life
www.the-acesia.tk
Alamat e-mail ini telah diblok oleh spam bots, Anda membutuhkan Javascript untuk melihatnya
Kiriman dari member
Romy Riyanto
Universitas Brawijaya
Malang

 

 

Komentar
1. Minda Celik Kerana Dirobek
Ditulis oleh teja pada Selasa, 08 Agustus 2006
Mahu bertanya agar tidak sesat jalan. Kebanyakan bicara moivator di sini amat menarik dan rumusan yang agak mudah untuk diikuti. Mahunya saya bertanya apakah tidak dikira kita miliki daya saing yang sihat jika tergolong di dalam kebiasaan menelaah secara sendirian dalam diam dan kemudian mewujudkan persekitaran yang meransang terbinanya kekreatifan interaksi secara penulisan. Tidak semua insan serupa dan sama keterampilannya. Makna kata yang berlainan dari memfokus keunggulan yang menyerlah diri, menjuarai sesuatu hasrat dengan mampu dihitung sebagai individu bertrampil, makna kata yang lain berada di balik tabir pantas juga di anggap sebahagian dari pekerja yang berhasil biar tidak mendapat liputan.  
Bisa terjadi tidak semua bercita-cita besar selain keinginan mahu membesarkan Pencipta dan menarik seramai mungkin juara-juara pembicara yang lebih berpotensi untuk mengenengahkan sesuatu isu agar llebih berkesan dan mampu dikongsi bersama lebih ramai audion. 
Penguasaan seseorang insan terhadap apa yang ingin di capai tidak semua perlu berfokus kepada keuntungan semata-mata biarpun wang keutamaan untuk beramal. 
Muslm yang kuat lebih baik dari yang lemah yang kaya lebih baik dari yang miskin. 
tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Sebenarnya fenomena ini pada anggapan saya satu bentuk perkongsian yang menghidupkan roh insan agar tidak mengutamakan diri. Sudah tentu yang di bawah tidak sampai tidak makan minum tetapi berpada kerana merasa cukup. 
Usaha yang baik adalaj apabila ia dapat di kongsikan dengan ramai insan yang llebih memerlukan. Allah itu menjadikan kepelbagaian dengan adil kerana dia Maha Mengetahui siapa memrlukan yang lebih dan siapa yang memerlukan yang sedikit. 
Kemanusiaan era globlasasi perlu di usahakan agar aktif positif tidak agresif mengutamakan diri sendiri. Akuillah hakikat bahawa satu sumber rezeki barakahnya berlipat ganda. 
Bukan semua individu akan mati jika terus di tindas terus di pencilkan atau di zalimi .... Kekuatan sebegini sebenar merupakan motivasi yang terbesar buat insan kerana dia tidak mengharap tetapi lebih memberi harapan dan mahukan kehebatan menjadi hak milik insan yang lebih berjasa. 
Ini tanggungjawab era abad 21 menghidupkan kemanusiaan denganmenjulang kasih sayang.  
Islam adallah jawapannya. 
2. Pribadi Muslim
Ditulis oleh zorion pada Rabu, 09 Agustus 2006
Banyak orang mengatakan kenapa di negara maju yang jelas tidak berdasarkan negara agama, prilaku orang-orangnya (yang baik) lebih mencerminkan sikap islami daripada di negara yang jelas-jelas masyarakatnya mayoritas muslim? Ini karena cara berpikir mereka yang sudah maju. Sedangkan di negara berkembang, cara berpikirnya juga masih mencari-cari bentuk. Namanya maju jelas sikap hidup masyarakatnya pun maju. Kalau begitu, tidak ada korelasi yang tepat antara ajaran agama dengan cara hidup masyarakat???. 
Kita lihat negara-negara di Asia tenggara, timur tengah, asia tengah, amerika latin dsb. Negara-negara berkembang dengan pola pikir kepeimpinan khas masyarakat berkembang. 
Kalau begitu kapan cara berpikir masyarakat negara berkembang akan maju seperti di negara maju?  
Sikap hidup sangat mempengaruhi. Perubahan cara memimpin masyarakat sangat berpengaruh terhadap kemajuan masyarakat itu sendiri. Singapura, Malaysia, Korea jauh lebih maju daripada negara di sekeliling mereka dalam soal berpikir. Dan itu tidak ada hubungan dengan prilaku beragama. 
Jadi saya hanya ingin menggugah bahwa sikap hidup yang memiliki tatanan yang baik adalah kunci kemajuan masyarakat. Bila hidup centang parenang tanpa diatur oleh tatanan dan nilai-nilai yang baik akan membusukkan prilaku-prilaku individu dalam masyarakat. Peran contoh dari pemimpin itulah yang perlu diberikan. Ninik mamak, pimpinan daerah, pimpinan rumahtangga, pimpinan sosial akan berperan penting dalam mengajarkan tatanan nilai-nilai kehidupan yang baik. Namun terlalu panjang waktu yang kita perlukan. Kalau Malaysia bisa bangkit dalam jangka waktu 20 tahun, kita malah terperosok ke dalam jurang ketidakpastian yang dalam untuk kembali bangkit dari kealpaan nilai-nilai yang santun dan indah dalam hidup. Kalau kita katakan inilah keadilan Tuhan dan takdir Illahi, maka kita sebenarnya sudah tidak berlaku adil terhadap diri kita sendiri. Kita kehilangan orientasi yang jelas kemana dan kenapa kita hidup. Padahal Al-Qur'an yang kita pegang sebagai pedoman dan arah menuju hidup yang mawadhah wa rahmah tidak kita aplikasikan. Marilah kita becermin kembali, karena yang gagal lebih mayoritas daripada yang berhasil di negara ini.

Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
Silahkan login atau daftar.

Powered by AkoComment 2.0!

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Member Area
Radio Online Minang Pendengar: 8 dari 50 (8 Unik)
Peak: 25
Server Status: Online
Bitrate: 24 Kbps
Sedang Di putar: UKM - tari galuak

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Situs Terbaik
Member
 Cimbuak.net | Minangkabau Community Portal Groups Online
 Anggota ( 30 ) Anggota 30
 Tamu ( 17 ) Tamu 17
  Total  47
 Angoota ( 7,180 ) Angoota  7,180


Statistik
Agg Baru  Dolly etno
Hari Ini 13
Minggu Ini 102
Bulan Ini 413
Tahun ini 3,051
Online Sekarang
Online Sekarang
Saat ini ada 17 pengunjung dan 30 anggota yang online
User Terbaru

a_tu4k

Terdaftar pada
2008-07-06 03:25:19

Pengunjung: 3482146