Tafsir Pantun Minang (6) : Pantun Marantau PDF Print E-mail
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati   
Friday, 11 August 2006
Article Index
Tafsir Pantun Minang (6) : Pantun Marantau
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
 
 
 
Baduri-duri batang manau,
Salaronyo babuang juo.
Satinggi-tinggi tabang bangau,
Inggoknyo ka kubangan juo.
 
Artinya :
 
Berduri-duri batang manau,
Seludangnya dibuang jua.
Setinggi-tinggi terbang bangau,
Hinggapnya kekubangan juga.

Tafsir sampiran :
    Baduri-duri batang manau,slaronyo babuang juo.  Manau adalah sejenis rotan yang lebih besar, tumbuh liar didalam hutan. Batang manau yang bagian ujungnya, masih dibungkus oleh kelopak daun yang pinggirannya berduri-duri. Kalau orang mengambil manau dihutan, maka bagian kelopak daun ini dibuang.

Tafsir isi pantun :
    Satinggi-tinggi tabang bangau inggoknyo kakubangan juo. Bangau adalah burung, yang kakainya panjang, paruhnya juga panjang dan terbangnya tinggi, karena sayapnya juga lebar. Bangau suka dengan daerah yang berawa-rawa atau yang ada air tergenang , karena makanan utamanya adalah ikan. Kubangan adalah air tergenang sedikit, yang terdapat ditengah padang penggembalaan ternak, dipergunakan oleh ternak untuk tempat mandi (bakubang). Ukuran kubangan itu kira-kira sama dengan ukuran seekor kerbau atau sapi yang besar. Pada setiap kubangan itu biasanya banyak tersedia makanan untuk bangau, terutama cacing, tapi ada juga ikan dan serangga kecil-kecil. Itulah sebabnya maka seekor bangau walau terbang kemanapun dan setinggi apapun, dia akan kembali hinggap ke kubangan .
    Fenomena alam ini diibaratkan kepada orang Minang yang suka merantau. Karena kecintaannya yang mendalam dengan kampung halamannya, maka kemanapun dan sejauh apapun dia pergi merantau namun akan pulang kekampung halamannya juga. Adakalanya pengertian dari pantun ini bersifat umum, tidak selalu harus secara fisik semua orang Minang yang pergi merantau, akan selalu kembali kekampungnya. Pengertiannya secara umum adalah bahwa dia tak akan pernah melupakan kampung halamannya dan sejauh mungkin dia akan selalu berusaha membantu kampung halamannya baik secara materi maupun dengan pemikiran.
Sebagai contoh misalnya, seorang perantau akan selalu berkirim pulang, baik untuk famili yang ada dikampung, maupun untuk membantu pembangunan kampungnya. Perantau Minang lebih suka berkorban (menyembelih hewan korban), dikampung halamannya dari pada ditempat tinggalnya dirantau orang.  Demikian juga kalau berzakat, mereka akan lebih mengutamakan mengirim kekampung halamannya dari pada menggunakan ditempat tinggalnya.
 
 
Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
 
< Prev   Next >




Generated in 5.24280 Seconds