|
Page 13 of 14 Elok-elok manyubarang,Jan sampai titian patah. Elok elok dirantau urang, Jan sampai babuek salah. Artinya :
Elok-elok menyeberang, Jangan sampai titian patah. Elok-elok dirantau orang, Jangan sampai berbuat salah. Tafsir sampiran : Elok-elok manyubarang, jan sampai titian patah. Maksudnya disini agar hati-hati kalau mau menyeberang sungai, karena jembatan dizaman dahulu sangat sederhana sekali. Untuk mnyeberang sungai biasanya dibuat jembatan dari bamboo, atau sebatang pohon kayu yang dibentangkan keseberang sungai, atau bias juga pohon kelapa. Karena jembatan itu terbuka kena hujan dan panas, maka tidak bias bertahan lama, cepat lapuk. (Jadi untuk melalui jembatan (disini disebut titian), yang sudah tua, hendaklah hati-hati sekali, sebab mudah patah ditengah. Tafsir isi pantun : Elok-elok dirantau urang, ijan sampai babuek salah. Suatu nasehat kepada orang yang akan pergi merantau, atau yang telah ada dirantau orang. Dirantau orang itu harus baik-baik, sopan santun , hormat menghormati, seiya sekata , cari kawan sebanyak mungkin, jangan dicari lawan. Pokoknya usahakan agar kita disayangi dan disegani oleh orang banyak. Kalau punya duit, maka sukalah bersedekah membantu orang yang miskin, taatlah beragama, kalau bias menjadi tempat bertanya bagi masyarakat sekitarnya. Jangan sampai berbuat salah, berbuat onar, adu domba, berbuat jahat, peminum, pemabuk, penjudi dan sebagainya. Demikian pula jangan suka berbohong, penipu, apalagi kalau sampai jadi pencuri, pencopet dan perampok, itu harus dijauhi sangat. Banyak yang mengikuti nasehat ini, akan tetapi banyak pula yang tidak. Terutama para perantu Minang yang masih pada tahap awal, sedang berusaha mencari-cari status yang lebih baik. Sudah sama diketahui bahwa orang Minang itu terkenal sebagai “Padang bengkok” artinya sulit dipercaya. Dulu juga pernah bahwa tukang copet itu identik dengan orang Padang, kalau sekarang sudah banyak yang mencontoh. |