Direndang jagung di kuali.
Dipandang kampung ditangisi.
Tafsir sampiran : Bukik Putuih Rimbo Kaluang,dirandang jaguang dikuali. Bukit Putus adalah sebuah desa yang terletak dekat Bukittinggi, sedangkan Rimbo Kaluang adalah bagian dari Kota Padang yang sekarang bernama Padang Baru. Tak ada hubungan antara keduanya, hanya untuk mengambil persamaan bunyi. Yang dimaksud dengan direndang adalah dibakar dengan menggunakan kuali, sambil terus diaduk-aduk. Jadi tak ada hubungannya dengan rending Padang yang terkenal itu.
Tafsir isi pantun : Tikaik putuih nak batualang, dipandang kampuang ditangisi. Artinya tekadnya sudah bulat untuk bertualang kenegeri orang (merantau), Apapun yang akan terjadi, dia siap menghadapinya, apa yang akan terjadi, terjadilah, niatnya untuk meninggalkan kampung halaman itu tidak bisa ditawar lagi. Memang pada umumnya bagi orang Minang, pergi merantau itu identik dengan bertualang, mengadu nasib, yang lebih banyak bersifat untung-untungan. Tidak ada perencanaan yang matang sebelumnya, misalnya dinana dia akan menetap nanti, apa yang akan dikerjakannya, berapa modal yang harus dipersiapkan, siapa yang akan ditujunya dinegeri orang itu, semua dilihat bagaimana nanti saja, yang penting berangkat dulu.
Maka diatas kapal di Teluk Bayur, pada saat\saat kapal itu akan berangkat menuju Jakarta, dia akan berdiri memandang dan menangisi kampung halamannya daerah Minangkabau, sambil menyanyi:
Di Taluak Bayua den tamanuang, den lapeh pandang bakulilieng.
Tabayang rantau
nan kadijalang, dimakoh
beko badan manompang.
Jadi siapa yang akan ditujunya dan dimana (dimakoh beko badan manompang) belum jelas. Tapi biasanya keadaan itu tidak berlangsung lama, kadang-kadang, karena rajin berbicara , berkomunikasi, mencari informasi, maka diatas kapal itu saja, sebelum sampai di Tanjung Priok, dia sudah menemukan siapa yang akan ditompangnya pertama kali dalam perantauannya itu.