Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
Advertisement
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Nan babarih nan dipahek
Nan baukua nan di kabuang
Jalan luruih nan ditampuah
Labuah Pasa nan dituruik
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Tafsir Pantun Minang (6) : Pantun Marantau PDF Print E-mail
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati   
Friday, 11 August 2006
Article Index
Tafsir Pantun Minang (6) : Pantun Marantau
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14


Bukik putuih Rimbo Kaluang,
Dirandang jaguang dikuali.
Tikaik putuih nak batualang
Dipandang kampuang ditangisi.

Artinya :
 
Bukit Putus Rimba Keluang,
Direndang jagung di kuali.
Tekad putus hendak bertualang,
Dipandang kampung ditangisi.

Tafsir sampiran :
     Bukik Putuih Rimbo Kaluang,dirandang jaguang dikuali. Bukit Putus adalah sebuah desa yang terletak dekat Bukittinggi, sedangkan Rimbo Kaluang adalah bagian dari Kota Padang yang sekarang bernama Padang Baru. Tak ada hubungan antara keduanya, hanya untuk mengambil persamaan bunyi. Yang dimaksud dengan direndang adalah dibakar dengan menggunakan kuali, sambil terus diaduk-aduk. Jadi tak ada hubungannya dengan rending Padang yang terkenal itu.

Tafsir isi pantun :

    Tikaik putuih nak batualang, dipandang kampuang ditangisi. Artinya tekadnya sudah bulat untuk bertualang kenegeri orang (merantau), Apapun yang akan terjadi, dia siap menghadapinya, apa yang akan terjadi, terjadilah, niatnya untuk meninggalkan kampung halaman itu tidak bisa ditawar lagi. Memang pada umumnya bagi orang Minang, pergi merantau itu identik dengan bertualang, mengadu nasib, yang lebih banyak bersifat untung-untungan. Tidak ada perencanaan yang matang sebelumnya, misalnya dinana dia akan menetap nanti, apa yang akan dikerjakannya, berapa modal yang harus dipersiapkan, siapa yang akan ditujunya dinegeri orang itu, semua dilihat bagaimana nanti saja, yang penting berangkat dulu. 
    Maka diatas kapal di Teluk Bayur, pada saat\saat kapal itu akan berangkat menuju Jakarta, dia akan berdiri memandang dan menangisi kampung halamannya daerah Minangkabau, sambil menyanyi:
    Di Taluak Bayua den tamanuang, den lapeh pandang bakulilieng.
    Tabayang rantau nan kadijalang, dimakoh beko badan manompang.
Jadi siapa yang akan ditujunya dan dimana (dimakoh beko badan manompang) belum jelas. Tapi biasanya keadaan itu tidak berlangsung lama, kadang-kadang, karena rajin berbicara , berkomunikasi, mencari informasi, maka diatas kapal itu saja, sebelum sampai di Tanjung Priok, dia sudah menemukan siapa yang akan ditompangnya pertama kali dalam perantauannya itu.
 
Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 12 guests and 9 members online
Generated in 7.02402 Seconds