|
Tafsir Pantun Minang (6) : Pantun Marantau |
|
|
|
|
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati
|
|
Friday, 11 August 2006 |
|
Page 7 of 14 Sikujua jo Batang Kapeh,
Kambanglah bungo Parautan. Jiko mujua bundo malapeh, Bak ayam pulang kapautan. Artinya : Sikujur dengan Batang Kapas, Kembanglah bunga Parautan. Kalau mujur (rela) bunda melepas, Seperti ayam pulang ke pautan. Tafsir sampiran : Sikujua jo Batang Kapeh, kambanglah bungo parautan. Sikujur dan Batang Kapas itu adalah nama-nama desa di Pesisir Selatan, dipinggiran laut dengan pemandangan yang sangat indah. Parautan adalah bunga yang disini dikatakan sedang kembang/mekar. Tafsir isi pantun : Jiko mujua bondo malapeh, bak ayam pulang kapautan. Isi dari pantun ini menggambarkan suatu dialog antara seorang anak yang akan pergi merantau dengan ibunya, yang biasanya menerima beberapa nasehat dari ibu dan kata-kata perpisahan dalam suasana yang sedih. Si anak mengatakan bahwa baginya yang penting adalah kerelaan ibunya melepasnya pergi merantau (kok mujua bundo malapeh). Jadi dia tidak meminta bekal untuk dijalan, atau modak usaha dirantau orang nanti, bagi dia yang penting kerelaan hati ibunya dengan ikhlas melepas kepergiannya dan didiringi dengan do’ a agar anaknya itu nanti berhasil dinegeri orang. Kalau ibunya rela dengan lhklas melepasnya pergi, maka dia percaya bahwa kepergiannya itu “bak ayam pulang kepautan”, artinya dia menuju suatu tempat dimana seharusnya dia akan menetap, jadi dia merasa “pulang” ketempat yang sudah ditentukan Allah SWT baginya sebagai tempat berusaha. Dalam pantun ini diumpamakan dengan seekor ayam jantan piaraan. Ayam jantan itu dipelihara dan dikasi makan dan selalu diikat (dipaut) pada tempatnya. Pulang kepautan maksudnya kembali ketempat dimana dia seharusnya berada. |
|
Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
|