|
Page 11 of 14 Kalau pandai bakain panjang, Labieh pado bakain saruang. Kalau pandai ba-induak samang, Labieh pado ba-induak kanduang. Artinya :
Kalau pandai berkain panjang, Lebih dari berkain sarung. Kalau pandai ber-induk semang, Lebih dari ber-induk kandung. Tafsir sampiran : Kalau pandai bakain panjang,labieh dari bakain saruang. Kain panjang lepas ujung pangkalnya, sementara kain sarung ujung dan pangkalnya dijahit. Dengan demikian maka memakai kain panjang lebih sulit dari pada kain sarung, karena mudah lepas. Namun kalau pandai berkain panjang, akan lebih baik dari berkain sarung. Tafsir isi pantun : Kalau pandai bainduak samang,lebih dari ber-induk kanduang. Pada pantun sebelum ini, seorang yang baru sampai dirantau hendaklah terlebih dahulu mencari induk emang. Walaupun kemudian dia telah mendapatkan pekerjaan sendiri atau berusaha sendiri, namun biasanya hubungan dengan induk semang tersebut selalu dibina. Malah kalau pandai-pandai bergaul dengan induk semang, akan dirasakan lebih dari pada berinduk kandung. Sesuai dengan sifat orang Minang yang mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan setempat, maka hubungan kekeluargaan yang telah dibina itu dengan siapapun juga biasanya selalu bertambah erat. Pantun ini juga merupakan nasehat kepada perantau Minang agar jangan bersifat sebaliknya. Sebab ada juga sebagian dari perantau itu, yang tidak tahu membalas guna, dia baik-baik kepada induk semangnya selagi dia memerlukannya, selagi dia susah atau belum bisa berdiri sendiri. |