|
Tafsir Pantun Minang (6) : Pantun Marantau |
|
|
|
|
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati
|
|
Friday, 11 August 2006 |
|
Page 14 of 14 Sikabau jo Sarilamak,
Painan jo Taluak Kabuang. Artinya : Sikabau dengan Sarilamak, Painan dengan Teluk Kabung. Dimana bumi dipijak, Disana langit dijunjung. Tafsir sampiran : Sikabau jo Sarilamak, Painan jo Taluak Kabuang. Disini disebut nama empat buah desa, dua diantaranya dikabupaten Limapuluh Kota (Sikabau dan Sarilamak) sedang yang dua lagi terletak dikabupaten Pesisir Selatan (Painan dan Teluk Kabung). Sekarang ini Teluk Kabung sudah masuk kotamadya Padang. Painan adalah kota terbesar dan ibu kota Kabupaten Pesisir Selatan. Sedangkan Sarilamak terletak dekat Payakumbuh, antara Tanjung Pati dan Harau. Tafsir isi pantun : Dimano bumi dipijak, disinan langik dijunjuang. Ini juga berisi nasehat kepada para perantau Minang , agar selalu berusaha menyesuaikan diri dengan masyarkat sedtempat, dikmana mereka berdomisili. Pernah juga diibaratkan agar jangan sampai seperti kuda dikandang sapi, seperti keberadaan seekor kuda dikandang sapi yang banyak berisi sapi, tidak menyatu dengan masyarakat setempat. Berikut adalah sebuah pantun lainnya yang isi dan maksudnya sama dengan pantun diatas: Rao-rao sasudah Panti, Bapasie jalan ka Guguak. Dimano sumua digali, disinan aie disauak. Artinya :
Rao-rao sesudah Panti, berpasir jalan ke Guguk. Dimana sumur digali, disana air disauk (ditimba).
Trackback(0)

|
|
Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
|