|
Pituah |
Nan ado samo dimakan Nan indak samo dicari Kok Jauah kana mangana Kok dakek jalang manjalang |
|
|
Sang Bangau Kohar Ibrahim Akan Kembali Dari Brussel |
|
|
|
|
Written by Admin
|
|
Friday, 18 August 2006 |
 Batam (ANTARA News) - Ada langit biru di terang cahaya dini hari. Ada ombak. Ada singa dan elang di dua bangunan berpintu terang yang terletak berdampingan, di bidang 100 x 80 cm lukisan kanvas-akrilik "Singelang" karya Abe Kohar Ibrahim. "Singapura dan Indonesia saya buat berdampingan tidak berhadap-hadapan. Kedua negeri, di permukaan saja dipisahkan oleh laut, tetapi 'daratan' di kedalaman laut, saling bersambung juga," kata Abe, mengenai "Singelang".
Karya itu kontekstual. Terutama, karena sejak 25 Juni 2006, Pemerintah Indonesia dan Singapura bekerjasama mengembangkan perekonomian dalam bingkai Kawasan Ekonomi Khusus Indonesia (KEKI) Batam, Bintan dan Karimun, di Provinsi Kepulauan Riau, wilayah Indonesia yang bertetangga paling dekat dengan Singapura. Lukisannya dibuat beberapa waktu lalu di Brussels, Belgia. Kohar, kelahiran Jakarta 16 Juni 1942, menetap di kota itu sejak 1972. Ia mencapai negeri makmur itu dengan keretaapi Trans-Siberia setelah sejak 27 September 1965 sebagai anggota perutusan Lembaga Sastra Indonesia meninggalkan Indonesia untuk menghadiri perayaan berdirinya Republik Rakyat China, 1 Oktober. Namun, namun situasi politik setelah itu, belum memungkinnya kembali ke Tanah Air dan menetap di Eropa Barat. Kohar membubuhkan nama Abe pada setiap karya lukisnya. Selaku profesional, namanya tercantum dalam Ensiklopedia "Who's who in Europe Art", edisi 1987-1996 Lousanne Swiss; dan "Dictionnaire Biographique Europeen", edisi RH Neirynck, Brigge, 1993-1995. "Singelang" bersama 28 karya Abe ditampilkan dalam pameran tunggal di Novotel, Batam, Minggu-Senin, 30-31 Juli 2006. Karya abstrak dan nonabstrak Abe di Novotel Batam berkisar mata, tubuh manusia, hutan, Matahari, singa, elang, naga dan Cahaya. Di bagian lain, ketika duduk di antara lukisan yang sedang dipamerkan, Minggu (30/7) malam dan harus bersitirahat menjelang bertolak ke Brusel, ia bergumam, "(Saya ini) ibarat setinggi-tingginya terbang bangau, jatuhnya ke pelimbahan juga." Ia menjadi "bangau". Setelah 41 tahun menetap di luar negeri dan berkewarganegaraan Belgia. Ia kini berencana pulang, kembali menetap di Indonesia. Mengenai kotanya di mana, ia belum memutuskan kecuali menyatakan, "Insya Allah di Indonesia." Akan tetapi, di hampir ujung percakapan, ia menyatakan, condong akan di Batam atau Provinsi Kepri. Alasannya? Ia menyambung, "Saya, 10 Juli 2006 di Sumedang, Jawa Barat, menikahi Lisya Anggraini.Lisya, menetap di Batam. Syukurannya tadi juga di Batam," kata sang bangau. Lisya dan Kohar di malam pembukaan pameran tunggal lukisan Abe a Kohar Ibrahim, juga meluncurkan buku kumpulan esai bersama, bertajuk "Kepri Pulau Cinta Kasih", terbitan Yayasan Titik Cahaya Elka. Hanya dua hari pameran itu. Tetapi, bagi Abe bermakna sangat khusus. Lisya, perempuan kelahiran Dumai, Riau, mantan jurnalis dan sekarang tetap menulis esai di samping menjadi Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Kepri. Lisya tak sekedar berhasil "memanggilnya" pulang dan mengunjungi Kota Tanjungpinang dan situs peninggalan Raja Ali Haji di Pulau Penyengat di tahun 2005, tetapi kini menjadi istrinya di usia senja. (*) Sumber :http://www.antara.co.id/seenws/?id=39063 Biodata ringkas : A.KOHAR IBRAHIM (ABE)  A. KOHAR IBRAHIM, lahir di Jakarta, 16 Juni 1942. Pernah menerima pendidikan di Akademi Bahasa dan Sastra Indonesia Multatuli di Jakarta; pernah pula mengikuti kursus menggambar yang diberikan pelukis Zaini di Balai Budaya Jakarta dan pendidikan terakhir diperoleh di Akademi Senirupa Brussel (Académie Royale des Beaux-Arts de Bruxelles), Belgia. Sebagai penulis dan jurnalis, dalam periode tahun-tahun 1950-60-an, penulis karya-karyanya disiarkan di beberapa media ibukota Jakarta, seperti Bintang Timur, Warta Bhakti, Harian Rakyat, Bintang Minggu, HR Minggu dan Zaman Baru di mana dia menjadi salah seorang anggota dewan redaksi yang dipimpin oleh Rivai Apin. Dalam zaman paska Reformasi, berkas-berkas karya tulisnya tersebar di sejumlah media massa cetak dan online. Antara lain di Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Mandiri, SwaraTv, Cybersastra. Sijori Pos, Batam Pos, Gema Mitra (Batam), Majalah Budaya 12 (Dewan Kesenian Kepri, Tanjungpinang). Tahun 1990 terbit kucerpen "Korban", Stichting I.S.D.M. Culemborg; kupuisi "Berkas Berkas Sajak Bebas" terbit 1998, Kreasi n° 37. Yang berupa kumpulan tulisan bersama, antara lain adalah: 1. "Puisi" (kumpulan puisi, Kreasi n° 11 1992); 2. "Kesempatan Yang Kesekian" (kumpulan cerpen, Kreasi n° 26 1996); 3. "Yang Tertindas Yang Melawan Tirani 1" (kumpulan puisi, Kreasi n° 28 1997); 4. "Yang Tertindas Yang Melawan Tirani 2" (kupuisi, Kreasi n° 39 1998); 5. "Di Negeri Orang" (Puisi Penyair Indonesia Eksil, edisi Amanah Lontar Jakarta 2002); 6. “Sekitar Tempuling Rida K Liamsi” (telaah kumpulan sajak), terbitan Yayasan Sagang, Pekanbaru 2004. Dengan kata pengantar dari Ajip Rosidi, Taufik Ikram Jamil dan Lisya Anggraini; 7. „Tragedi Kemanusiaan 1965-2005“. Kumpulan tulisan bersama; antologi puisin cerpen, esai dan curhat. Edisi LSP-Malka, 2005; 8. „Identitas Budaya Kepulauan Riau“. Kumpulan esei budaya bersama. Edisi Dewan Kesenian Kepri, Tanjungpinang 2005. „Kepri Pulau Cinta Kasih“, kumpulan esai bersama Lisya Anggraini, penerbit: Titik Cahaya Elka, Batam, 2006. Sejak 1972, di Belgia, aktivitas utamanya di bidang senirupa, selagi sebagai studen maupun sesudah menerima diploma akademi senirupa Brussel, sebagai pelukis perofesional maupun sebagai penanggungjawab atelier kreatif. Sebagai pelukis Kohar menandatangani kreasinya dengan nama: Abe. Menyelenggarakan pameran individual dan ikut serta di berbagai pameran bersama, nasional maupun internasional. Selain meraih sejumlah diploma penghargaan selaku pelukis, Kohar juga mendapat kehormatan berkat kreativitasnya seperti dapat disimak di sejumlah media massa, juga di beberapa kamus dan ensiklopedi seperti "Who's who in International Art", edisi 1987-1996 Lousanne Swiss; "Who's who in Europe" edisi Database Waterloo 1987; "Dictionnaire Biographique Europeen" edisi R.H. Neirynck, Brugge 1993-1995. Pada bulan Juni 2004 ikut serta dalam pameran lukisan bersama di Novotel Batam. Yang disusul dalam bulan Agustus dengan pameran berjudul “Realitas & Imajinasi” bersama pelukis Syahri, nana Banna, Tresna Suryawan di Museum Haji Widayat, Magelang. Pameran yang katalognya juga dipersiapkan oleh Ajip Rosidi itu dibuka oleh Dr Oei Hong Djien. Pameran tunggal Abstrak Non-Abstrak di Novotel Batam, 30 Juli sd 8 Agustus 2006. Biodata : Lisya Anggraini  Lisya di Bukit Tinggi Lisya Anggraini, lahir di Duri, Riau, 25 Juni 1969 dari keluarga Minangkabau : Mohammad Syam Rustam & Rasimah. Menyelesaikan pendidikan terakhir pada jurusan Hubungan Internasional, Universitas Riau. Lisya memilih karir jurnalis sejak di bangku sekolah menengah lanjutan atas (SLTA). Tepatnya, setelah memenangi lomba menulis artikel ringkat SLTA di Duri, Riau, Bengkalis. Dan langkah mula itu diteruskannya di Koran Kampus Bahana Mahasiswa, Universitas Riau. Hingga, berlanjut secara profesional di Riau Pos Pekanbaru, Sijori Pos dan Harian Batam Pos. Kreatifitas menulis, artikel, dan fiksi pada Harian Batam Pos, Sijori Pos dan Riau Pos. Penulis kolom : Catatan Perempuan (Harian Sijori Pos, Harian Batam Pos, 20002-2004) ; Impresi Tanah Air (Harian Batam Pos, Juni-Oktober 2005) ; Di Batam Ada Nagoya (Harian Batam Pos 2004-Oktober 2005). Bersama Markus Gunawan menggagas dan menjadi editor buku : Batam Problematika Multidimensial (Karya Mandiri, Batam, 2004) dan Editor buku Sekitar Tempuling Rida K Liamsi (Yayasan Sagang, 2004). Juga menulis dalam kumpulan esei bersama Identitas Budaya Kepri (Dewan Kesenian Kepri, 2005). Buku Kepri Pulau Cinta Kasih adalah kumpulan esei berdua dengan A. Kohar Ibrahim (Penerbit : Yayasan Titik Cahaya Elka, Batam, 2006). Catatan & Foto tentang Lisya-Kohar :
 Di depan Ngarai Sianok Asam di gunung garam di laut bertemu dalam belanga“, adalah peribahasa yang diucapkan oleh penyair Samson Rambah Pasir yang juga wakil dari Dewan Pariwisata dan Kebudayaan Kepri, pada peluncuran buku « Kepri Pulau Cinta Kasih » karya dua penulis Lisya Anggraini dan A. Kohar Ibrahim, yang dilengkapi dengan pembukaan pameran lukisan Abstrak Non-Abstrak karya A. Kohar Ibrahim, bertempat di lobi Novotel Batam, Minggu malam 30 Juli 2006.  Peluncuran Buku Kepri PCK  Lisya dan Kohar di Istana Pagaruyung Akan tetapi, Samson pun melengkapi penjelasannya, bahwa Lisya & Kohar bukan hanya pasangan penulis yang meluncurkan buku terbarunya itu, melainkan juga, pada pagi hari Minggu itu, telah menyelenggarakan resepsi selamat atas pernikahan mereka. Seperti nampak pada foto berbusana tradisional Minangkabau yang mereka kenakan.  Resepsi Perkawinan Foto dari jenjang pelaminan ala tradisional tersebut mengingatkan kunjungan Lisya-Kohar Juni tahun lalu ke Istana Pagaruyung. Sebagai wisatawan, mereka berkenan mengenakan pakaian kebesaran yang megah tersebut. Saling kait berkaitan, maka kedua foto tersebut pun sebagai pertanda « impian menjadi kenyataan » ? Betapa tidak ? Kohar yang berdomisili di Belgia, Uni Eropa, terbang selama kl 14 jam mengarungi kl 20.000 km datang diundang bertemu Lisya untuk pertama kalinya tahun lalu di Batam Kepri. Sebagai salah seorang puteri dari keluarga asal Minangkabau, Lisya tidak hanya membawa Kohar mengunjungi Kepri tapi juga ke Padang, Bukittinggi dan kawasan Sumatera Barat lainnya selain Pekanbaru pula. Di Bukittinggi mereka kunjungi antara lain Rumah Bung Hatta, Ngarai Sianok dan sudah tentu Jam Gadang. Perlawatan tahun lalu, mereka rencanakan menulis catatan budaya. Salah satunya berkas esei bersama yang semula disiarkan Harian Batam Pos edisi Minggu kemudian yang dijadikan buku berjudul « Kepri Pulau Cinta Kasih » itu. Sebetulnya pertemuan atau terjadinya jalinan hubungan Lisya-Kohar bukan baru terjadi setahun lalu, melainkan sejak tahun 2002. Bermula sebagai hubungan antara dua penulis. Kongkretnya Kohar pengirim sumbangan tulisan ke Sijori Pos (kemudian jadi : Batam Pos), sedangkan Lisya sebagai salah seorang dari Redaktur media massa itu. Dari hubungan kreatifitas tulis-menulis akhirnya berkembang bareng dengan hubungan bersifat privasi yang diresmikan dengan pernikahan pada 9 Juli dan 30 Juli 2006 dilangsungkan resepsi selamatannya. Even ini hanya untuk membuktikan pribahasa yang dikutip-cantum dalam buku mereka (hlm 91), bahwasanya mereka beritikad untuk : « Rentak sedegam, langkah sepijak. »
Trackback(0)
|
|
Last Updated ( Friday, 18 August 2006 )
|
|
|
Yayasan Palanta Cimbuak |
 Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko |
|
Donasi Terakhir |

| Dari | Jumlah | | Harmailis | Rp. 200.007,-- | | Ajo Duta / Mak Uncu | Rp. 1.000.000,-- | | Inyiak Jangkuang | Rp. 56.789,-- | | Dave, Melbourne | Rp. 300.000,-- | Balance Sementara
| Rp. 1.116.796,-- | |
|
Online Sekarang |
|
We have 13 guests and 16 members online |
|