Kiai Haji Hasyim Ansary adalah adalah belajar dari dia, dan kita kenal Kiai inilah pendiri NU. Kia Haji Ahmad Dahlan adalah muridnya yang mendirikan Muhammadiyah di Jokya. Haji Agus Salim yang juga keponakan dari Sech Ahmad Khatib, sebelumnya beliau
menerima didikan di negeri Belanda, dan bertingkah laku ke Barat-baratan, tapi setelah Haji Agus Salim bertugas di konsulat Jeddah, beliau belajar dengan mamaknya Sech Ahmad Khatib, disinilah terjadi perubahn yang mendasar dari H. Agus Salim sehingga beliau menjadi ulama dan panutan serta sebagai pendiri PSSI atau Partai Syarikat Islam Indonesia.
H. Sulaiman Rasuli, yang terkenal dengan julukkan "
inyiak canduan" adalah murid Sech Ahmad Khatib. Beliau adalah pendiri PERTI dan beliau pernah memimpin Konstituante dalam pemerintahan Presiden Sukarno. H. Ibrahim Musa yang di kenal dengan nama
"Inyiak Parabek" adalah murid Sech Ahmad Khatib. Banyak lagi tercatat murid-murid beliau yang lain baik di Langkat, Deli dan Johor Malaysia. Dimanapun murid beliau berada, disana semua murid jadi pembaharu dan sebagai pemimpin umat beliau jadi besar, beliau jadi termasyhur berkat ketajaman dan keluasan fikirannya, dan karena tutur bahasanya yang halus dan menawan, juga karena tulisan-tulisannya yang di tulis dalam
bahasa Arab dan juga ada yang dalam bahasa Indonesia. Saya ingin mengenal beliau lebih dekat. Dari riwayat dan sejarah yang saya baca tertulis bahwa Sech Ahmad Khatib lahir pada tahun 1860 (1276H) di Koto Gadang. Beliau berasal dari keluarga yang taat beragama dan sekaligus kuat berpegang pada adat. Ketika berusia 11 tahun beliau telah di bawa ayahnya Abdullatif belajar ke Mekkah. Pada usia sekitar 16 tahun, beliau sempat kembali ketanah air untuk beberapa bulan, kemudian pada tahun 1976 kembali lagi ke Mekkah memperdalam ajaran agama dan langsung menetap di sana.
Ketika beliau berusia 20 tahun, karena kehalusan budi bahasa dan penguasaan pengetahuan agamanya, namanya mulai di kenal di masyarakat Mekkah. Atas dasar ini, beliau diambil menantu oleh seorang saudagar Mekkah Sech Saleh Kurdi, pedagang dan penyalur kitab-kitab ke agamaan. Beliau nikah dengan Khadijah.
Sech Saleh Kurdi ini mempunyai hubungan dengan pemerintah kerajaan Arab Saudi di Mekkah. Suatu ketika Ahmad Khatib dan mertuanya di undang oleh istana untuk satu jamuan berbuka puasa berssama dengan keluarga kerajaan. Dan ketika mereka melaksanakan Shalat Magrib berjemaah, dan Syarif, raja, menjadi Imam. Dalam salah satu bacaan raja terdapat kekeliruan, dan langsung diluruskan oleh Ahmad Khatib. Setelah Shalat berjemaah selesai, raja semakin mengerti bahwa Ahmad Khatib adalah seorang pemuda yang pandai. Latar belakang inilah yang kemudian menempatkan Ahmad
Khatib ke dalam jabatan Imam dan Guru Besar di Mesjid Al-Haram, Mekkah. Jabatan seperti ini merupakan suatu prestasi keagamaan yang tinggi.
Selain memangku jabatan Imam dan Guru besar, Ahmad Khatib pun terkenal cukup produktif. Beliau menulis dalam bahasa Arab dan bahasa Melayu. Karya-karyanya ini banyak di terbitkan dengan bantuan dana dari sang mertua selaku distributor kitab-kitab keagamaan.
Walaupun Ahmad Khatib tidak sempat pulang ke Indonesia, beliau tetap seorang tokoh pembaharu di Sumatera Barat pada dekade awal abad ke 20. Pikiran-pikirannya disebar luaskan ke Tanah Air, baik melalui buku-bukunya maupun melalui mereka yang datang ke Mekah untuk beribadat haji dan kemudian menyempatkan diri belajar kepadanya. Setelah mereka kembali ke Tanah Air, mereka menjadi guru-guru di daerah asalnya masing-masing. Misalnya yang berasal dari daerah Minangkabau adalah Sech Jamil Jambek yang masih kita lihat Suraunya sekarang yaitu Surau Inyiak Jambek di dekat Pasar Bawah B.Tinggi. Haji Abdul Karim Amarullah yang kita kenal dengan Haji Rasul ialah Ayah dari Buya Hamka. Haji Abdullah Ahmad Sebagai pendiri Sekolah Adabiah dan PGAI. Haji
Sulaiman ar Rasuli di kenal dengan Julukkan Inyiak Canduang sebagai pendiri Perti. Haji Ibrahim Musa yang di kenal dengan Inyiak Parabek. Dan keponakan beliau sendiri yaitu Haji Agus Salim sebagai pendiri PSSI.
Yang berasal dari luar daerah Minangkabau diantaranya Sech Muhammad Nur sebagai Mufti Kerajaan Langkat. Sech Hasan Maksum sebagai Mufti kerajaan Deli. Sech Muhammad Saleh sebagai Mufti Kerajaan Selangor dan Sech Muhammad Zain sebagai Mufti di Binjai.
Adapun yang berasal dari Jawa tercatat Kiai Haji Hasyim Asy'ari pendiri pesantren Tebu Ireng, dan yang kemudian menjadi pemimpin NU. Kiai Haji Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiah. Selai itu beberapa ulama besar di Kalimantanpun banyak yang belajar dari beliau.
Khusus masalah-masalah yang berkembang di Minangkabau, beliau sangat terkenal menolak keras praktek-praktek tarekat Naqsyahbandiyah dan hukum waris yang bersdasarkan adat. Ulama besar yang termasuk pelopor pembaharu ini meninggal pada tahun 1916 (1334 H).
Saya teringat padanya, ketika masih sangat muda, sebagai tamu, tapi dengan sangat berani melakukan pembetulan terhadap bacaan Raja sewaktu menjadi Imam Shalat magrib. Beliau memberikan koreksi dan pembetulan adalah karena ilmu yang di milikinya dan karena ketajaman nyali nya. Dan Raja ternyata tidak marah akan koreksi Sech Ahmad Khatib, bahkan Raja menerima pembetulan itu, bahkan menanyakan prihal Ahmad Khatib, akhirnya raja tertarik dan kepada Ahmad Khatib di serahi tugas yang besar dan sangat mulia yaitu menjadi Imam di Mesjidil Haram di Ka'bah dan segaligus jadi Guru Besar disana. Karena anugerah dan kepercayaan yang tinggi itu pulalah, makanya beliau tidak pernah berpisah dengan Ka'bah, sehingga setelah kepulangannya di usia 16 tahun, beliau tidak pernah pulang lagi ke Indonesia sampai akhir hayatnya wafat di Mekkah.
Sebagai Imam dan Guru besar di Masjidil Haram, tentu sudah hampir seluruh kepala negara pernah mengikuti beliua shalat. Imam adalah pemimpin, pada hakekatnya beliau memimpin semua oramg yang ikut shalat berjemaah. Dapat kita bayangkan betapa banyak jumlah jemaah yang pernah di pimpinnya, betapa banyak kepala-kepala negara yang jadi makmumnya dan mengikutinya dengan khusuk, bayangkan saja shalat di Ka'bah, yang konon khabarnya pahalanya seribu kali lebih banyak di bandingkan dengan shalat di luar Ka'bah. Saya tidak dapat membayangkan betapa banyak pahala yang di terimanya dan betapa tinggi penghargaan yang di perolehnya disisi manusia dan di sisi Allah s.w.t. Belum lagi dari murid-muridnya yang tersebar di seantero dunia. Belum lagi dari tulisan- tulisannya yang jika di baca orang, setiap kali itu pula mengalir amalan menyusulinya.
Disimpang jalan ini saya tertekur dan tafakur sambil bersyukur membaca nama besarnya. Disinipun saya merenung, bahwa diantara murid-muridnya ada yang mendirikan Muhammadiyah dengan lambang matahari, mendirikan NU dengan lambang Bumi, dan mendiri kan PSII dengan lambang bulan dan Bintang. Serta mendirikan PERTI dengan lambang Mesjid. Andaikan semua lambang-lambang ini bisa disatukan dengan arti kita menyatukan antara Matahari, Bumi, Bulan dan Bintang, didalam sebuah Mesjid. Oh alangkah kuat dan kokohnya persatuan itu. Andaikan Sech Ahmad Khatib masih hidup. Tentu beliau dengan mudah menyatukan semua ini dengan memanggil semua murid-muridnya. Hasyim Asy'ari, Ahmad Dahlan, Agus Salim dan Sulaiman ar-Rasuli, tentu terjalinlah persatuan yang sangat kokoh diantara ummat ini. Terbangkitlah satu kesatuan umat yang sangat kuat. Tapi sayang beliau telah pergi, telah pulang ke Rahmatullah pada tahun 1916..... Yang tinggal hanya namanya, yang tingal adalah tulisan-tulisannya, yang tinggal adalah cucu-cucu dari murid-muridnya. Betapa gembiranya beliau yang sekarang di alam Barzah, kalau dapat menyaksikan semua murid-murid dan semua aliran-aliran bersatu padu dalam menyongsong kebangkitan Islam sedunia. Saya bangga dan saya bersyukur yang jadi panutan dan jadi guru bagi ulama-ulama di seluruh Indonesia adalah orang yang saya kagumi dan cintai, orang minang, orang Koto Gadang dan beliau bernama Sech Ahmad Khatib. Dari Koto Gadang inilah terpancar satu cahaya, satu sinar yang menyinari seantero Indonesia dan dunia. Dari sinilah terlahir putra yang terbaik yang mengharumkan nama Indonesia, dan darinya terlahir murid-murid yang jadi panu
tan si seluruh negeri.
Dibawah plang namanya saya tertegun dan saya tertunduk dan saya berharap agar sedikit ilmunya dapat menular kepada kita-kita ang telah di tinggalkan.
Saya sudah pernah menunaikan ibadah Haji, tapi saya rasa sangat kurang dan minim ilmu yang saya miliki. Saya rasakan perbedaan orang sekarang dengan orang dahulu. Kalau sekarang kebanyakkan orang-orang termasuk saya hanya ingin menunaikan
ibadah haji, kemudian pulang kembali ke Indonesia. Tapi orang dahulu saya lihat, mereka sengaja pergi ke Mekkah mencari guru, ingin menggali dan menimba ilmu dari guru-guru besar yang berdomisili di Mekkah, sehingga pulangnya mereka menyebarkan ajaran yang di perolehnya dari Mekkah. Lihatlah sejarah Haji Miskin pada tahun 1798 menuntut ilmu di Mekkah dan belajar disana bersama H. Adur-Rahman dari Piobang dan H. M Arif dari Sumanik. Hasyim Asy'ari, Ahmad Dahlan, Jamil Jambek, Agus Salim, Sulaiman ar-Rasuli, Ibrahim Musa. Semua mereka ke Mekkah belajar dan menggali ilmu. Dan Ilmu ini terbanyak di berikan oleh Sech Ahmad Khatib.
Keingin saya mencari beliau guru yang tercinta, tapi waktu sampai di Mekkah saya bingung dan saya tidak dapat belajar banyak dan saya tidak dapat menemui seorang guru disana. Saya hanya agak sering mendengarkan diskusi antar ulama-ulama sedunia, didepan Mesjidil Haram, yang tiap hari diadakan antara Shalat Magrib dan Shalat Isya. Tapi saya tidak mengerti dan tidak paham akan apa-apa yang di ucapkan guru-guru itu, karena semua mereka fasih berbahasa Arab, bahasa yang saya senang mendengarnya, tapi sulit saya mengerti. Kadang-kadang saya iri pada mereka yang punya waktu, bisa belajar bahasa Arab, saya banyak ketinggalan dan kekurangan.
Hari ini di sini saya seru namanya, nama besar Sech Ahmad Khatib, semoga sedikit ilmunya dapat saya
Serap dan saya amalkan .
Kepada orang tua, kepada guru yang mendidik kita, selalu diajarkan agar kita merendahkan diri, tunduk sambil memanjatkan do'
a untuknya. Di simpang jalan di koto Gadang, saya tunduk, merendahkan diri dan melafaskan do'a untuk beliau Sech Ahmad
Khatib. Untuk semua itu saya teringat akan sebuah Firman Suci Nya dalam surat Al-Israa' ayat 24 :
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah :"Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".