Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Advertisement
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Nan ado samo dimakan
Nan indak samo dicari
Kok Jauah kana mangana
Kok dakek jalang manjalang
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Tertunduk Di Simpang Jalan PDF Print E-mail
Written by Dr. H. K. Suheimi   
Tuesday, 22 August 2006
ImageDisini, di tempat ini, di sebuah simpang, di Koto Gadang, di  tempat  mobil  menunggu penumpang, di sini banyak  orang  berlalu  lalang, namanya di tengah simpang dan disini pulalah saya tertunduk  dan  terduduk, terpana menyaksikan sebuah nama,  nama  besar
yang sering saya dengar, nama besar yang mengharumkan nama  Indonesia di seantero dunia, mengharumkan ranah minang dan  khususnya mengharumkan  nama  Koto Gadang. Namanya di  abadikan  di  sebuah jalan  di  simpang, di depan mesjid yang antik,  nama  itu  telah terukir  di hati ini, ialah nama "Sech Ahmad Khatib". Siapa  yang tak  kenal  dengan nama ini, dari tangannya lah  banyak  terlahir pemimpin-peminpin  bangsa,  dari   tangannyalah  banyak   terlahir ulama-ulama  dan  pembaharu-pembaharu Islam,  baik  di  Indonesia maupun di Malaysia.
 

Kiai Haji Hasyim Ansary adalah adalah belajar dari dia,  dan  kita  kenal Kiai inilah pendiri NU. Kia Haji Ahmad Dahlan  adalah muridnya yang mendirikan Muhammadiyah di Jokya.  Haji Agus Salim yang  juga  keponakan dari Sech Ahmad Khatib,  sebelumnya  beliau  
menerima didikan di negeri Belanda, dan bertingkah laku ke Barat-baratan,  tapi setelah Haji Agus Salim bertugas di konsulat  Jeddah, beliau belajar dengan mamaknya Sech Ahmad Khatib,  disinilah terjadi perubahn yang mendasar dari H. Agus Salim sehingga  beliau menjadi  ulama dan panutan serta sebagai pendiri PSSI atau  Partai Syarikat  Islam Indonesia.
H. Sulaiman  Rasuli,  yang terkenal dengan  julukkan  "inyiak canduan"  adalah murid Sech Ahmad Khatib. Beliau  adalah  pendiri PERTI dan beliau pernah memimpin Konstituante dalam  pemerintahan Presiden  Sukarno.  H. Ibrahim  Musa yang  di  kenal  dengan  nama
"Inyiak  Parabek"  adalah murid Sech Ahmad  Khatib.  Banyak  lagi tercatat murid-murid beliau yang lain  baik di Langkat, Deli  dan Johor  Malaysia. Dimanapun murid beliau  berada,  disana  semua murid jadi pembaharu dan sebagai pemimpin umat beliau  jadi besar, beliau jadi termasyhur  berkat  ketajaman dan  keluasan fikirannya, dan karena tutur bahasanya  yang  halus dan  menawan, juga karena tulisan-tulisannya yang di tulis  dalam
bahasa Arab dan juga ada yang dalam bahasa Indonesia. Saya  ingin mengenal  beliau lebih dekat. Dari riwayat dan sejarah yang  saya  baca tertulis bahwa Sech Ahmad Khatib lahir pada tahun 1860  (1276H) di Koto Gadang. Beliau berasal dari keluarga yang taat beragama  dan  sekaligus kuat berpegang pada  adat.  Ketika  berusia 11 tahun beliau telah di bawa ayahnya Abdullatif belajar ke  Mekkah. Pada  usia  sekitar 16 tahun, beliau sempat kembali  ketanah  air untuk  beberapa bulan, kemudian pada tahun 1976 kembali  lagi  ke Mekkah  memperdalam  ajaran agama dan langsung menetap  di  sana.
Ketika beliau berusia 20 tahun, karena kehalusan budi bahasa  dan penguasaan  pengetahuan agamanya, namanya mulai di kenal  di  masyarakat  Mekkah.  Atas dasar ini, beliau  diambil  menantu  oleh seorang  saudagar Mekkah Sech Saleh Kurdi, pedagang dan  penyalur kitab-kitab ke agamaan. Beliau nikah dengan Khadijah.
Sech  Saleh Kurdi ini mempunyai hubungan  dengan  pemerintah kerajaan  Arab  Saudi di Mekkah. Suatu ketika  Ahmad  Khatib  dan mertuanya  di undang oleh istana untuk satu jamuan berbuka  puasa berssama dengan keluarga kerajaan. Dan ketika mereka melaksanakan Shalat  Magrib berjemaah, dan Syarif, raja, menjadi  Imam.  Dalam  salah  satu  bacaan  raja terdapat kekeliruan,  dan  langsung  diluruskan  oleh  Ahmad Khatib. Setelah Shalat  berjemaah  selesai, raja  semakin mengerti bahwa Ahmad Khatib adalah  seorang  pemuda yang pandai. Latar belakang inilah yang kemudian menempatkan Ahmad
Khatib  ke dalam jabatan Imam dan Guru Besar di Mesjid  Al-Haram, Mekkah.  Jabatan seperti ini merupakan suatu  prestasi  keagamaan yang tinggi.

Selain memangku jabatan Imam dan Guru besar, Ahmad Khatib pun terkenal  cukup produktif. Beliau menulis dalam bahasa  Arab  dan bahasa  Melayu.  Karya-karyanya ini banyak  di  terbitkan  dengan bantuan  dana dari sang mertua selaku distributor kitab-kitab  keagamaan.
Walaupun  Ahmad  Khatib  tidak sempat  pulang  ke  Indonesia, beliau  tetap  seorang  tokoh pembaharu di  Sumatera  Barat  pada dekade  awal  abad ke 20. Pikiran-pikirannya disebar  luaskan  ke Tanah  Air, baik melalui buku-bukunya maupun melalui mereka  yang datang  ke Mekah untuk beribadat haji dan  kemudian  menyempatkan diri  belajar  kepadanya. Setelah mereka kembali  ke  Tanah  Air, mereka menjadi guru-guru di daerah asalnya masing-masing. Misalnya yang berasal dari daerah Minangkabau adalah Sech Jamil  Jambek yang  masih kita lihat Suraunya sekarang yaitu Surau Inyiak  Jambek di  dekat Pasar Bawah B.Tinggi. Haji Abdul Karim  Amarullah  yang kita  kenal  dengan Haji Rasul ialah Ayah dari Buya  Hamka.  Haji Abdullah  Ahmad  Sebagai pendiri Sekolah Adabiah dan  PGAI.  Haji
Sulaiman ar Rasuli di kenal dengan Julukkan Inyiak Canduang sebagai pendiri Perti. Haji Ibrahim Musa yang di kenal dengan  Inyiak Parabek. Dan keponakan beliau sendiri yaitu Haji Agus Salim sebagai pendiri PSSI.

Yang  berasal dari luar daerah Minangkabau diantaranya  Sech Muhammad  Nur  sebagai Mufti Kerajaan Langkat. Sech  Hasan  Maksum  sebagai  Mufti kerajaan Deli. Sech Muhammad Saleh  sebagai  Mufti Kerajaan Selangor dan Sech Muhammad Zain sebagai Mufti di Binjai.
Adapun  yang  berasal dari Jawa tercatat  Kiai  Haji  Hasyim Asy'ari  pendiri pesantren Tebu Ireng, dan yang kemudian  menjadi pemimpin NU. Kiai Haji Ahmad Dahlan sebagai pendiri  Muhammadiah. Selai  itu  beberapa  ulama besar di  Kalimantanpun  banyak  yang belajar dari beliau.

Khusus  masalah-masalah  yang  berkembang  di   Minangkabau, beliau  sangat  terkenal  menolak  keras praktek-praktek   tarekat Naqsyahbandiyah  dan  hukum waris yang  bersdasarkan  adat.  Ulama besar  yang termasuk pelopor pembaharu ini meninggal  pada  tahun 1916 (1334 H).

Saya  teringat  padanya, ketika masih sangat  muda,  sebagai tamu,  tapi  dengan sangat berani melakukan  pembetulan  terhadap bacaan Raja sewaktu menjadi Imam Shalat magrib. Beliau memberikan koreksi  dan pembetulan adalah karena ilmu yang di milikinya  dan karena  ketajaman nyali nya. Dan Raja ternyata tidak  marah  akan koreksi  Sech Ahmad Khatib, bahkan Raja menerima pembetulan  itu, bahkan menanyakan prihal Ahmad Khatib, akhirnya raja tertarik dan kepada  Ahmad Khatib di serahi tugas yang besar dan sangat  mulia yaitu menjadi Imam di Mesjidil Haram di Ka'bah dan segaligus jadi Guru  Besar disana. Karena anugerah dan kepercayaan  yang  tinggi itu pulalah, makanya beliau tidak pernah berpisah dengan  Ka'bah, sehingga  setelah  kepulangannya di usia 16 tahun,  beliau  tidak pernah  pulang lagi ke Indonesia sampai akhir hayatnya  wafat  di Mekkah.

Sebagai  Imam dan Guru besar di Masjidil Haram, tentu  sudah hampir seluruh kepala  negara pernah mengikuti beliua shalat. Imam adalah pemimpin, pada hakekatnya beliau memimpin semua oramg yang ikut shalat berjemaah. Dapat kita bayangkan betapa banyak  jumlah jemaah  yang  pernah di pimpinnya,  betapa  banyak  kepala-kepala negara  yang  jadi  makmumnya  dan  mengikutinya  dengan  khusuk, bayangkan  saja shalat di Ka'bah, yang konon khabarnya  pahalanya seribu  kali  lebih banyak di bandingkan dengan  shalat  di  luar Ka'bah. Saya tidak dapat membayangkan betapa banyak pahala yang di terimanya dan betapa tinggi penghargaan yang di perolehnya disisi manusia  dan di sisi Allah s.w.t. Belum lagi dari  murid-muridnya yang  tersebar di seantero dunia. Belum lagi  dari  tulisan- tulisannya  yang  jika di baca orang, setiap kali itu  pula  mengalir amalan menyusulinya.
Disimpang jalan ini saya tertekur dan tafakur sambil bersyukur  membaca nama besarnya. Disinipun saya merenung,  bahwa  diantara  murid-muridnya  ada yang  mendirikan  Muhammadiyah  dengan lambang matahari, mendirikan NU dengan lambang Bumi, dan mendiri kan PSII dengan lambang bulan dan Bintang. Serta mendirikan PERTI dengan lambang Mesjid. Andaikan semua lambang-lambang ini bisa disatukan dengan arti kita menyatukan antara Matahari, Bumi,  Bulan dan Bintang, didalam sebuah Mesjid. Oh alangkah kuat dan  kokohnya persatuan  itu.  Andaikan Sech Ahmad Khatib  masih  hidup.  Tentu beliau  dengan mudah menyatukan semua ini dengan memanggil  semua murid-muridnya.  Hasyim  Asy'ari, Ahmad Dahlan,  Agus  Salim  dan Sulaiman ar-Rasuli, tentu terjalinlah persatuan yang sangat kokoh diantara ummat ini. Terbangkitlah satu kesatuan umat yang  sangat kuat. Tapi sayang beliau telah pergi, telah pulang ke Rahmatullah pada  tahun  1916..... Yang tinggal hanya  namanya,  yang  tingal adalah  tulisan-tulisannya,  yang tinggal adalah  cucu-cucu  dari murid-muridnya.  Betapa gembiranya beliau yang sekarang  di  alam Barzah,  kalau  dapat  menyaksikan semua  murid-murid  dan  semua aliran-aliran  bersatu padu dalam menyongsong  kebangkitan  Islam sedunia.  Saya  bangga dan saya bersyukur yang jadi  panutan  dan jadi guru bagi ulama-ulama di seluruh Indonesia adalah orang yang saya  kagumi  dan  cintai, orang minang, orang  Koto  Gadang  dan beliau bernama Sech Ahmad Khatib. Dari Koto Gadang inilah terpancar satu cahaya, satu sinar yang menyinari seantero Indonesia dan dunia. Dari sinilah terlahir putra yang terbaik yang mengharumkan nama Indonesia, dan darinya terlahir murid-murid yang jadi  panu
tan si seluruh negeri.

Dibawah  plang namanya saya tertegun dan saya tertunduk  dan saya berharap agar sedikit ilmunya dapat menular kepada kita-kita ang telah di tinggalkan.
Saya  sudah  pernah menunaikan ibadah Haji, tapi  saya  rasa sangat  kurang  dan  minim ilmu yang saya  miliki.  Saya  rasakan perbedaan  orang  sekarang dengan orang  dahulu.  Kalau  sekarang kebanyakkan  orang-orang  termasuk saya  hanya  ingin  menunaikan
ibadah  haji,  kemudian pulang kembali ke Indonesia.  Tapi  orang dahulu  saya lihat, mereka sengaja pergi ke Mekkah mencari  guru, ingin  menggali  dan menimba ilmu dari guru-guru besar  yang  berdomisili di Mekkah, sehingga pulangnya mereka menyebarkan  ajaran yang di perolehnya dari Mekkah. Lihatlah sejarah Haji Miskin pada tahun  1798  menuntut ilmu di Mekkah dan belajar  disana  bersama H. Adur-Rahman  dari  Piobang dan H. M Arif dari  Sumanik.  Hasyim Asy'ari,  Ahmad  Dahlan, Jamil Jambek, Agus Salim,   Sulaiman  ar-Rasuli, Ibrahim Musa. Semua mereka ke Mekkah belajar dan menggali ilmu.  Dan Ilmu ini terbanyak di berikan oleh Sech Ahmad  Khatib.
Keingin saya mencari beliau guru yang tercinta, tapi waktu sampai di  Mekkah saya bingung dan saya tidak dapat belajar  banyak  dan saya  tidak  dapat menemui seorang guru disana. Saya  hanya  agak sering  mendengarkan diskusi antar ulama-ulama  sedunia,  didepan Mesjidil Haram, yang tiap hari diadakan antara Shalat Magrib  dan Shalat  Isya. Tapi saya tidak mengerti dan tidak paham akan  apa-apa  yang  di ucapkan guru-guru itu, karena  semua  mereka  fasih berbahasa Arab, bahasa yang saya senang mendengarnya, tapi  sulit saya  mengerti.  Kadang-kadang saya iri pada  mereka  yang  punya waktu,  bisa  belajar bahasa Arab, saya  banyak  ketinggalan  dan kekurangan.

Hari  ini di sini saya seru namanya, nama besar  Sech  Ahmad Khatib,  semoga  sedikit   ilmunya  dapat  saya  Serap  dan   saya amalkan .

Kepada  orang  tua, kepada guru yang mendidik  kita,  selalu diajarkan  agar kita  merendahkan diri, tunduk sambil  memanjatkan do'a  untuknya.  Di simpang jalan di koto  Gadang,  saya  tunduk, merendahkan  diri  dan melafaskan do'a untuk  beliau  Sech  Ahmad
Khatib. Untuk semua itu saya teringat akan sebuah Firman Suci Nya dalam surat Al-Israa'  ayat 24 :
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan  dan  ucapkanlah :"Wahai Tuhanku,  kasihanilah  mereka keduanya,  sebagaimana  mereka berdua telah  mendidik  aku  waktu kecil".
 
Koto Gadang,  5 Desmber 1993
Trackback(0)
Comments (0)add comment

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
Last Updated ( Tuesday, 22 August 2006 )
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 7 guests and 14 members online
Generated in 2.14062 Seconds