Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Bursa Jual Beli
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Pituah

Adat babarih babalabeh
Baukua jo bajangko
Tungku nan tigo sajarangan
Patamo banamo alua jo patuik
Kaduo banamo anggo tanggo
Katigo banamo raso pareso
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Hoyak Tabut Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh Dr. H. K. Suheimi   
Kamis, 14 September 2006
ImageWaktu  kecil saya selalu menunggu pesta hoyak tabut,  ketika hoyak  tabut  itulah  Pariaman di datangi  oleh  banyak  manusia.
Tampaklah dua buah tabut yang di Hoyak-hoyak itu di tengah lautan manusia.  Kota  Pariaman itu biasanya lengang,  tapi  bila  musim tabut  berobah menjadi lautan manusia sangat ramai dan  berdesak-desak, sehingga sebuah lagupun di dendangkan dengan Syair :

Pariaman tadanga langang,
musim tabut makonyo rami.
Tuan kanduang tadanga sanang,
bawolah tompang badan kami

Memang  di hari-hari biasa Pariaman lengang, tapi  di  Hoyak Tabut,  dia terbangun, manusianya melimpah ruah,  berbondong-bondongan  ndak terhitung betapa banyaknya. Diwaktu kecil saya  ndak pernah  melewati kesempatan yang sebaik seperti musim tabut  itu, saya sengaja pulang kampung, saya ikut beramai-ramai  mengangkat, mengarak  dan menghoyaknya. Akan lebih bersemangat lagi kalau  di dera  dan  di bakar oleh bunyi Gandang  Tabut,  bagaikan  gendang perang, apalagi ditingkah oleh suara Tasa yang melejit-lejit  dan memekik-mekik. Terlebih-lebih kalau yang memukul Tasanya  berpen­galaman  dan pintar, dan Tasanya sudah di panas  dan  dihangatkan dengan  menyangainya  diatas kerisik daun kelapa kering  yang  di bakar, maka suasana bertambah semarak. Dan yang mengangkat  serta yang  menghoyak tabutpun seperti tak kenal lelah terbakar  semangatnya.

Dulu sebelum di Pariaman ada Listrik, maka Tabut itu  dengan leluasa dapat di arak keliling kota dan di hoyak dengan  semangat yang  tinggi sambil berteriak "Hoyak Husein-Hoyak Husein"  "Hoyak Tabuik  Hoyak"  sebetulnya bukan "Hoyak" tapi adalah  "Hayya  Hu­sein"  artinya hidup Husein. Mengingatkan kita akan  Husein  Cucu Nabi  Muhammad SAW yang terbunuh di Padang Karbala dengan  sangat menggenaskan.

Dalam  sejarah tercatat Husein terkepung , suasana  panas, dia  letih dia kehausan, sehingga membuat Husein  lengah.  Ketika itulah Ibnu Syarik tentara Yazid menebas jari dan lengan  Husein, jari  dan  tangan itupun putus tercampak. Disaat  seperti  itulah  Sinnan bin Anis menusuk dadanya dan syammar bin Ziljausab memenggal lehernya hingga putus, lalu memamerkan kepala Husein Bin  Ali  pada  ujung tombaknya. Kepala yang terputus itu di bawa  ke  kota Kuffah untuk di persembahkan kepada Gubernur Abdullah bin  Ziyad, kemudian di kirim ke Khalifah Yazid di Damascus.
Tatkala Khalifah Yazid menyaksikan kepala Husein diatas baki yang  diserahkan oleh utusan, air matanya berlinag  dan  berkata,  "Aku  tidak memerintahkan untuk membunuh Husein. Terkutuklah  kau anak  Marjanah,  seandainya  aku berada disitu,  pasti  aku  akan memberikan keampunan kepadanya

Tubuh Husein Bin Ali di makamkan di Karbala (Sekarang terle­tak di negara Irak menjadi kota suci bagi kaum syiah),  sedangkan kepalanya, atas perintah Khalifah Yazid di kuburkan dengan  penuh penghormatan  di Madinah disisi makam ibunda Fatimah dan  saudaranya Hasan bin Ali.  Peristiwa  inilah yang di coba gambarkan dalam  pesta  Tabut setiap  Tahun di Pariaman. Puncaknya ialah terjadi di hari  Asura 10  muharam. Karena di hari itulah 10 muharam tahun 61  H  Husein  terbunuh  dengan  sangat  menggenaskan di  Padang  Karbala.  Maka sebelum  pesta  puncak Tabut di angkat  bersama-sama  diarak  dan akhirnya di bawa ke pinggir pantai untuk di buang ke laut lepas Kira-kira  seminggu  sebelumnya ada acara-acara  seperti  Mengambil  tanah, menebang batang pisang dan meng harak  jari-jari.
Semua  itu  saya  ikuti sewaktu masih kecil,  ketika  tinggal  di kampung di Pariaman. Kalau hari sudah senja disaat matahari mulai tenggelam, terlihat cahayanya memantulkan warna merah darah,  dan lautpun memantulkan warna yang sama merahnya, disaat itulah Tabut di buang ke Laut lepas. Itu pulalah saat-saat yang paling  menyenangkan  bagi  kami anak-anak, berebutan mengambil  kain  beludru yang  meliliti bambu, memperebutkan bunga salapan,  tidak  peduli akan gulungan hombak dan derasnya arus serta alunan laut. Sebagai anak  Asli Pariaman saya tak pernah gentar  menghadapi  gelombang  laut  dan ombak yang berdebur. Sering kami mempermainkan  dan  di permainkan  oleh ombak. Sebagaimana nantinya akan sering di  permainkan  oleh  ombak dan gelombang  kehidupan.  Makanya  terkenal orang  Pariaman sebagai perantau yang tangguh, ada  di  mana-mana dan  tidak gentar mengharungi lautan ke hidupan walaupun jauh  di rantau orang, jauh dari kampung dan sanak famili.
Sekarang kesenangan-kesenangan seperti itu telah tak mungkin saya nikmati lagi, tapi saya ingin tahu apa sebetulnya Tabut itu.
Dalam kepustakaan saya temukan bahwa Tabut berarti peti kayu yang dilapisi  dengan  emas sebagai tempat menyompan  manuskrip  kitab Taurat yang di tulis diatas batu. Di dalam Al-Qur'an pun  terbaca kata-kata Tabut dalam rangkain ceritra Talut dan Jalut.  Disebut ­kan bahwa sebagai tanda Talut akan menjadi raja ialah  kembalinya tabut  tersebut  ke tangan Bani Israil setelah tabut  itu  hilang  diambil  oleh  musuh pada masa pemerintahan Samuel.  Nabi  mereka mengatakan kepada mereka "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja ialah kembalinya tabut kepadamu, didalamnya terdapat  ketenangan"
Surat Al Baqarah ayat 248.
Diadakannya  pesta  tabut  adalah  untuk  mengenang  kembali peristiwa  sejarah  yang sangat penting yang  terjadi  pada  hari Asura  yaitu musibah pembantaian Husein bin Ali bersama  pengikut dan keluarganya di Padang karbala oleh pasukan Yazid dari dinasti umayyah.  Peristiwa ini ternyata membawa dampak yang  amat  besar dalam  sejarah  perkembangan Islam. Disatu sisi hati  umat  Islam tersayat oleh perbuatan biadab dari pasukan Yazid dan disisi lain rasa  hormat  terhadap Husein semakin besar. Rasa haru  dan  rasa hormat  itu  akhirnya menumbuhkan hasrat  untuk  menjadikan  hari kematian Husein itu sebagai hari yang perlu di peringati, apalagi hari  itu  memang hari yang di muliakan Allah  swt  dan  RasulNya yaitu hari Asura.
Pada mulanya memperingati terbunuhnya Husein tersebut  hanya dalam  bentuk sederhana, berupa ziarah ke tempat peristiwa  berdarah  itu, tapi lama kelamaan membudaya menjadi  suatu  peringatan yang dilakukan secara besar-besaran.

Dari  hal  diatas timbulah inisiatif pemuka Islam  di  zaman  lampau  untuk  merayakan hari Asura tersebut.  Upacara  perarakan tabut  yang  yang  diiringi dengan sorakan  "hayya  Husein"  atau  "Hidup  Husein"  sudah pasti mempunyai kaitan  yang  erat  dengan peristiwa  sejarah  diatas. Oleh karena itu,  tidak  salah  kalau timbul suatu dugaan bahwa aliran Syiah pernah menjejakkan kakinya diperairan Barat Pulau Sumatera, sehingga di Bengkulupun perayaan Tabut  ini meriah. Namun kemungkinan itu belum di  teliti  dengan
Memadai.
Dari latar belakang  diatas kelihatan bahwa  tujuan  pembua­tan  dan pengarakkam tabut itu mempunyai kaitan yang erat  dengan ekspressi   rasa duka  dan rasa hormat  terhadap Husein  bin  Ali yang  meninggal  pada hari asura. Sebagai simbol dari  rasa  duka sekali  gus hormat itu dibuatlah rangkaian "bunga raksasa"   yang disebut tabut. Seperti karangan bunga yang berwarna putih pertan­da  berduka, seperti bunga kamboja yang di kampung  saya  disebut dengan  bunga  salapan. Membuang tabut ke laut  bagaikan  menabur karangan bunga sebagai ungkapan duka yang dalam.
Waktu  saya  kecil yang suka bergembira,  berteriak  bermain ombak  dan  berebutan  memperebutkan tabut yang  di  buang,  saya sangat menantikan saat-saat seperti itu ialah ketika tabut itu di buang.  Tapi  kini setelah saya beranjak dewasa,  timbul  fikiran
lain,  bukankah sesuatu yang dibuang-buang itu sia-sia dan  muba­zir? Dan Mubazirun Ikhwanul Syaitan?. Apalagi kalau yang di buang itu  dua  buah tabut besar yang biayanya bukan  main,  membuatnya membutuhkan  waktu yang lama dan biaya yang sangat  besar.  Tidak mudah membuatnya dan tak mudah pula mengumpulkan dana yang  demikian besar, hanya untuk di buang?. Apakah tidak sebaiknya,  tabut itu diarak juga ke pinggir laut, dan secara simbolis ada  sesuatu yang di buang kelaut sebagai penganti tabut. Bisa saja tabut mini yang kecil yang biasa diarak waktu minta sumbangan sebelum  Tabut besar  keluar. Atau yang di buang itu salah satu saja dari  bunga salapan  yang di potong dan dihanyutkan ke laut lepas,  sedangkan yang lain-lainnya di simpan dan di pelihara kembali, karena pesta tabut ini akan berulang setiap tahunya. Dan disaat pembuangan  ke 
laut diadakan tata cara yang baik sambil mengingatkan dan  menge­nang  sejarah Husein dan berduka atas kepergiannya.  Mungkin  ada kata-kata yang menusuk dan menggugah hati untuk mengingat kembali bahwa Islam ini pernah tercabik-cabik,  hanya oleh karena persoalan kecil dan sepele dan juga karena terjadinya salah pengertian,  dan  saling  curiga.   Kita peringati agar  peristiwa  itu  tidak  terulang  lagi. Supaya kita bersatu padu jangan sampai  terpecah.  Kita rasakan akibat terpecah menimbulkan kemunduran dan kerancuan  dalam  agama  kita. Untuk itu saya teringat  akan  sebuah  Firman
Tuhan dalam Al Qur'an dalam surat Al hujarat ayat 11:

"Hai  Orang-orang  beriman Janganlah suatu kaum  meng  olok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang di  olok-olokkan)  lebih  baik  dari mereka (Yang  meng  olok-olokan)  dan jangan pula wanita-wanita (meng olok-olok an) wanita lain  (kare­na) boleh jadi wanita (yang di olok-olokan) lebih baik dari  pada yang  mengolok-olokkan,  dan  janganlah  kamu  panggil  memanggil dengan  gelar-gelar  yang buruk.  Seburuk-buruk  panggilan  ialah  (panggilan) yang buruk sesudah (mereka) beriman dan barang  siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim"

 P a d a n g  29 Juni 1994

Komentar

Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
Silahkan login atau daftar.

Powered by AkoComment 2.0!

 
Selanjutnya >
Member Area
Radio Online Minang Pendengar: 8 dari 50 (8 Unik)
Peak: 27
Server Status: Online
Bitrate: 24 Kbps
Sedang Di putar: Lolly Asir - Bungo Basalo Duri

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Member
 Cimbuak.net | Minangkabau Community Portal Groups Online
 Anggota ( 2 ) Anggota 2
 Tamu ( 17 ) Tamu 17
  Total  19
 Angoota ( 7,356 ) Angoota  7,356


Statistik
Agg Baru  A2d
Hari Ini 11
Minggu Ini 96
Bulan Ini 410
Tahun ini 3,151
Online Sekarang
Online Sekarang
Saat ini ada 17 pengunjung dan 2 anggota yang online
User Terbaru

penyok

Terdaftar pada
2008-07-19 10:28:40

Pengunjung: 3593155