Penyelenggaraan pemakaman ini dapat belangsung cepat karena jauh sebelumnya kami telah melihat dan meramalkan bahwa ayah ini tak bisa bertahan lagi. Janjiannya.... tak akan lama lagi. Maka kami berembuk dengan anak dan kemanakan, sepakat akan mensegera¨kan pelaksaan penyelenggaraan jenazah. Maka dirundingkanlah siapa yang pantas memikul jabatan datuk berikutnya. Sehingga sewaktu jenazah sampai dikampung tak banyak mengalami rintangan, sehingga ayah tercinta dapat beristirahat dengan tenang. Kami puas orang kampungpun lega.
Beberapa kali saya menyaksikan selengkang pentang, bertengkar berkeras arang, sampai memukul meja menepuk dada dan menge¨luarkan kata-kata yang tak senonoh di dekat jenazah. Hanya karena prihal rebutan antara anak dan kemenakan dan rebutan antara kemenekan dan kemenakan. Si anak ingin orang tuanya di selenggarakan di rumah anak karena sakit senangnya di rumah anak. Anak lah yang menyelenggarakan selama almarhum sakit. Kadang-kadang waktu sakit, lama tergeletak tak banyak yang hirau. Tapi waktu meninggal semua pada berebutan dan bertengkar di depan jenazah.
Pernah kejadian si bapak berpesan meninggalkan, amanah sebelum wafat agar di kubur kelak di Tunggul hitam. Tungul hitam lebih bersih lebih terpelihara, agar anak bisa sering ziarah ke pusara dan akan dapat kiriman do'
a. Karena selama hidup si bapak sangat rukun bersama anak dan istrinya dan selama sakitpun di selenggarakan oleh anak istri. Dan doa anaklah nanti yang akan ¨
sampai. Namun setelah semua argumentasi di terangkan, pihak kemenakan tak bisa terima. Sebagai Datuk dia adalah milik kaum, milik nagari maka pusaranya pun harus di pandam pekuburan kaumnya. Pertengkaran tak putus malam itu, berakhir dengan sakit hati. Esok harinya datang rombongan anak kemenakan sebanyak 3 mobil,dengan kepala diikat kain hitam dan kain merah. Mungkin ada juga yang menyandang senjata, bagaikan mau perang. Perintah dari kampung "jemput terbawa". Dia mamak kita dia penghulu kita, dia milik kita, dalam hal ini anak dan istri tak berhak. bermacam-macam kata-kata dan mungkin juga sumpah serapah di lontarkan, bersitegang, hampir saja terjadi pertempuran.
Berulang kali saya menyaksikan kematian seorang datuk, bukannya tangis kepiluan yang terdengar, bukan memudahkan penyelenggaraan pemakaman jenazah yang jadi pembicaraan, tapi bertengkar. Tidak jarang pada hari itu putus hubungan keluarga dan sanak saudara yang selama ini telah terbina. Putus bakarek rotan, tidak akan saling menjelang. Kalau mau di himpun banyak susahnya dan banyak mudaratnya dari manfaatnya, serta bermacam-macam kejadian yang dapat saya catat.
Anak saya Ihsan berbisik di telinga saya :"Pa....Jadi Datuk hidup susah, matipun payah ya...?". Saya mengangguk membenarkan pendapat yang murni dari seorang anak yang masih jernih fikirannya. Lalu saya berfikir, kenapa kebanyakan orang tidak siap menghadapi kematian seorang datuk?, kenapa jauh sebelumnya tidak diatur di rencanakan, dimana makam pekuburan, siapa yang akan gantinya, bagaimana kedudukan harta yang di tinggalkannya?. Haruskah dalam kematian yang sangat menyedihkan, berpisah selama-lamanya dengan orang yang paling di cinta, pergi dan tak akan mungkin kembali lagi?. Lalu kita asyik mempertengkarkan hal-hal yang membebani jenazah. Padahal yang dipertengkarkan itu hanyalah hal yang sepele. Dan saling memperebutkan jenazah yang sudah tak ada apa-apanya dan sudah kaku jadi mayat?. Padahal ketika almarhum masih hidup, banyak yang tak peduli. Ketika sakit betapa ingin dia berada di tengah anak kemenakan, tidak di tengah perawat yang dianggapnya sebagai
orang lain. Dan itu tak di dapatkannya. Sewaktu sakit tak banyak yang peduli, tapi setelah mati?, seakan semua orang memperebutkan, memperebutkan apa...?, tuah...? nama....? jabatan...? atau harta peninggalan... ? entahlah, semuanya berbaur jadi satu.
Saya melamun, andaikan sedang memperebutkan mayat itu, tiba-tiba si mayat bangun dan bergerak. Barangkali semua yang hadir akan putih tapak kakinya lari ketakutan, semua akan meninggalkan yang di perebutkan tadi. Mungkin mayat itu hanya berpesan, "jangan bertengkar, jangan bebani saya dengan pertengkaran yang
tak ada gunanya jangan kalian memutus tali silaturrahim. Kenapa kamu halangi juga sya untuk segera menghadap Tuhan yang saya cintai?".
Baru-baru ini seorang teman saya, Syamsul Hadi, sewaktu menunaikan ibadah Haji, meninggal di rumah sakit di Mekkah jam 2 malam. Penyelenggaraan jenazah sangat cepat, sebelum Shalat subuh dia sudah di makamkan. Sewaktu di tanya kenapa tidak di tunggu sampai subuh?. Petugas menjawab "jangan lalaikan orang baik ini untuk menemui Tuhannya dengan segera". Bayangkan Jam 2 parak siang meninggal, jam 4 sebelum fajar menyingsing pelaksanaan pemakaman sudah selesai. Mereka mematuhi ajaran agama yang dianutnya.
Nah kita semua tahu akan akan sebuah plakat yang dikenal sebagai Piagam Bukit Marapalam "Adat bersandi syara'. Syara' ber¨ sandi kitabullah. Syara' mangato adat makai". Artinya orang beradat adalah orang yang memakaikan atau menjalankan perintah agama dalam bentuk nyata, Jadi pembawa adat dan petugas adat pada hakikatnya adalah orang-orang yang melaksanakan dakwah bilhal. Tingkah laku perbuatan dan fiilnya adalah mencerminkan agama yang di peluknya dan akan mensegerakan perintah agamanya. Lalu Agama memerintahkan segerakan menguburkan mayat yang terbujur.
Tidak jarang saya lihat kalau datuk yang meninggal, banyak pelayat yang datang, tapi mengelak sewaktu diajak melaksanakan rukun penyelenggaraan mayat. Menolak sewaktu diajak memandikan, menolak dan menghindar sewaktu mengapani, serta tidak banyak yang masuk ke Mesjid untuk menyembahyangkan. Kebanyakam mereka berdiri di luar mesjid menghota hilir mudik. Sehingga kesempatan beramal
dan berbuat sesuatu yang baik bagi jenazah terabaikan. Bahkan tidak jarang saya lihat orang sudah azan di Mesjid tapi pelayat yang datang dengan pakaian kebesaran, takut pakaiannya terjiprat air dan remoh karena duduk bersimpuh. Mereka tidak melaksanakan hal yang wajib, tapi larut oleh hal-hal yang kurang bermanfaat yang sebetulnya jauh dari ajaran agama.
Saya perhatikan lagi. Bagi orang yang menang berhasil merampok dan memboyong jenazah ke tepat kaumnya. Saya bertanya sendiri apa untungnya?, apa kemenanganya? dan untuk apa kemenangan yang seperti itu kalau akan mengorbankan hal-hal yang sangat manusiawi?. Putus tali silaturahim, menghina dan mngejek, menepuk meja, mau bertinju dan berkelahi dan kadang-kadang menghunus parang atau golok mengancam kalau tak terbawa awas!. Tidak jarang juga setelah berhasil mayat di bawa, dalam penyelenggaraannya terlihat tidak tulus, hanya mencari nama. Padahal kalau jenazah di tangan anak dan istri yang telah menjalin kasih sayang puluhan tahun agaknya sentuhan tangan waktu memandikan, ikhlasnya doa yang dipanjatkan dan khusuknya hati sewaktu menyembahyangkan akan terpancar dari wajah-wajah anak -anak tercinta.
Dilain pihak saya pernah berfikir kalau seorang datuk meninggal diluar negeri atau jauh di rantau apakah mesti juga dia berkubur di pandam perkuburan?. Atau kalau di kampung anak tak ada kemenakanpun jauh, rumah di kampung pun sudah reot, sehingga kalau jenazah di semayamkan di rumah duka, akan mengundang bahaya. Apakah mesti juga dan di paksakan untuk harus begini dan begitu?. Agaknya adat kita bukanlah adat yang kaku, tapi adalah adat yang fleksibel dapat menyesuaikan dengan keadaan. "Dimana tanah di pijak disana langit di junjung". Saya hanya berfikir-fikir, kenapa tak di beri kelonggaran dan alternatif. Kenapa dalam suasana duka di cemari oleh pertengkaran-pertengkaran. Kenapa harus di sulitkan, kenapa tidak di mudahkan?. Terngiang di telinga saya pesan baginda Rasul, "mudahkanlah nanti kamu akan di mudahkan".
Untuk semua itu saya teringat akan sebuah Firman Suci_Nya dalam Surat At Taubah ayat 128:
"Sesunguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin."
P a d a n g 9 Juni 1995
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
Silahkan login atau daftar.