|
Seseorang dikatakan sehat adalah apabila dia sehat fisik , sehat mental, sehat sosial dan hidup produktif serta menghasilkan. Semua makhluk hidup yang sehat selalu berproduksi, dan pertanda bahwa dia hidup, dia menghasilkan sesuatu. Perhatikanlah, setiap kali kita bangun pagi dan setiap kali kita menatap pohon kayu, apa yang iajarkannya? dan apa yang dapat kita petik dari pohon itu?. Ialah setiap pagi ada saja tunas baru dan pucuk yang baru menyembul. Artinya setiap pagi pohon itu memproduksi dan menghasilkan tunas baru. Itu pertanda dia hidup dan sehat, sehingga dia selalu menghasilkan sesuatu. Tapi begitu pada suatu pagi pohon itu tidak lagi menghasilkan tunas, maka seminggu kemudian pohon itupun akan layu, daunnya berguguran, akhirnya dia mati lalu tumbang.
Bagi pohon yang tak lagi betunas ini, dan bagi manusia yang tak produktif dan tak menghasilkan ini; pepatah minang dengan sangat halus menyindirnya. "Dari pada hidup bercermin bangkai lebih baik mati berkalang tanah". Orang yang hidup tapi tidak menghasilkan apa-apa, bagaikan bangkai, sebetulnya dia sudah mati. Hidupnya sama dengan tidak nya. Masuknya tidak menggenapkan, keluarnya tidak mengganjilkan. Adanya sama dengan tidaknya. Bak antimun bungkuk, masuk karung ada, masuk hitungan tidak. Tidak diperhitungkan karena tidak ada nilainya, tidak berarti karena tidak menghasilkan dan tidak produktif. Maka orang sehat adalah orang yang harus produktif dan menghasilkan. Orang beragama selalu mengharapkan agar manusia itu sehat walafiat. Sehat organ tubuhnya dan sehat rohaninya, sehingga rohani itu bisa terbangun dan "bangunlah jiwanya bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya" syair lagu kebangsaan kita. Ada ungkapan yang sering di ulang-ulang "Didalam tubuh yang sehat terdapat fikiran yang waras". Karena orang sehat itu harus produktif, maka dia selalu berhitung dalam setiap waktu yang di pakainya, apakah dia merugi atau beruntung. Karena orang yang rugi adalah orang yang waktunya berlalu tapi imannya tidak bertambah. Orang yang rugi adalah orang yang waktunya berlalu tapi amalnya tidak bertambah . Orang yang rugi adalah orang yang waktunya berlalu tapi kebenarannya tak bertambah. Orang yang rugi adalah orang yang waktunya berlalu tapi kesabarannya tak bertambah. Biarlah dia rugi uang, karena uang dapat di cari dan kalau hilang bisa di ganti. Tapi bila waktu yang hilang, dia akan berlalu dan tak akan mungkin di ganti. Maka dia akan meratap bila ada detik-detik waktunya berlalu tanpa arti Detik-detik waktu yang paling berharga adalah detik-detik bulan Ramadhan. Maka Allah banyak menurunkan perintah untuk bekerja di Bulan Ramadhan, karena manusia kuat dan sehat di Buan Ramadhan. Nabi di nobatkan jadi Rasul di Bula Ramdhan. Al-Qur.an di Turunkan di Bulan Ramadhan, Kota Mekah di taklukkan kembali di Bualn Ramadhan, Perang Badar terjadi di Bulan Ramdhan. Kemerdekaan indonesia di Bulan Ramadhan. Orang menjadi sehat dan produktif serta menghasilkan di bulan Ramdhan. Karena tiap detik waktunya dinilai sebagai waktu ibadah. Selesai makan Sahur mereka Shalat subuh berjemaah. "Faizza Qudiatishalah fantasyiru filardh". Apabila selesai melaksanakann shalat bertebaran di muka bumi dan cari rezki Allah, bekerja berusaha berolah raga. Anggota gerak, tangan dan kaki bila tak di gerakkan, maka tubuh menafsirkannya sebagai anggota gerak yang tak di perlukan. Karena tak di perlukan darah akan megambil Calsium yang terdapat di tulang untuk di metabolisme dan di buang melalui kencing. Akibatnya tulang akan kekurangan Calsium, lalu menjadi keropos, rapuh dan mudah patah. Sebelum tampak patah yang sebenarnya, sebetulnya di dalam tulang itu sendiri telah terjadi patahan kecil-kecil. Patahan inilah yang dirasakan ngilu pegal sakit pinggang dan sakit dalam tulang. Maka dianjurkan sekali, agar manusia jika ingin sehat, menggerakkan anggota geraknya, bertebaran dan bergerak di muka bumi cari rezki dari Allah. Kalau di tiap sendi dan di tiap tulang dirasakan sakit, apalah arti hidup ini. Disini sakit, disana sakit, dimana-mana sakit bukankah itu neraka dunia?. Supaya di bulan suci Ramadahan ini jangan sakit-sakitkan, perbanyaklah beramal saleh. perbanyaklah melakukan pekerjaan yang bermanfaat. Sesudah shalat subuh jangan tidur kembali, tapi berusaha dan bekerja bertebaran di muka Bumi. "Faizza Farauktafansyap waila rabbika farghrab" Apabila kamu selesai melakukan satu pekerjaan maka kerjakanlah pekerjaan yang lain. Bukannya berpangku tangan. Dengan cara demikian pahala akan menumpuk, karena pahala dapat di gapai dengan melakukan amal nyata, amal saleh yang bermanfaat buat sesama. Dengan demikian pula badan terasa sehat dan kuat dan puasa terasa bermanfaat. Pahalanya berlipat ganda sehingga dia di beri gelar pahlawan (pahlawan asal katanya pahala) Saya ngeri membaca ancaman Allah dalam Al_Qur'an pada surat al 'araf ayat 179 _" Sesungguhnya telah Kami jadikan isi nereka jahannam kebanyakkan dari Jin dan manusia Yang mempunyai hati tapi tak digunakan untuk mengerti, dan punya mata tak digunakan untuk melihat,punya telimga tapi tak digunakan untuk mendengar. Mereka bagaikan ternak, bahkan lebih sesat. Maka mereka itulah orang=orang yang lalai". Maka bagi mereka yang malas-malas, banyak tidur, merintang rintang puasa, menghabis-habisi umur. Tidak menggunak otak, mata, telinga, hati, kaki dan tangan. Didunia saja sudah dirasakannya sakitnya hidup, bagaikan neraka. Karena saya amati banyak orang yang sakit, ialah mereka yang tak menggunakan alat geraknya. Banyak duduk dan tidur, bermalas-malas. Tidak mengasah otak, tidak melatih mata dan tak mempergunakan telinga. Puasa justru membangkitkan etos kerja, sehingga tubuh menja_di sehat. Dalam tubuh yang sehat inilah di temukan otak yang waras. "Mensana in corporesano”
Trackback(0)
|