|
Tafsir Pantun Minang (7) : Pantun Alam Takambang |
|
|
|
|
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati
|
|
Monday, 09 October 2006 |
|
Page 11 of 14 Ramilah pasa Batanghari, Sabalik bapaga kawek. Randah tak dapek dilangkahi, Tinggi tak dapek kito panjek.
Artinya :
Ramailah pasar Batanghari, Kelilingnya berpagar kawat. Rendah tak dapat dilangkahi, Tinggi tak dapat kita panjat.
Tafsir sampiran : Ramilah pasa Batanghari, sabalik bapaga kawek. Batanghari yang sekarang ini termasuk pada daerah Jambi, dulu mungkin termasuk Minagkabau, seperti halnya daerah Kampar yang sekarang termasuk Riau. Dalam sampiran pantun ini dikatakan bahwa Batanghari itu pasarnya ramai dan sekeliling pasar itu dipagar kawat.
Tafsir isi pantun : Randah tak dapek dilangkahi, tinggi tak dapek kito panjek. Biasanya yang rendah itu dengan mudah dapat dilangkahi, dan yang tinggi itu, bagaimanapun tingginya dapat saja dipanjat. Akan tetapi ada hal-hal tertentu yang walau bagaimanapun rendahnya dapat dilangkahi saja dengan mudah. Umpamanya ada orang yang statusnya rendah, akan tetapi kita tidak boleh seenaknya saja memarahi atau memakinya, dia juga punya harga diri. Demikian juga dengan sebaliknya, apabila ada orang yang terlalu tinggi untuk kita , tak usah saja didekati atau dimintai pertolongan dan sebagainya. Secara umum pantun ini mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang tak mungkin kita jamah, karena bukan urusan kita, bukan hak kita untuk ikut-ikut terlibat, karena itu adalah urusan orang lain, jangan sampai memasuki kamar orang lain, setiap sawah itu ada pematangnya atau batasd-batasnya.
|
|
Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
|