|
Pituah |
Nak kayo kuek mancari Nak Tuah batabua urai Nak mulie tapek-i janji Nak Luruih rantangkan tali Nak namo tinggakan jaso Nak pandai kuek baraja |
|
|
Tafsir Pantun Minang (7) : Pantun Alam Takambang |
|
|
|
|
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati
|
|
Monday, 09 October 2006 |
|
Page 12 of 14 Dari Rumbai ka Mandahiliang, Sungai Rokan aienyo tanang. Manyamai banieh sakatidieng, Hasie padinyo sarangkiang.
Artinya :
Dari Rumbai ke Mandahiling, Sungai Rokan airnya tenang. Menyemai benih satu ketiding, Hasil padinya satu rangkiang.
Tafsir sampiran : Dari Rumbai ka Mandahiliang, sungai Rokan aienyo tanang. Rumbai terletak di Riau dekat Pekan Baru. Sedangkan Mandahiling adalah satu wilayah di Tapanuli Selatan dengan ibu kotanya Padang Sidempuan. Antara kedua tempat ini tidak ada hubungan langsung jalan darat ataupun jalan air. Akan tetapi kalau zaman dulu memang ada hubungan darat melalui jalan setapak atau kuda beban, dengan melintasi Bukit Barisan pulau Sumatera . Sungai Rokan adalah satu sungai yamng terbesar di Propinsi Riau, yang mengalir kepantai Timur pulau Sumatera
Tafsir isi pantun : Manyamai banieh sakatidieng, hasie padinyo sarangkiang. Ini menyangkut dengan manfaat yang akan diperoleh yang bisa berlipat ganda dari apa yang dikerjakan. Atau besarnya pahala yang akan didapat dari satu amalan kecil yang telah dikerjakan. Katidieng adalah satu takaran ukuran besar untuk menghitung hasil padi sawah, terbuat dari pada anyaman bamboo. Ukuran isi yang lebih kecil dari ketiding adalah sukat yang terbuat dari pohon bambu. Satu ketiding padi sama dengan 30 sukat dan apabila hasil sawah seseorang sudah sama atau lebih dari 33 ketiding, maka dia sudah kenan wajib zakat, kalau dibawah itu tidak. Rangkiang adalah lumbung padi yang biasa dibangun ditengah halaman rumah, lantainya ditinggikan dari tanah dan atapnya bergonjong. Mengambil dan memasukkan padi biasanya dari pintu sebelah atas, dengan menggunakan tangga. Satu rangkiang itu isi padinya banyak, bisas sampai tiga zakat. Secara harfiah pantun ini mengatakan bahwa bila disemai padi sebanyak satu ketiding maka hasilnya akan menjadi satu rangkiang penuh. Jadi padi ini daya berkelipatannya sangat tinggi. Namun yang dituju sebenarnya oleh pantun ini adalah untuk menganjurkan kita berbuat baik dalam segala hal, dengan mengumpamakan bahwa berbuat baik itu sama dengan menanam sedikit benih, nanti hasilnya akan berlipat ganda. Katakanlah misalny perbuatan baik yang paling kecil yang sangat mudah dilakukan seperti melempar sesunggung senyuman kepada oarng yang kita jumpai, walaupun orang itu tidak dikenal sama sekali, akibat baiknya dan pahalanya amat besar. Memberi sedikit uang untuk o0rang miskin yang sangat membutuhkannya, atau berinfak ala kadarnya kepada panitia pembangunan masjid dan sebagainya, dampaknya bisa berlipat ganda. Demikian juga halnya dengan memberi nasehat atau petunjuk atau ajaran, walaupun hanya dengan beberapa patah kata, akan tetapi maknanya dapat besar sekali.
|
|
Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
|
|
|
Yayasan Palanta Cimbuak |
 Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko |
|
Donasi Terakhir |

| Dari | Jumlah | | Harmailis | Rp. 200.007,-- | | Ajo Duta / Mak Uncu | Rp. 1.000.000,-- | | Inyiak Jangkuang | Rp. 56.789,-- | | Dave, Melbourne | Rp. 300.000,-- | Balance Sementara
| Rp. 1.116.796,-- | |
|
Online Sekarang |
|
We have 6 guests and 13 members online |
|