Batusangkar berlantai batu,
Parak jua labuh bersilang.
Sedangkan dengan kapal tidak lalu,
Apalagi dengan rakit batang pisang.
Tafsir sampiran : Batusangka balantai batu,Parakjua labuah basilang. Batusangkar adalah kota pusat kerajaan Minangkabau dizaman dulu. Mungkin waktu itu banyak jalan-jalan ,pekarangan atau tempat-tempat umum yang dilapisi dengan batu (balantai batu). Parak Jua adalah nama sebuah tempat dan disitu terdapat labuh bersilang, yang membentuk simpang ampat, yang kalau di Jakarta dinamakan perapatan.
Tafsir isi pantun : Sadang jo kapa lai tak lalu, konon barakik batang pisang. Secara harfiah pantun ini berarti seseorang yang ingin menyeberangi sungai besar atau mau berlayar kesuatu pulau. Menurut perhitungan untuk maksud tersebut tidak akan mungkin dilakukan walaupun dengan menggunakan kapal, apalagi kalau mau menggunakan rakit batang pisang. Yang dimaksud dengan rakit batang pisang adalah beberapa buah batang pisang yang dijadikan satu hamparan dipergunakan sebagai rakit atau sampan.
Maksud utama dari pantun ini adalah memberi peringatan kepada siapapun untuk tidak mencoba-coba sesuatu yang tidak mungkin. Sebelum melaksanakan sesuatu hendaklah dipikirkan masak-masak terlebih dahulu, kemungkinan keberhasilannya. Kalau peluang untuk berhasil itu sangat kecil, lebih baik tidak dikerjakan, karena akan menghabiskan energi saja. Dalam dunia muda mudi, ini diibaratkan kepada seorang pemuda yang merindukan untuk menyunting seorang gadis cantik, pada hal dia mengetahui bahwa cinta dari seorang pemuda lain, yang jauh lebih baik dari dia telah ditolak, apalagi cinta dari dia. Maka pantun ini menasehatkan agar lebih baik dia mencari yang lain saja yang kira-kira setaraf dan peluangnya besar.