|
Pituah |
Cawang di langik tando ka lapeh Ingek di rantiang ka manyucuak Tahu di dahan ka maimpok Tahu di unak kamanyangkuik Pandai maminteh sabalun anyuik
|
|
|
Tafsir Pantun Minang (7) : Pantun Alam Takambang |
|
|
|
|
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati
|
|
Monday, 09 October 2006 |
|
Page 3 of 14
Tarantang kawek dari Namuang, Tunggak nan limo tangah sawah. Hari paneh ribuik mandanguang, Tandonyo kasieh kabarubah,
Artinya : Terentang kawat dari Namuang, Tonggak yang lima ditengah sawah. Hari panas ribut mendengung, Tandanya kasih akan berobah.
Tafsir sampiran : Tarantang kawek dari Namuang, tunggak nan limo tangah sawah. Ini adalah merupakan satu pemandangan alam didesa Palimbatan, dekat Palupuh, kira-kira 25 Km dari Bukittinggi arah ke Medan. Didesa ini terdapat hamparan sawah yang cukup luas, sekitar 100 Ha. Tiga perempat bagian pinggiran sawah itu dilingkari oleh jalan raya dan perkampungan, sisanya bukit. Dari ujung sebelah sebelah Barat (Namuang) sampai ujung Timur, sawah tersebut dibelah oleh bentangan kawat telepon, yang ditopang oleh 5 buah tonggak ditengah sawah itu. Selanjutnya kawat itu terus ke Palupuh, melalui samping rumah orang tua saya didesa Palimbatan, yang bernama Kampung Tenggek.
Tafsir isi pantun : Hari paneh ribuik mandanguang, tandonyo kasieh kabarubah. Isi pantun inipun adalah satu kiasan yang terjadi pada alam takambang, yang maksudnya bisa dipandang dari berbagai aspek kehidupan. Hari panas ribut mendengung adalah satu fenomena alam yang jarang terjadi. Sebab biasanya apabila panas terik ditengah hari itu, tidak ada angin kencang, paling-paling angin sepoi-sepoi yang bertiup lemah. Ungkapan Minang yang tepat untuk menggambarkan kedaan waktu panas tengah hari adalah : Hari nan sadang tangah hari, Sadangnyo bunta bayang-bayang, Sadang rami urang dipasa, Sadang langang urang dikampuang, Sadang bakulik-kulik alang, Sadang litak-litak anjieng. Jadi waktu panas terik ditengah hari itu, baying-bayang badan hanya merupakan bundaran, sebab matahari persis diatas kepala, waktu itu orang sedang ramai dipasar, dan lengang dikampung, kedengaran bunyi kulik-kulik burung elang, dan anjing sedang berbaring bernafas dan istirahat karena kepanasan. Tidak ada angin kencang, yang sampai mendengung atau kedengaran bersiut-siut pada waktu itu. Jadi pantun ini menggambar satu kejadian yang luar biasa, yang jarang terjadi. Dan ini merupakan satu tanda dari Allah SWT, yang berupa pertanda akan datang satu kejadian atau berupa peringatan akan satu kesalahan atau dosa yang telah diperbuat oleh masyarakat setempat. Dalam pantun ini dikatakan: 'tandonyo kasieh kabarubah' atau tanda-tanda alam yang berupa peringatan Allah SWT menandakan akan terjadi perobahan kasih, dimana seorang atau masyarakat akan kehilangan sesuatu atau seseorang yang dikasihinya. Secara khusus petunjuk pantun ini ditujukan kepada seorang pemuda yang mungkin akan kehilangan gadis yang dicintainya, Akan tetapi secara umum dapat berarti kehilangan anak yang dicintainya meninggal dunia, rumah yang dicintai terbakar, hartanya dirampok, mobil barunya hancur tabrakan, dan sebagainya. |
|
Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
|
|
|
Yayasan Palanta Cimbuak |
 Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko |
|
Donasi Terakhir |

| Dari | Jumlah | | Harmailis | Rp. 200.007,-- | | Ajo Duta / Mak Uncu | Rp. 1.000.000,-- | | Inyiak Jangkuang | Rp. 56.789,-- | | Dave, Melbourne | Rp. 300.000,-- | Balance Sementara
| Rp. 1.116.796,-- | |
|
Online Sekarang |
|
We have 10 guests and 16 members online |
|