|
Page 6 of 14
Panakiak pisau sirauik, Ambiak galah batang lintabuang, Salodang ambiak ka nyiru. Nan satitiek jadikan lauik, Nan sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadi guru.
Artinya : Penakik pisau siraut, Ambil galah batang lintabung, Selodang jadikan nyiru. Yang setitik jadikan laut, Yang sekepal jadikan gunung, Alam terkembang jadi guru.
Tafsir sampiran : Panakiak pisau siraut,ambiak galah batang lintabuang, salodang ambiak ka nyiru. Manakik adalah melukai pohon dengan benda tajam, yang biasa dilakukan orang yang berjalan dihutan, untuk mengambil getah, atau membuat tempat berpijak untuk memanjat,bisa pula untuk mencoba kekerasan kayu dan sebagainya. Untuk itu biasanya orang akan menggunakan kampak, namun dalam pantun ini yang digunakan adalah pisau Siraut. Batang lintabuang adalah sebangsa perupuk, yang menyerupai pohon bambu kecil, memang dapat dipergunakan sebagai galah / penjolok Selodang adalah pelepah daun yang bisa didapat pada beberapa jenis pohon, dan yang dapat dijadikan nyiru adalah selodang pohon pinang.
Tafsir isi pantun: Nan satitiek jadikan lauik,nan sakapa jadikan gunuang, alam takambang jadi guru. Kalau ada air setitik, harus berusaha untuk dijadikan laut, kalau ada tanah segenggam, usahakan agar menjadi gunung dan alam terkembang beserta dengan segenap isinya dan kejadian-kejadian yang ada didalamnya, dijadikan guru. Dalam garis besarnya pantun ini memberikan nasehat kepada ummat manusia untuk selalu berhemat, kalau mempunyai suatu harta kekayaan, bagaimanapun kecilnya, hendaklah dikembangkan agar menjadi lebih banyak. Atau harta kekayaan yang sedikit itu hendaklah dimanfaatkan seeffisien mnungkin, sehingga dampaknya jauh lebih besar. Menurut berita nasehat pantun ini telah dilaksanakan dengan baik oleh bangsa Vietnam, walaupun mereka tidak mengetahui pantun ini. Setiap bantuan luar negeri untuk membangun negara itu setelah perang, telah dimanfaatkan demikian rupa sehingga dampaknya menjadi berlipat ganda. Karena bantuan atau kredit tersebut penggunaannya ditambah dengan gotong royong dan swadaya masyarakat. Beda dedngan di Indonesia yang terjadi sebaliknya, dampak dari pada bantuan atau kredit yang diperoleh lebih kecil dari pada yang seharusnya, karena disunat ditengah jalan. Demikian juga amat disayangkan sekali bahwa di Minangkabau sendiri yang memiliki pantun keramat ini, petunjuk yang terkandung didalamnya tidak diindahkan lagi. Sebagai contoh misalnya bantuan pedesaan yang pernah kita kenal ada Intensifikasi Daerah Tertinggal (IDT), ada banpress, kredit bimas, kredit pedesaan, anggaran rutin tahunan, dan sebagainya tidak sampai seluruhnya kesasaran, banyak hilang diperjalanan. Selain dari pada itu: “setitik jadikan laut, sekepal jadikan gunung”, dapat pula berarti bagaimana memanfaatkan petunjuk atau nasehat yang diterima. Petunjuk atau nasehat itu mungkin hanya berupa satu kalimat, bahkan satu perkataan saja, akan tetapi setelah dijabarkan, pengertiannya sangat luas , karena banyak hal yang terkandung didalamnya. Dalam kebudayaan Minang, petunjuk dan nasehat yang terkandung dalam pepatah petitih, dan mustika adat lainnya, serta pantun,gurindam dan sebagainya, yang hanya dalam bentuk kalimat-kalimat pendek, namun pengertiannya sangat dalam. Selanjutnya dalam berusaha untuk mewujudkan =setitik jadikan laut dan sekepal jadikan gunung= itu, dinasehatkan agar belajar kepada =alam terkembang=. Apa yang ada dan terjadi dialam ini pada dasarnya adalah pelajaran atau guru, yang harus dipedomani. Seperti dalam sampiran pantun Minang yang dapat dibaca pada buku ini , semuanya adalah berupa =alam terkembang=, yang dapat dijadikan guru. Kalau kita kaitkan ini dengan agama Islam, maka alam terkembang jadi guru itu juga sudah ada dalam syari’at agama Islam. Ayat suci Al-Qur’an yang pertama kali turun adalah “Iqrak” artinya “bacalah”, dimana Allah SWT menyuruh ummat manusia untuk membaca apa yang “tertulis” dialam raya ini, disamping ayat-ayat Allah SWT yang tertulis dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Cukup banyak ayat-ayat suci Al-Qur’an yang menyuruh kita mempergunakan akal untuk mempelajari kejadian langit dan bumi beserta apa yang ada dan terjadi didalamnya, satu diantaranya adalah: Surat Ali-Imran (3) ayat 190, yang artinya sebagai berikut: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal”. Ketentuan-ketentuan alam terkemang yang merupakan sumber dasar adat Minangkabau, yang telah dipelajari oleh nenek moyang orang Minang, dan diabadikan dalam beberapa kata petuah, pepatah, pantun dan sebagainya adalah merupakan rahmat dari Allah SWT. Dan pantun ini membuktikan lagi kebenaran dari pada ungkapan "adat basandi syarak",karena sendi-sendi adat itu memang sudah ada dalam syari’at agama Islam. Kayu pulai di Koto Alam, Batangnyo sandi basandi. Kalau pandai didalam alam, Patah tumbuah hilang baganti.
Artinya :
Kayu Pulai di Koto Alam, Batangnya sandi basandi. Kalau pandai didalam alam, Patah tumbuh hilang berganti.
Tafsir sampiran : Kayu pulai di Koto Alam, batangnyo sandi basandi. Kayu pulai adalah sebangsa pohon, yang tumbuhnya agak cepat, pohonnya tegak lurus, kayunya bewarna agak putih, namun agak lunak. Biasa juga digunakan untuk kayu bangunan,biasanya untuk papan. Dalam sampiran ini dikatakan bahwa kayu Pulai itu ada di desa Koto Alam. Di Sumatera Barat banyak desa yang namanya Koto Alam. Batangnyo sandi basandi artinya setiap pohon tumbuh sendiri –sendiri tidak dalam satu rumpun seperti bambu.
Tafsir isi pantun : Kalau pandai didalam alam, patah tumbuah hilang berganti . Maksudnya kalau kita pandai-pandai hidup didalam alam ini, pandai memanfaatkan alam secara efisient, bersahabat dengan alam , menjaga kelestarian alam, belajar kepada alam dan seterusnya, maka akibatnya adalah patah tumbuh hilang berganti. Maksudnya tidak ada yang akan sampai terkikis habis dipermukaan bumi ini. Akan selalu ada regenerasi atau pelestarian. Jadi program pelestarian alam yang baru digerakkan pada waktu akhir-akhir ini, sebenarnya telah ada petunjuknya dalam pantun Minang sejak dari zaman dulu. Nasehat dari pantun ini, ditujukan kepada alam secara keseluruhan, termasuk dunia tumbuh-tumbuhan, dunia hewan, manusia dan adat kebiasaan. Banyak sekali contoh yang dapat dikemukakan menyangkut dengan masalah ini. Berikut kita tulis satu saja, tentang kebiasaan nenek moyang kita dulu, melakukan praktek ladang berpindah. Dalam melakukan preaktek ladang berpindah, petani membabat hutan kemudian dibakar habis sampai bersih, lalu ditanami padi dan tanaman lainnya. Setelah panen padi, ladang tersebut ditinggalkan , untuk membiarkan hutan itu tumbuh kembali sampai menjadi belukar atau hutan. Walaupun nilai hutan yang baru itu tidak sepenuhnya sama dengan hutan sebelumnya, namun hutan itu sudah atau sempat berganti dengan yang baru. Dan untuk itu diperlukan waktu yang cukup lama, bisa 10 – 15 tahun. Sementara itu petani akan mencari hutan baru untuk dijadikan ladang berpindah. Praktek yang dilakukan perkebunan moderen sekarang ini, setelah hutan dibabat dan dibakar, lalu diganti dengan satu jenis tanaman perkebunan atau tanaman industri. Jadi yang tumbuh sesudah itu bukanlah hutan, akan tetapi kebun yang tidak mempunyai keragaman hayati, tidak ada lagi burung berkicau, tak ada kehidupan serangga dan binatang lainnya. Disini tidak berlaku patah tumbuh hilang berganti. Seperti yang dinasehatkan oleh pantun ini. Walaupun dalam hal ladang berpindah juga terjadi kerusakan alam, tetap tidak diperkenankan, namun lebih bersahabat dengan alam, dibanding dengan usaha perkebunan moderen. |