Tafsir Pantun Minang (7) : Pantun Alam Takambang PDF Print E-mail
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati   
Monday, 09 October 2006
Article Index
Tafsir Pantun Minang (7) : Pantun Alam Takambang
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14


Kok samo tinggi kayu dirimbo,
Kamano angin kabaputa.
Pariuak sanduak lai balago,
Kok kunun pula manusia.

Artinya : 

Kalau sama tinggi kayu dirimba,
Kemana angin akan berputar.
Periuk dan sanduk bisa berlaga,
Apalagi pula manusia.           

Tafsir sampiran :
    Kok samo tinggi kayu dirimbo, kamano angin kabaputa. Ini adalah sebuah ungkapan fenomena alam terkembang, yang sangat luas artinya dan ilmiah, yang perlu dijadikan guru. Kalau umpamanya kayu dalam hutan itu sama tinggi semuanya, sedangkan tumbuhnya biasanya rapat, maka pada daerah daun (kanopi) hutan itu tidak akan ada lagi rongga untuk bergeraknya udara. Rongga yang ada hanyalah dibagian atas kanopi dana dibagian bawah kanopi. Sedangkan perkembangan tumbuh-tumbuhan memerlukan gerakan udara diantara dedaunan  atau dalam klanopi.
    Gerakan udara itu diperlukan untuk mengatur penguapan dari permukaan daun, mengatur kelembaban dan suhu udara, mensuplay gas karbon dioksida dan transportasi gas oksigen yang terbentuk dalam proses fotosintesa. Demikian pula rongga-rongga diantara daun sangat diperlukan untuk tempat lewatnya cahaya matahari. Untuk keperluan ini Allah SWT telah mengaturnya dengan membuat kayu dihutan itu ada yang tinggi ada yang rendah, atau istilah ilmiahnya: multi layer. Hal ini selama ini belum dipertimbangkan dalam program reboisasi, pembangunan hutan industri, atau pembangunan tanaman perkebunan, yang semuanya menggunakan satu jenis tanaman yang sama , yang tentunya tingginya sama.

Tafsir isi pantun:

    Pariuak sanduak lai balago, kok kunun pulo manusia. Periuk dan sanduk (sendok nasi) adalah dua macam peralatan memasak yang selalu bekerja sama dengan rukun. Kalau periuk memasak nasi, maka sanduk mengeluarkan nasi yang sudah masak untuk dimakan. Orang tidak pernah makan langsung dari periuk. Namun teman yang kelihatan akrab ini dalam melaksanakan tugasnya sering pula berlaga (bertengkar, berkelahi). Perkelahian antara dua teman ini biasanya terjadi pada waktu nasi dalam periuk tinggal sedikit, maka waktu mengeluarkan nasi yang masih sedikit itu, sering terdengar benturan antara periuk dan sanduk. Benturan ini sering didiringi dengan bunyi yang cukup keras, sehingga kelihatan seperti berkelahi. Akan tetapi perkelahian itu hanya sekedarnya saja, tidak ada yang sampai luka, dan tidak sampai memutus hubungan.
    Gambaran =alam takambang= ini dijadikan guru untuk menerima bahwa perbedaan pendapat itu adalah lumrah, termasuk bertengkar atau berkelahi sedikit. Namun jangan sampai merusak dan jangan sampai memutus silaturrahmi. Banyak sekali contoh dalam kehidupan sehari-hari yang terkait dengan pantun ini. Pantun ini juga mennjelaskan bahwa kemampuan pengendalian emosi dari manusia lebih rendah bila dibandingkan dengan periuk dan sanduk.
 
Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
 
< Prev   Next >




Generated in 10.58910 Seconds