Apa akalnya si Gulambai,
Kain tersangkut ujung rotan.
Apa akalnya daya tupai,
Kelapa tumbuh dilautan.
Tafsir sampiran : Apo akanyo sigulambai, kain tasangkuik ujuang rotan. Satu fenomena alam yang agak berbau mistik, kebanyakan hanya berada dalam angan-angan, tapi katanya ada juga yang pernah melihatnya. Sigulambai itu dikatakan sebangsa hantu berkain putih yang terbang kemana-mana sesuka hatinya, sambil mengeluarkan suara yang menyeramkan. Satu waktu kain putihnya itu tersangkut pada duri rotan yang banyak terdapat dihutan. Dia tidak bisa dan tidak tahu bagaimana melepaskan sangkutan itu, sehingga dia sudah terikat, tidak bisa bergerak bebas lagi.
Tafsir isi pantun : Apo akanyo dayo tupai, karambie tumbuah dilautan. Berisi perumpamaan yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, ditamsilkan dengan pola kehidupan tupai dan kelapa. Kelapa adalah merupakan makanan yang sangat disukai oleh tupai, sehingga di Sumatera Barat tupai itu adalah termasuk hama utama tanaman kelapa. Kecuali di Sulawesi Utara yang juga merupakan daerah sentra produksi kelapa, tetapi tak ada tupai disana. Tupai biasa memakan buah kelapa yang sudah ada isinya, dan tempurungnya belum terlalu keras. Buah yang masih ada di pohon itu mereka lobangi dengan giginya yang memang tajam, lalu isinya dimakan. Buah tersebut biasanya tidak jadi sampai masak, lalu gugur ketanah sebelum waktunya.
Dalam pantun ini dikatakan bahwa ada seekor tupai yang mungkin sudah lapar sekali, berusaha mencari makanan. Dari jauh dia memang ada melihat kelapa yang tumbuh subur dengan buah yang banyak. Melihat pemandangan yang menggiurkan itu,rasa laparnya bertambah, dia segera ingin memakan kelapa itu. Tapi apa daya, ternyata kelapa tersebut tumbuh pada sebuah pulau dilaut, yang tidak mungkin dia capai, karena tupai tidak pandai berenang.
Ini adalah merupakan satu keinginan yang tak akan mungkin terkabul, hanya keajaiban atau mkjizat yang memungkinkan dia mendapatkan kelapa itu. Ungkapan lainnya yang sesuai dengan ini adalah : “Bak pungguk rindukan bulan”, seekor burung pugguk kecil, ingin terbang ke bulan, mana mungkin.
Ada dua hal yang dituju oleh pantun ini, pertama: Ibaratnya seorang anak muda miskin yang potongan badannyapun tidak terlalu gagah, merindukan seorang gadis canti jelita anak orang kaya, yang banyak pemuda-pemuda kaya serta ganteng yang menginginkannya. Anak muda ini ibaratnya sama dengan pungguk rindukan bulan atau tupai menginginkan buah kelapa yang tumbuh diseberang lautan. Kedua, pantun ini dapat pula merupakan ratap tangis dari rakyat Indonesia yang pada waktu itu dijajah oleh Belanda. Mereka ingin sekali untuk merdeka, membayangkan bagaimana nikmatnya dan bagaimana indahnya kemerdekaan itu. Akan tetapi apa daya, mengingat kesangguipan dan kekuatan yang ada, rasanya kemerdekaan itu adalah sesuatu yang tidak mungkin diperoleh, hanya keajaiban yang dapat mewujudkannya. Akhirnya keajaiban itu memang tiba-tiba datang juga, atas kehendak Allah SWT, Belanda diusir oleh Jepang hanya dalam beberapa hari saja. Selanjutnya Jepang diusir oleh Sekutu, dan untuk menghalangi Belanda berkuasa lagi, tidak terlalu sulit .