|
Page 14 of 14 Patang hari pulang di sawah, Manjinjieng nyiru jo tampian. Lieklah rupo jarieng lawah, Baitu kusuik paratian.
Artinya :
Petang hari pulang dari sawah, Menjinjinmg nyiru dengan tampian. Lihatlah rupa jaring laba-laba, Begitu kusutnya pikiran.
Tafsir sampiran : Patang hari pulang di sawah,menjinjieng nyiru jo tampian. Nyiru dengan tampian itu adalah sama, yaitu alat untuk membersihkan padi atau beras yang terbuat dari anyaman bamboo, biasanya dipergunakan oleh wanita. Tak ada laki-laki yang =menampi= padi atau beras. Jadi yang pulang dari sawah pada petang hari itu adalah ibu-ibu atau wanita. Pekerjaan yang dilakukannya disawah itu adalah membersihkan padi pada musim panen, sebab hanya pekerjaan itulah yang memerlukan nyiru. Caranya padi yang telah dirontokkan dari malainya (gabah kotor), dimasukkan kedalam nyiru, lalu diangkat tinggi-tinggi diatas kepala dan secara bertahap dijatuhkan kebawah. Pekerjaan itu dilakukan pada siang hari sebab memerlukan tenaga angin untuk memisahkan padi yang bernas dengan padi yang hampa. Oleh karena pekerjaan itu memerlukan tenaga angin, maka dikampung saya dinamakan : “ma-angin”.
Tafsir isi pantun: Lieklah rupo jarieng lawah, baitu kusuik paratian. Disini pikiran yang sedang kusut itu diumpamakan dengan jaringan laba-laba. Seperti diketahui bahwa jaringan atau sarang laba-laba itu memang kusut masai, tidak beraturan, ada yang lurus, ada yang melingkar, menyilang dan sebagainya. Dan untuk mengatur jaringan laba-laba itu menjadi suatu susunan yang harmonis, adalah sulit, malah tak mungkin. Jadi menjernihkan piliran yang kusutnya seperti sarang laba-laba juga tak mungkin.
---------------------------------------
Labuah sampik ka Sungai-Dareh, Sijunjuang jalan malingka. Kok ta-impik nak di ateh, Takuruang nak dilua.
Artinya :
Jalan sempit ke Sungai-Dareh, Di Sijun jung jalan melingkar. Kalau terhimpit mau diatas, Terkurung mau diluar.
Tafsir sampiran: Labuah sampik ka Sungai Dareh, Sijunjuang jalan malingka. Dizaman dulu memang jalan yang menuju Sungai Dareh dari arah Sijunjung itu sempit sekali, kalau ada mobil yang berpapasan, susah. Tapi sekarang sudah ada jalan raya lintas Sumatera, yang melewati Sungai Dareh. Sementara di Sijunjung itu memang banyak jalan berbelok-belok atau malingka (melingkar).
Tafsir isi pantun : Taimpik nak diateh, takuruang nak dilua. Secara harfiah ini adalah suatu hal yang sama sekali tidak mungkin atau mustahil. Sehingga banyak orang yang tidak mengerti maksud dari pantun ini. Pantun ini menggambarkan sifat orang Minang secara umum yang selalu ingin bebas, tak mau jadi buruh, maunya jadi manajer. Dia mau saja mengerjakan pekerjaan yang rendah, mengerjakan suatu yang berat, namun dia tidak mau dimandori, dikomandoi, dia ingin bebas melaksanakan pekerjaan itu menurut caranya sendiri, pokoknya tahu beres sajalah. Yang tidak disukai oleh orang Minang adalah : “pitaruah baunyikan, pakirim bairingkan”, silakan cari sendiri artinya.
Trackback(0)

|