Baju putih guntingan Cina,
Lapuk terletak dalam peti.
Keluh kesah enau dirimba,
Ijuk kalau tidak menjadi tali.
Tafsir sampiran : Baju putieh guntiengan Cino, lapuak talatak dalam peti. Di Minangkabau, baju putih itu sebenarnya lebih terkenal dengan baju ganieh, baju yang terbuat dari kain ganih yang warnanya putih (tak ada kain ganih yang bewarna). Potongan baju putih itu biasanya mencontoh potongan baju Cina, tampa krah, dua kantong kiri kanan pada bagian bawah, kira-kira sama dengan baju koko zaman sekarang. Dalam sampiran ini dikatakan bahwa baju putieh itu telah lapuk, karena terlalu lama terletak dalam peti, sudah lama tidak dipakai, mungkin sudah dimakan ngengat.
Tafsir isi pantun : Kaluah kasah anau dirimbo, ijuak kok indak jadi tali. Pohon enau (aren) biasanya tumbuh secara liar di hutan, belum ada yang dibudidayakan, walaupun banyak manfaat dari pohon ini untuk menusia.Batang enau bisa untuk jembatan, kulit batang yang keras untuk kayu bangunan , dari isi batangnya diambil tepung yang pada beberapa daerah menjadi makanan pokok, daunnya untuk atap rumah dan akarnya untuk obat. Dalam pantun ini disebut ijuk, berupa serabut hitam yang sangat kuat, tumbuh pada bagian luar batang. Ijuk ini bermacam-macam kegunaannya, dizaman dulu dipakai untuk atap rumah, dibuat sapu, untuk resapan air pada septick-tank, dan yang terutama sekali, yang sampai sekarang masih diperlukan adalah untuk pembuat tali. Tali ijuk adalah tali yang sangat kuat, biasa digunakan untuk mengikat ternak.Dalam pantun ini secara harfiah dikatakan bahwa pohon enau yang tumbuh liar dihutan, gelisah, menmgkhawatirka kalau-kalau ijuk yang sudah bersusah payah dihasilkannya dan merupakan produk kebanggaannya, sampai terbuang percuma saja, tidak dijadikan tali.
Tamsil dari pantun ini adalah mengibaratkan kekhawatiran seseorang, kalau-kalau apa yang telah bersusah payah dia usahakan, tidak akan sampai pada sasaran yang diharapkan. Contoh yang paling tepat sekarang ini adalah keluh kesah orang tua yang mencemaskan anaknya setelah tamat perguruan tinggi nanti tidak mendapat pekerjaan, akan menjadi pengangguran. Sedangkan dia sudah mati-matian membiayai sekolah anaknya itu dari permulaan sampai jadi sarjana. Atau bisa juga diumpamakan kepada seorang pengusaha yang menghasilkan satu jenis barang tertentu yang mengkhawatirkan apakah barang itu akan laku dipasaran nanti. Dan banyak lagi contoh lainnya.