|
I. PENDAHULUAN Dalam pencapaian hasil-hasil pembangunan secara optimal diperlukan adanya perencanaan tata ruang pada kawasan-kawasan dimana potensi sumberdaya lahan berada. Permasalahan yang ada dewasa ini adalah percepatan dan potensi sektor pembangunan ini kurang diimbangi dengan perencanaan penataan ruangnya.
Bila hal ini dibiarkan, maka kemungkinan terjadinya dampak-dampak negatif (eksternalitas) yang diakibatkan perkembangan sektor tersebut, perselisihan (konflik) dalam penggunaan ruang antara satu sektor dengan sektor lainnya, serta ketidakseimbangan (inequality) dalam perkembangan wilayah di daerah, dengan demikian, tujuan perencanaan ruang pada sektor strategis (komoditas unggulan) adalah untuk mencegah atau meminimalkan terjadinya hal-hal seperti di atas. Sektor strategis yang dimaksud disini adalah sub sektor yang memiliki potensi relatif untuk dikembangkan dan mampu memberikan kontribusi yang prospektif di masa depan.
Pembangunan Daerah dengan menggunakan pendekatan wilayah telah dilaksanakan di Sumatera Barat sejak tahun 1999/2000 dengan alokasi dana berasal dari Dana Alokasi khusus (DAK) melalui Program Pengembangan Kawasan Sentra Produksi , dimana telah ditetapkan 8 (delapan) kawasana berdasarkan SK Gubernur Sumatera Barat Nomor : 521.2-469-1991 tanggal 1 September 1999 tentang Penetapan Lokasi Kawasan Sentra Produksi di Sumatera Barat yaitu : 1. Kawasan Lunang Silaut di Kabupaten Pesisir Selatan 2. Kawasan carocok Tarusan di Kabupaten Pesisir Selatan 3. Kawasan Lembah Gumanti di Kabupaten Solok 4. Kawasan Padang Belimbing di Kabupaten Solok 5. Kawasan Tua Pejat di Kabupaten Mentawai 6. Kawasan Sitiung Koto Baru Kabupaten Sawahlunto Sijunjung 7. Kawasan Guguk Kabupaten Limapuluh Kota 8. Kawasan Koto Hiallang Kabupaten Agam
II. PENETAPAN KAWASAN AGROPOLITAN Pada tahun 2002 program pengembangan Kawasan Sentra Produksi yang merupakan cikal bakal dalam pengembangan Agropolitan , dimana untuk Sumatera Barat dialokasikan pada Kabupaten Agam. Program ini melibatkan 8 kecamatan yaitu Kecamatan Ampek angkek Canduang, Kecamatan Canduang, Kecamatan Baso, Kecamatan Tilatang Kamang, Kecamatan Kamang Magek, Kecamatan Banuhampu Sungai Pua, Kecamatan Sungai Pua dan kecamatan Ampek Koto.
Basis kegiatan terletak pada 29 Nagari, masing-masing yaitu : 1. Kecamatan Ampek Angkek Canduang :Nagari Lambah, Panampuang, Biaro Gadang, Balai Gurah 2. Kecamatan Canduang : Nagari Canduang Koto Laweh, Lasi, Bukik Batabuah 3. Kecamatan Baso : Nagari tabek Panjang, Koto Tinggi 4. Kecamatan Tilatang Kamang : Nagari Kapau, Koto Tangah, Gadut 5. Kecamatan Banuhampu Sungai Pua : Nagari Cingkariang, Ladang Laweh, Padang Lua, Pakan Sinayan, Taluak Ampek Suku, Kubang Putiah 6. Kecamatan Sungai Pua : Nagari Padang Laweh, Batu Palano, Batagak, Sariak, Sungai Pua 7. Kecamatan Ampek Koto : Guguak Tabek Sarojo, Koto Gadang, Koto Tuo 8. Kecamatan Kamang Magek : Nagari Magek, Kamang Hilir, dan Kamang Mudik
Dasar pemilihan 8 kecamatan Agam Wilayah Timur diprogramkan ke dalam kegiatan Agropolitan tahun 2003 adalah sebagai berikut : 1. Core bisnis agropolitan adalah ternak sapi yang daerah pengembangannya berada di Agam Wilayah Timur 2. Agam Timur sudah diawali dengan kegiatan gerbang nagari tahun 1998 yang komoditi adalah ternak 3. Tahun 1999 kawasan sentra produksi ternak ditetapkan olehProvinsi di nagari lambah kecamatan ampek angkek canduang.
Kawasan Agropolitan di Kabupaten Agam mempunyai berbagai bidang usaha, antara lain :
1. Peternakan Sektor peternakan terutama ternak sapi dan kerbau sudah merupakan kegiatan rutin masyarakat di Agam Timur dan kegiatan ini tersebar di 5 kemactaan yaitu Baso,Ampek Angkek, Canduang, Tilatang Kamang dan Kamang Magek. Untuk mendukung pengembangan usaha peternakan di Wilayah Agam Timur telah didirikan pos Inseminasi Buatan (IB) yaitu di Baiaro, Baso dan Tilatang Kamang, sementara pada tahun 2002 juga diaktifkan Pos Kesehatan Hewan di Koto Hilalang Kecamatan Ampek angkek Canduang yang melayani kegiatan Inseminasi Buatan Ternak Sapi di Agam Timur.
2. Tanaman Pangan Tanaman pangan yang menjadi sumber kehidupan penduduk adalah si sektor budidaya sayuran yang dipasarkan keberbagai daerah, baik untuk memenuhi permintaan pasar lokal maupun memenuhi permintaan pasar daerah tetangga seperti Riau dan Jambi.Bila ditinjau dari sisi potensi sumberdaya alam, maka luas areal yang dapat dikembangkan untuk budidaya tanaman sayuran adalah seluas 3.018 hektar, dengan rincian sebagai berikut : 1. Kecamatan Ampek angkek 309 ha 2. Kecamatan Canduang 719 ha 3. Kecamatan Baso 756 Ha 4. Kecamatan Ampek Koto 826 Ha 5. Kecamatan Banuhampu 575 Ha 6. Kecamatan Sungai Pua 861 ha
3. Kerajinan Rumah Tangga Kawasan Agam Timur merupakan kawasan industri rumah tangga yang banyak menyerap tenaga kerja dan jenis kerajinan usaha rumah tangganya bervariasi antara lain : makanan ringan (kerupuk sanjai, karak kaliang, kipang, dll), pembuatan gula merah, konveksi, serta kerajinan perak berupa aksesoris.
Dari potensi yang ada di Kawasan Agropolitan, maka Agropolitan Kabupaten Agam mempunyai kegiatan yang terpadu antara peternakan, sayuran dan agro industri, namun sebagai core bisnis ditetapkan ternak sapi.
III. PROGRAM PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT PESISIR (PEMP)
Program ini telah dilaksanakan di Sumatera Barat sejak tahun 2001 sampai sekarang , dimana rincian pengembangan kredit dana ekonomi produktif (DEP) dari pelaksanaan kegiatan adalah :
Tahun 2001 (keadaan Desember 2003) 1. Kab. Padang Pasaman Rp. 643.900.000,- jumlah KMP 4 unit, anggota 150 orang dengan target pengembalian Rp.430.784.518,- realisasi Rp.21.531.820,- atau 5,00% 2. Kab. Padang Pariaman Rp. 803.900.000,- jumlah KMP 5 unit, anggota 145 orang, target pengembalian Rp.624.466.928,- dengan realisasi Rp.64.042.784,- atau 10,26% 3. Kab.Pesisir Selatan Rp.732.750.000,- jumlah KMP 3 unit, anggota 154 orang, target pengembalian Rp.329.737.500,- dengan realisasi Rp.284.001.567,- atau 86,13% 4. Kota Padang Rp.445.400.000,- jumlah KMP 7 unit, anggota 93 orang, realisasi Rp.3.000.000,-
Tahun 2002 (keadaan Desember 2003) 1. Kab.Agam Rp.800.000.000,- jumlah KMP 11 unit, anggota 153 orang, target pengembalian Rp.477.054.670,- realisasi Rp.295.426.044,- atau 61,93% 2. Kab.Lima Puluh Kota Rp.800.000.000,- jumlah 10 unit, anggota 100 orang, taget pengembalian Rp.133.500.000,- realisasi Rp.63.320.720,- atau 47.43% 3. Kab.Pesisir Selatan Rp.1.057.720.000,- jumlah 4 unit, anggota 290 orang, target pengembalian Rp.63.132.072,- realisasi Rp.23.416.900 atau 37.09% 4. Kab.Kep.Mentawai Rp.800.000.000,- jumlah 2 unit, anggota 73 orang, taget pengembalian Rp.133.800.000,- realisasi 48.599.000,- atau 36,32%
Tahun 2003 (keadaan Desember 2003) 1. Kab.Agam Rp.866.500.000,- jumlah KMP 12 unit, anggota 156 orang , target pengembalian Rp.91.163.412,- realisasi Rp.56.986.818,- atau 62,51% 2. Kab.Padang Pariaman Rp.866.500.000,- jumlah KMP 5 unit, anggota 152 orang, target pengembalian Rp.68.125.918,- realisasi Rp.47.018.221,- atau 69,02% 3. Kab.Pessir Selatan Rp.666.500.000,- jumlah KMP 3 unit, anggota 216 orang, target pengembalian Rp.37.678.246,- realisasi Rp.8.784.375 atau 23,31% 4. Kota Padang Rp.866.500.000,- jumlah KMP 4 unit, anggota 533 orang, target pengembalian Rp.74.125.700,- realisasi Rp.73.459.600,- atau 99,10% Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |